Trubus.id— Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) penyakit kardiovaskular menyumbang kematian secara global sekitar 17,9 juta jiwa setiap tahun.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, mengungkapkan, penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat setiap tahun dengan rata-rata 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2,7 juta orang di Indonesia.
Beberapa gangguan kardiovaskular antara lain jantung koroner, gagal jantung, penyakit jantung bawaan, dan gangguan irama jantung (aritmia).
Menurut dokter dan praktisi herbal di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, dr. Prapti Utami, M.Si., aritmia merupakan kondisi denyut jantung tidak teratur yang ritmenya bisa lebih cepat atau lebih lambat daripada normal.
Penyakit kardiovaskular itu bisa disebabkan karena adanya gangguan fungsi otot jantung, kelainan katup jantung, dan penyakit jantung bawaan. Selain itu, aritmia juga bisa disebabkan oleh penyakit yang memiliki risiko tinggi mengganggu fungsi jantung seperti diabetes dan hipertensi.
Penderita kerap merasa berdebar-debar, sesak napas, dan lemas. Normalnya, jantung manusia berdenyut 60—100 kali tiap menit atau 100.000 kali per hari dan memompa sekitar 7.571 liter darah ke seluruh tubuh.
Gangguan detak jantung yang terlalu cepat (lebih dari 100 denyut/menit), lambat (kurang dari 60 denyut/menit), dan tidak beraturan (abnormal) merupakan contoh gangguan aritmia. Salah satu pilihan meredakan aritmia jantung dengan herbal seperti penelitian drh. Min Rahminiwati, M.S., Ph.D. dan rekan.
Peneliti di Jurusan Farmakologi, Program Studi Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi serta Jurusan Bedah dan Radiologi, Program Studi Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, itu meriset potensi rimpang temulawak, daun tanjung, dan daun belimbing manis sebagai antiaritmia.
Mereka juga menguji daya inhibisi ketiga herbal terhadap sistem saraf otonom dan efek terhadap agregasi platelet atau kemampuan darah untuk menggumpal. Tim peneliti melibatkan kucing sebagai hewan uji.
Min mengatakan, sekitar 15% populasi kucing menderita penyakit jantung. Ia memberikan 3 kelompok perlakuan untuk 12 kucing jantan. Kelompok I sebagai kontrol negatif (diberi akuadestilata) dan kelompok II mendapat asupan gabungan ekstrak dosis 21 mg/kg bobot badan (bb) kucing. Sementara kelompok III memperoleh gabungan ekstrak dosis 82 mg/kg bobot badan (bb) kucing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gabungan ekstrak daun tanjung, daun belimbing manis, dan rimpang temulawak pada kedua dosis memengaruhi sifat listrik jantung dengan cara menurunkan durasi aktivasi atrium/depolarisasi atrium (gelombang P) dan aktivasi ventrikel kanan dan kiri/depolarisasi ventrikel (QRS).
Kedua dosis campuran herbal itu juga meningkatkan interval durasi konduksi AV (PR) dan durasi depolarisasi dan repolarisasi ventrikel (QT) serta menurunkan detak jantung.
“Berdasarkan efek farmakologi daun tanjung, belimbing manis, dan rimpang temulawak berpotensi sebagai obat untuk mengendalikan penyakit jantung,” kata Min.
Ekstrak daun tanjung memiliki efek sebagai antioksidan, analgesik, antipiretik, diuretik, dan antihipertensi karena mengandung kuersetin atau flavonoid, sterol, turunan gula, dan tanin. Daun belimbing manis mengandung alkaloid, glikosida, fenol, tanin, dan flavonoid.
Rimpang temulawak mengandung metabolit sekunder seperti terpenoid, fenol, flavonoid, dan saponin yang berefek farmakologis sebagai antiinflamasi, antihipertensi, antihiperlipidemia, dan berperan sebagai inhibitor asetilkolinesterase.
