
Beragam pilihan ikan dan sayuran di satu ember.
Trubus — Carolus Linnaeus memberi nama Clarias untuk lele, meminjam bahasa Yunani chlaros bermakna kuat atau lincah. Para pelaku budikdamber memilih lele Clarias batrachus untuk mengisi ember. Menurut peneliti di Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Dr. Yani Hadiroseyani, lele ikan termudah untuk dibudidayakan.
Ikan anggota famili Clariidae itu tergolong kuat lantaran memiliki labirin sebagai alat pernapasan tambahan sehingga mampu hidup dalam air berlumpur. Namun, bagi Fajar Yulianto budikdamber tidak cukup hanya lele. Karyawan swasta di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memelihara delapan patin ukuran 10 cm dan 10 gurami ukuran tiga jari dalam sebuah ember bekas cat tembok kapasitas 25 liter.
Kematian nihil

Fajar menebar kedua jenis ikan itu pada awal Juni 2020. Keputusannya terbilang berani lantaran banyak pelaku budikdamber lain yang gagal. Terutama budidaya gurami yang terbilang sulit, bahkan di kolam tanah sekalipun. Belum lagi masa budidaya yang lama, hampir setahun kalau menghitung sejak pembibitan. Gurami Osphronemus goramy juga memiliki labirin tapi tetap memerlukan air bersih.
“Saya pernah membaca bahwa gurami dan patin tahan oksigen rendah, jadi penasaran dan ingin membuktikan sendiri,” ungkapnya. Fajar tidak memiliki pengalaman memelihara kedua ikan konsumsi itu. Ia baru membudidayakan lele enam pekan sebelumnya sehingga belum pernah panen. Namun, ia yakin lantaran pencetus ide budikdamber di Bandarlampung, Juli Nursandi, S.Pi, M.Si. menyatakan budikdamber bisa untuk memelihara patin dan gurami. Pilihan lain selain lele adalah gabus dan sepat.

budikdamber. (Dok. Darmasatiah)
Menurut Fajar pada awal mencoba budikdamber ada saja ikan mati setiap hari. Ia memenuhi berbagai saran dari pelaku budikdamber lain seperti penggunaan mikrob probiotik, daun pepaya, dan mengendapkan air minimal dua hari. Nyatanya setiap hari ada ikan mati. Ia lantas melihat air di kolam pemancingan dekat rumah yang hijau keruh tapi ikan justru betah hidup di dalamnya. Fajar membuat langkah radikal dengan mengambil 20 liter air pemancingan untuk mengisi tiga ember.
Langkah berikutnya ia memenuhi ember-ember bekas cat tembok itu dengan air sumur dari toren penampung.“Saya menganggap air sumur dari toren tidak memerlukan proses pengendapan lagi, dalam toren itu terjadi proses pengendapan juga” katanya. Ember pertama lantas ia isi dengan 16 lele berukuran 8—10 cm, ember kedua 25 lele ukuran 6—7 cm, sedangkan ember terakhir patin dan gurami. Ketiga ember itu tanpa aerator maupun penyaring.

Menurut Fajar yang penting adalah rutin mengecek kualitas air. Saat muncul bau, ia buru-buru menyifon atau mengganti air. Sebelum memberikan pelet, ia membibis atau membasahi—dengan larutan gula merah plus penyedap rasa (vetsin, red.) sebanyak 2 sendok makan. Larutan itu terbuat dari 0,5 kg (dua keping) gula merah, setengah sendok teh vetsin, dan 1,2 liter air. Pembibisan itu sampai pelet pakan benar-benar mengembang terisi air larutan. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari. Kadang-kadang ia menambahkan usus ayam rebus pada malam hari. Tingkat kematian ikan pun nihil. Di bibir ember, Fajar membudidayakan kangkung.
Tumbuh subur
Pelaku budikdamber lain, Darmatasiah, S.P.K.P., membudidayakan lele dalam ember sejak 2019. Tenaga pendamping desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi itu memiliki 15 ember berkapasitas masing-masing 80 liter. Salah satunya berisi 50 ikan patin.
Pelaku di Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi, itu belum pernah memanen ikan patin. “Menurut teman-teman pemeliharaan patin lebih lama jadi saat ini masih saya pantau,” katanya. Kecuali periode, tidak ada perbedaan cara pemeliharaan patin dan lele. Ia memberikan pakan berupa pelet secukupnya agar tidak merusak kualitas air. Biasanya ketika memelihara lele ia memanen bertahap sembari menyortir. Hal itu juga ia lakukan untuk pemeliharaan patin.

Bedanya pertumbuhan patin relatif seragam sehingga alumnus Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Universitas Terbuka itu menempatkan mereka di satu ember. Ibu dua anak itu memelihara patin sesuai selera orang Sumatera. “Kalau terbukti bisa untuk patin, yang melakukan budikdamber makin banyak karena ikan itu kesukaan warga Jambi dan Sumatera umumnya,” ungkapnya.
Darmatasiah sempat berniat memelihara nila. “Nila lebih rewel dan memerlukan aerator,” katanya. Sebagai pendamping desa sekaligus penyuluh pertanian, Darmatasiah menyebarkan tren budikdamber di tempatnya mengabdi, Desa Semau, Bram Itam, Kabupaten Tanjungjabung Barat. Darmatasiah juga menjadi pemengaruh di Semau yang rajin berinovasi. Ia menanam kangkung, sawi, bayam merah, seledri, daun poko, kemangi, genjer, dan bayam brasil—jenis bayam yang nikmat dilalap untuk salad.
Menurut Darmatasiah rata-rata masa tanam sayuran itu sama. Setelah sebulan, ia memanen dengan cara memotong batang. Pada panen berikutnya jauh lebih singkat. Selang 15 hari tanaman sayur itu siap panen lagi. Media tanam sayuran berupa arang dan tisu. Tanamannya subur sampai ia harus menggunakan potongan botol air minum kapasitas 1,5 liter sebagai pot tanam.
Pelaku lain budikdamber biasanya cukup menggunakan gelas bekas air minum berkapasitas 200—220 ml. Di perangkat budikdambernya, gelas itu tidak muat lagi. “Warga desa bilang rasa sayurnya lain, terasa lebih renyah,” katanya. Wajar saja di Semau sekarang banyak warga ikut melakukan budikdamber mengikuti jejaknya. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Sinta Herian Pawestri)
