Peluang menggarap bisnis air kelapa dalam kemasan sangat menguntungkan.

Trubus — Jika minuman bersoda kerap mendapat reputasi negatif lantaran tingginya kandungan gula, tidak demikian dengan air kelapa bersoda. Air kelapa bersoda itu tersaji dalam botol 120 ml produksi CV Sumber Rejeki di Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat. Pegiat kelapa di Depok, Wisnu Gardjito, hanya memanfaatkan air kelapa dan gas karbon dioksida (CO2). Ia hanya memerlukan waktu kurang dari sebulan untuk merekayasa air kelapa menjadi minuman menyegarkan.
Pada 2008, Wisnu memasarkan minuman itu ke toko-toko di tepi jalan dan bengkel serta tempat pencucian mobil. Lazimnya produk baru yang belum dikenal, banyak yang menolak. Untungnya kondisi itu hanya 2-3 pekan. Setelah itu ia justru kelabakan melayani pesanan.

Beli kelapa
Melalui aplikasi perpesanan yang mulai populer saat itu, para pemilik toko meminta pasokan. Selain dalam botol 120 ml, Wisnu juga mengemas minuman dalam tabung logam berkapasitas 19 liter. Tabung itu untuk melayani warung makan, restoran, kafe, atau katering.
Mereka tidak lagi mengemas minuman dalam botol. Mantan pegawai badan dunia untuk pembangunan industri (United Nations Industrial Development Organization, UNIDO) itu hanya menjual kepada restoran, kafe, kantin, atau katering acara. Kapasitas tabung hanya 16 liter agar ada rongga udara. Ia membeli tabung dari salah satu produsen minuman bersoda. Tentu Wisnu mengganti label tabung untuk mencegah masalah merek.

Setiap pekan ia menjual 50 tabung. Adapun harga per tabung Rp250.000 sehingga omzetnya Rp50 juta per bulan. Untuk mengisi tabung sebanyak itu, setiap pekan ia memproduksi 800 liter minuman. Menurut Manajer Produksi CV Sumber Rejeki, Alfa Marino, setiap kelapa menghasilkan 300—400 ml air. Untuk memperoleh 800 liter, mereka memerlukan 2.000—2.667 buah kelapa. Demi kualitas, Wisnu menggunakan air kelapa maksimal 3 jam pascakupas. Semula ia mengandalkan pasokan dari pengupas kelapa di pasar.
Namun, demi mengejar produksi, ia membeli kelapa bulat dan membayar pekerja khusus untuk mengolahnya. Dengan demikian, “Hanya 30 menit sejak kupas, air kelapa langsung diolah,” kata Wisnu. Wisnu menggunakan teknik khusus untuk menginjeksikan gas karbondioksida (CO2) ke dalam air kelapa agar minuman bersoda. Ia tidak menggunakan garam basa sodium karbonat (Na2CO3), salah satu bahan minuman bersoda populer. Tanpa sodium maupun gula tambahan, produksi Wisnu menjadi minuman sehat yang menyegarkan.

Masa “keemasan” itu bertahan hingga 2013 lantaran tabung logam—yang ia beli dalam kondisi bekas—habis masa pakainya dan mulai rusak. “Padahal permintaan terus bertambah,” kata Wisnu. Akhirnya produksi minuman mandek. Setelah pembenahan manajemen dan permodalan selama hampir 5 tahun, Wisnu berencana meluncurkan kembali minuman itu pada akhir 2019.
Nyaris bangkrut

sejak 2014.
Di Jakarta, alumnus Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, Kevin Angga Saputra, mengemas air kelapa dalam tampilan kekinian dengan merek Cocolicious. Memulai pada 2014 dengan modal Rp9 juta, kini omzetnya berlipat ganda. “Jumlah itu mungkin hanya belasan persen omzet saya sekarang,” ungkap sulung dari 2 bersaudara itu.
Kevin hanya memiliki 1 gerai di salah satu sentra belanja di Jakarta Selatan. Sepintas gerai itu pun tidak terlalu ramai. “Saya tidak mementingkan banyaknya pembeli. Lebih baik sedikit asal rutin membeli,” kata pria berusia 30 tahun itu. Menurutnya, 80—90% pembelinya adalah pelanggan. Pendirian itu ia peroleh dari proses mahal.
Pada 2017—2018, Kevin tergiur berekspansi. Perhitungannya meleset. Nyaris bangkrut pada 2018—dengan sisa uang hanya untuk operasional 2 bulan—ia mampu bertahan lantaran pelanggan setia. Kevin bermitra dengan sekitar 10 pengupas kelapa di beberapa pasar di Jakarta untuk mendapat pasokan air kelapa. Tanpa pengawet maupun pemanis tambahan, ia mengemas minuman kreasinya dalam gelas plastik berkapasitas 600 ml atau botol plastik transparan berkapasitas 300 ml berisi potongan nata de coco.
Menurut periset Teknologi dan Proses Pangan Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, air kelapa cocok sebagai isotonik alami lantaran mempunyai susunan mineral unik yang mirip cairan tubuh manusia. Sayang, sebagian besar air kelapa terbuang sia-sia di pasar. Hanya segelintir orang mampu menggarap peluang dari air kelapa, seperti Wisnu Gardjito atau Kevin Angga Saputra. (Argohartono Arie Raharjo)
