Sunday, January 25, 2026

Tren Rumah Tanam Pintar

Rekomendasi
- Advertisement -
Smart greenhouse seluas 3.000 m2 karya PT Agrifam Sarana Exedis Indonesia.

Otomatisasi memudahkan pekerjaan petani dan meningkatkan produktivitas kebun.

Reyhan Hadisaputra merakit sendiri smart greenhouse sejak 2018.(Dok. Trubus)

Trubus — Charlie Tjendapati rutin memeriksa kepekatan nutrisi hidroponik menggunakan EC meter setiap pagi. Tujuannya memastikan kepekatan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman. Pekerjaan itu menjadi lebih penting ketika musim hujan. Musababnya air hujan bisa mengencerkan nutrisi. Dampaknya tanaman tidak bisa menyerap unsur hara sehingga pertumbuhannya terganggu.

Pekebun hidroponik di Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, itu mesti menambahkan larutan nutrisi agar pertumbuhan tanaman optimal. Bila kepekatan nutrisi melebihi kebutuhan tanaman, Charlie menambahkan air hingga mencapai batas yang ditentukan. Namun pengecekan kepekatan nutrisi tidak ada dalam daftar pekerjaan Reyhan Hadisaputra. Bukan karena pekebun hidroponik di Kota Bogor, Jawa Barat, itu hanya menerima laporan dari peranti pintar.

Otomatis

Reyhan tidak memeriksa kepekatan nutrisi lantaran menggunakan sistem otomatisasi di dalam rumah tanamnya (greenhouse). Selain menjaga kepekatan nutrisi, sistem otomatisasi juga mengatur suhu, kelembapan relatif, cahaya, pH, dan kipas. Reyhan hanya mengetik angka pada kontrol panel untuk mengendalikan semua parameter itu. Kepekatan nutrisi diatur 1,8 mS, suhu dalam rumah tanam kurang dari 35°C, kelembapan 40—60%, dan pH 6.

Produktivitas tanaman dalam smart greenhouse meningkat 3—4 kali lipat lantaran tercipta lingkungan optimal untuk pertumbuhan tanaman. (Dok. Supri Handoyono)

Jika nutrisi kurang atau lebih dari 1,8 mS maka sistem menormalkan kepekatan nutrisi secara otomatis. Jadi ia tidak perlu mendatangi bak larutan nutrisi. “Lebih praktis dan simpel dengan otomatisasi karena kami ingin menerapkan precision farming. Kondisi saat ini belum mencapai level yang kami inginkan. Namun sudah lumayan mewah dan canggih,” kata Reyhan. Alasan lainnya Reyhan ingin mengoptimalkan tenaga kerja.

Salah satu peranti utama dalam smart greenhouse yang berfungsi mengatur dan mendistribusikan nutrisi ke tanaman.

Tanpa otomatisasi pekerjaan utama karyawan mengurusi hal teknis seperti pemeriksaan larutan nutrisi secara berkala dan memastikan suhu sesuai kebutuhan tanaman. Saat ini dua pekerja di kebun Reyhan bertugas menyemai benih, memanen, dan mengantar hasil panen. Harap mafhum pekerja kerap mengabaikan standar operasional prosedur seperti menyalakan dan mematikan kipas serta menjaga kepekatan nutrisi.

Pekebun bisa mengerjakan hal lain yang lebih penting seperti pemasaran, karena dengan otomatisasi kekhawatiran itu teratasi. Sekadar contoh untuk menjaga suhu kurang dari 35°C, Reyhan mengandalkan 2 cooling pad, 8 drum fan, dan 4 exhaust fan. Cooling pad yang terpasang di dinding rumah tanam berperan mengalirkan udara dari luar masuk ke dalam rumah tanam sehingga suhu rumah tanam turun.

Drum fan yang terpasang dalam rumah tanam berfungsi memperlancar sirkulasi udara. Sementara untuk menyedot udara panas di dalam rumah tanam dan membuangnya keluar adalah kegunaan exhaust fan. Penggunaan cooling pad relatif baru karena Reyhan memasang kedua alat itu pada Juli 2019. Meski begitu kehadiran dua cooling pad mempengaruhi suhu dalam rumah tanam. Sebelum ada cooling pad suhu dalam rumah tanam 35°C, kini sekitar 33°C.

Ketiga kipas itu menyala jika suhu dalam rumah tanam kurang dari 33°C. Ia berencana menutup semua dinding rumah tanam dengan plastik UV dan penambahan 2 cooling pad sehingga suhu bisa lebih rendah hingga 27°C. Targetnya suhu dalam rumah tanam 25°C. Jika suhu itu tercapai, “Pertumbuhan tanaman lebih cepat dan berpenampilan lebih bagus,” kata pemilik Villa Duta Farm itu. Masa budidaya pun relatif lebih singkat. Jika kelembapan rendah, sistem pengabutan menyala hingga kelembapan yang diinginkan tercapai.

Berteknologi tinggi

Reyhan meletakkan komponen pengabutan di bawah meja produksi sehingga tidak mengenai tanaman. Intinya hampir semua parameter berhidroponik bekerja otomatis. Tentu saja semua itu menghabiskan dana besar. Reyhan mesti merogoh kocek hingga Rp500 juta—Rp600 juta demi melengkapi rumah tanam dengan semua perangkat otomatis itu. Oleh sebab itulah, ia hanya memproduksi sayuran bekualitas premium.

Komoditas utama Villa Duta Farm beragam selada. Konsumen sayuran Reyhan pun hotel berbintang di Bogor dan Jakarta. Jadi ia masih mendapatkan laba berhidroponik di rumah tanam serba otomatis. Reyhan menuturkan ongkos produksi Rp14.000—Rp15.000 per kg. Harga jual terendah Rp30.000 per kg sehingga ia mengantongi profit Rp15.000 per kg.

