
Pilih varietas durian yang adaptif di luar habitat kunci sukses mengebunkan durian secara komersial.
Trubus — Andri Mulya Purnama berhasrat menikmati kumbokarno—durian unggul lokal yang dilepas Bupati Kendal, Jawa Tengah, pada Oktober 2010. Harap mafhum, durian kumbokarno asal Kendal itu bercita rasa manis, berbuah jumbo, dan berdaging buah tebal seperti montong. Itulah sebabnya Andri Mulya menanam sekitar 20 bibit durian kumbokarno hasil perbanyakan okulasi di kebunnya pada 2011.
Lokasi kebun Andri di Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, berketinggian 360 meter di atas permukaan laut (m dpl). Padahal, berdasarkan deskripsi pelepasan varietas durian kumbokarno mampu beradaptasi di ketinggian 350—600 m dpl. Namun, 7 tahun berselang impian menikmati kumbokarno tak terwujud. Sampai kini kumbokarno tak kunjung berbuah. Pada umumnya pohon durian hasil perbanyakan okulasi berbuah perdana pada umur 5 tahun pascatanam.

Bawor dominan
Selain kumbokarno, Andri juga menanam 30 varietas durian lokal lain di kebunnya seluas 15 hektare. Varietas unggul lokal yang ternama, seperti ajimah, matahari, si hepe, sunan, otong, petruk, dan raja mabah tumbuh di kebunnya. Sayang, pertumbuhannya bervariasi. “Ada beberapa jenis yang mati, ada yang tidak mau berbuah, ada juga yang berbuah, tapi kualitas buah tidak seperti yang dideskripsikan,” ujar pemilik Sahara Durian Farm itu.

Pada 2013 Andri lalu “menyulam” atau mengganti bibit beberapa pohon yang mati dan tidak produktif dengan varietas baru yang diharapkan lebih adaptif. Salah satunya jenis bawor yang banyak dikembangkan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Varietas yang diduga merupakan jenis chanee asal Thailand itu ternyata mampu tumbuh optimal di kebun Andri. Pada umur 3,5 tahun bawor mulai berbuah. Menurut pekebun durian di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Tatang Halim, pemilihan varietas salah satu faktor yang sangat penting bila hendak berkebun durian.
“Jika ingin berkebun durian untuk tujuan komersial, pilih varietas yang sudah terbukti adaptif di luar daerah asalnya,” tutur pria yang juga pemasok buah-buahan premium itu. Varietas yang adaptif mampu menghasilkan buah dengan kualitas yang mirip dengan pohon induk di daerah asalnya. “Selama ini banyak varietas yang ditanam pekebun, kualitas buahnya berbeda dengan karakter pohon induknya. Padahal pekebun sudah mengeluarkan banyak biaya untuk merawat tanaman,” kata Tatang.

Musang king
Beberapa varietas unggul seperti musang king terbukti adaptif di luar daerah asalnya. Durian introduksi asal Malaysia itu berbuah dan berkualitas baik. Durian musang king atau D197 itu berbuah dan berkualitas baik di berbagai daerah di tanah air seperti Medan, Sumatera Utara, Serang (Banten), Kabupaten Tegal, Semarang, dan Banyumas (Jawa Tengah), Kabupaten Malang, Blitar, dan Jember (Jawa Timur), serta Bali.
Varietas durian lain yang tergolong adaptif adalah ochee alias duri hitam. Varietas asal Malaysia itu juga berbuah di beberapa daerah di Indonesia dan berkualitas baik. Contohnya di kebun milik Josia Lazuardi di Rumpin, Kabupaten Bogor, dan milik Priyanto di Pasiraji, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Lokal adaptif

Pekebun juga dapat memilih durian lokal adaptif yang dapat berbuah di luar daerah asalnya. Durian chumasi alias namlung petaling asal Kabupaten Bangkar Barat, Kepulauan Bangka Belitung, terbukti adaptif dan berbuah. Di kebun Josia di Rumpin, chumasi berbuah lebat, hingga 200 buah per pohon. Josia hanya mempertahankan 40—70 buah per pohon. Kualitas daging buah juga mirip dengan di daerah asalnya. Beberapa konsumen bahkan berpendapat kualitas lebih baik ketimbang chumasi di daerah asalnya.
Durian pelangi juga dapat menjadi pertimbangan untuk dikebunkan. Durian asal Manokwari, Papua Barat, itu juga berbuah di luar habitatnya. Salah satunya di kebun milik I Ketut Kari di Desa Ogorandu, Kecamatan Bolanolambunu, Kabupaten Parigimoutong, Sulawesi Tengah. Pelangi juga berbuah di Mojokerto, Jawa Timur, dan Kabupaten Bogor. Namun, warna dan rasa belum konsisten. Di Bogor daging buah pelangi baru sedikit bersemburat merah. (Imam Wiguna)