Cooling pad membantu menurunkan suhu dalam rumah tanam. (Dok. Trubus)

Total jenderal tabungan Reyhan bertambah minimal Rp12 juta per bulan dari perniagaan 800 kg sayuran. Ia meyakini potensi pasar sayuran hidroponik premium sangat besar. Itulah salah satu alasan Reyhan membangun rumah tanam otomatis di area berketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Rumah tanam Reyhan bisa disebut smart greenhouse alias rumah tanam pintar berukuran 400 m².

Kipas dalam rumah tanam melancarkan sirkulasi udara.

Menurut dosen di Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dr. Slamet Widodo, S.TP., M.Sc., smart greenhouse tidak hanya berfungsi melindungi tanaman dari hujan dan angin. Smart greenhouse juga dapat mengamati kondisi lingkungan dan tanaman serta mengambil keputusan untuk memberikan respons yang tepat.

Hasilnya tercipta suatu kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Misal unit pengendali mengaktifkan kipas dan cooling pad untuk menurunkan suhu jika suhu dalam rumah tanam terlampau tinggi. “Oleh karena itu, smart greenhouse dilengkapi berbagai sensor untuk bisa mengetahui kondisi lingkungan. Smart greenhouse pun memiliki unit pengendali (controller) dan aktuator yang memutuskan dan menjalankan respons yang sesuai,” kata doktor alumnus Biosensing Engineering Laboratory, Kyoto University, Jepang, itu.

Pembeda smart greenhouse dengan rumah tanam terletak pada aspek kecerdasan seperti otomatisasi suhu. Bahkan pada masa depan aspek kecerdasan itu bisa makin berkembang dengan penerapan big data analysis dan kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI). Slamet menuturkan keunggulan smart greenhouse antara lain menghasilkan produk berkualitas dan berproduktivitas tinggi. Musababnya peranti itu memberikan kondisi lingkungan yang optimal bagi tanaman.

Berkembang

Input produksi juga lebih efisien lantaran bisa diberikan secara presisi sesuai kebutuhan tanaman. Kebutuhan tenaga kerja lebih sedikit karena hampir semuanya otomatis. Meski begitu biaya investasi rumah tanam pintar relatif mahal. Namun, pengembangan rumah tanam pintar cukup menjanjikan pada masa depan. Pertimbangannya yakni efisiensi biaya operasional, kualitas produk yang dihasilkan, dan pengembangan dalam skala yang pas secara ekonomi.

Paprika salah satu komoditas yang layak ditanam dalam smart greenhouse. (Dok. Trubus)

Menurut Slamet penerapan rumah tanam pintar di Indonesia mulai dilakukan dan mungkin terus berkembang. “Bahkan pengembangan sistem produksi yang lebih modern seperti indoor olant factory yang semua parameter lingkungannya dikendalikan secara penuh juga sudah mulai berkembang,” kata Slamet. Rumah tanam pintar itu juga seiring dengan revolusi pertanian yang tengah bergaung, yakni industri 4.0.

Produksi Fantastis

Salah satu bukti berkembangnya rumah tanam pintar tercermin dari data penjualan perusahaan produsen smart greenhouse, PT Agrifam Sarana Exedis Indonesia. Direktur PT Agrifam Sarana Exedis Indonesia, Yuslifar, mangatakan perusahaannya menargetkan membangun 7.500 m2 pada 2019. Sebelumnya perusahaan di Kota Bogor, Jawa Barat, itu memasang 5.000 m2 smart greenhouse pada 2018 dan 3.000 m² pada 2017.

Yuslifar, Direktur PT Agrifam Sarana Exedis Indonesia, yang berpengalaman lebih dari 25 tahun membangun rumah tanam. (Dok. Trubus)

Artinya ada peningkatan pemasangan rumah tanam pintar saban tahun. Smart greenhouse di Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, karya pertama PT Agrifam Sarana Exedis Indonesia. Smart greenhouse yang dirakit pada 2016 itu contoh kebun hidroponik komersial yang serba otomatis. Yuslifar menyarankan luas smart greenhouse skala bisnis minimal 3.000 m².

Harganya fantastis Rp4,5 miliar. Hitungan Yuslifar pekebun mendapatkan modal kembali setelah 4 tahun. Masa pakai smart greenhouse bikinan Agrifam 10—15 tahun. Itu berarti pekebun menikmati keuntungan berhidroponik selama 6—11 tahun. Yuslifar mengedepankan produktivitas tinggi ketika memasarkan rumah tanam pintar. “Hasil produksi dalam rumah tanam pintar 3—4 kali lipat dibandingkan dengan rumah tanam biasa,” kata Yuslifar.

Rumah tanam biasa hanya menghasilkan 12 kg tomat ceri/m2/tahun, sedangkan smart greenhouse memproduksi 36 kg tomat ceri /m2/tahun. Yuslifar menyarankan pekebun menanam sayuran eksklusif seperti tomat ceri, paprika, selada, melon, dan stroberi di dalam rumah tanam pintar. Ia berharap makin banyak petani yang mengandalkan rumah tanam pintar karena produktivitas tanaman meroket sehingga menguntugkan.

“Jadi, petani hanya fokus pemasaran,” kata pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, itu. Praktikus hidroponik di Kota Depok, Jawa Barat, Charlie Tjendapati pun tertarik dengan smart greenhouse karena itu bakal berkembang. Menurut Charlie otomatisasi memudahkan pekerjaan petani. Apalagi dengan smart greenhouse kegagalan menanam dan panen akibat kesalahan manusia bisa dikurangi. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img