Thursday, August 18, 2022

Tuai Longan di Tanah Masam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kualitas buah sama seperti penanaman di lahan nongambutLahan seluas empat hektar itu semula langganan banjir pada musim hujan; saat kemarau berselimut semak belukar. Mafhum lahan itu merupakan bagian dari hamparan tanah gambut nan luas di hampir seluruh wilayah Kalimantan. Data Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menunjukkan luas lahan gambut di Indonesia mencapai 10,89-juta ha. Sebanyak 5,8-juta di antaranya terdapat di Kalimantan dengan areal terluas di Kalimantan Tengah mencapai 3,01-juta ha.

Menurut Destika Cahyana SP dari Balittra, secara sederhana tanah gambut didefinisikan sebagai tanah organik berasal dari bahan organik seperti daun, ranting, kayu, semak yang melapuk dalam kondisi tergenang dalam waktu lama. Disebut lahan gambut jika ketebalannya mencapai lebih dari 50 cm. Untuk kegiatan pertanian lahan gambut memiliki faktor pembatas yaitu genangan air, kemasaman tanah, zat beracun, rendahnya kesuburan tanah, bobot isi tanah yang ringan, serta tingkat ketebalan dan kematangan gambut.

“Pot” kayu

Tingkat keasaman lahan gambut sangat tinggi dengan pH sangat rendah berkisar antara 3-4 sehingga kerap disebut lahan ekstrem. Genangan air menyebabkan akar terendam dan busuk. Sementara bobot isi tanah ringan membuat akar sulit mencengkeram sehingga tanaman gampang roboh. Dengan kondisi seperti itu berbagai tanaman sulit tumbuh di lahan gambut.

Idealnya budidaya tanaman dilakukan di lahan subur dengan keasaman netral antara 6-7 dan tidak tergenang. Pada pH netral unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) tersedia cukup di dalam tanah. Sebaliknya pada tanah asam terdapat unsur aluminium (Al), molibdenum (Mo), dan seng (Zn) yang dapat meracuni tanaman.

Nyatanya nun di Kilometer 56 Trans Kalimantan dari arah Palangkaraya menuju Kabupaten Kasongan, Kalimantan Tengah, Werdi SP menuai buah lengkeng diamond river, pingpong, jeruk manis siam, nipis, dan jambu biji. Petani pengusaha itu memiliki 12 hektar lahan, tetapi baru empat hektar yang ditanami aneka tanaman buah. Selain lengkeng, jeruk, dan jambu biji, Werdi juga menanam jambu bol, mangga, durian, serta rambutan.

Sebelum menanam aneka tanaman buah, Werdi membuat cerucuk atau semacam pot kayu berukuran 60 cm x 60 cm setinggi kira-kira 30-40 cm terbuat dari batang gelam. Ke dalamnya Werdi memasukkan 25 kg tanah merah atau tanah laterik dan diolah dengan gambut di permukaan. Selain itu ditambahkan pula 3 kg dolomit. Selanjutnya Werdi membuat parit-parit di kiri-kanan deretan cerucuk. Parit berfungsi sebagai saluran pembuangan air, terutama pada musim hujan sekaligus sebagai sumber air pengairan selama kemarau.

Setelah lahan siap, bibit aneka tanaman pun ditanam. Sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhan tanaman Werdi rutin memupuk dengan 20-30 kg NPK setiap empat bulan. Pada bulan-bulan awal penanaman tanaman tumbuh subur. Memasuki bulan ke-3 pertumbuhan tanaman mulai terlihat merana ditandai daun menguning dan pucuk tunas mengering. Saat diukur keasaman tanah hanya 4, sementara pH air gambut 3,5. Terlebih lagi lahan tergenang selama musim hujan karena parit yang tersedia tidak mampu menampung air buangan.

Beri katalis

Saat berkunjung ke kebun Werdi pada enam bulan pascatanam, penulis menyarankan penggunaan pupuk pelengkap berisi katalis tanaman untuk mengatasi pertumbuhan tanaman yang mandek. Pupuk itu bersifat alkalis alias basa sehingga mampu menetralisir keasaman tanah sekaligus sebagai sumber nutrisi tambahan. Sebanyak 40 g per pohon pupuk berbentuk bubuk itu ditaburkan ke media tanam melingkari tanaman. Selain itu pupuk berkatalis diencerkan dengan konsentrasi 2 g per liter dan disemprotkan ke seluruh bagian tanaman setiap dua minggu. Pascaperlakuan, pH tanah naik menjadi 6-6,5 sehingga ideal untuk pertumbuhan tanaman.

Empat bulan kemudian, pertumbuhan tanaman mulai membaik. Tunas baru mulai muncul, daun tumbuh menghijau. Bahkan ada sebagian tanaman jambu biji dan jeruk nipis sudah berbuah. Selanjutnya Werdi kembali memberikan 30-40 g pupuk berkatalis setiap tiga bulan pada musim kemarau. Aplikasi sebaiknya dengan cara dikocorkan ke tanah setelah pupuk berkatalis diencerkan dengan air.

Sementara saat penghujan frekuensi menjadi 2-4 minggu sekali. Ketika musim hujan air gambut kerap naik hingga mendekati batang tanaman sehingga tanaman tergenang. Akibatnya keasaman tanah kembali tinggi dengan pH hanya 4. Dosis pemupukan sama seperti pada kemarau tetapi pupuk diberikan dengan cara ditaburkan. Itu dibarengi dengan pemupukan NPK setiap 3-4 bulan sebanyak 40 g per tanaman.

Pada umur 18 bulan setelah tanam Werdi memperdalam parit. Tanah endapan dimanfaatkan untuk menambah media tanam di dalam cerucuk. Perlakuan itu membuahkan hasil pada umur 24 bulan setelah tanam. Werdi sudah bisa menuai buah lengkeng diamond river dan pingpong dari kebun di lahan masam. Pada panen awal 2011 itu sebanyak 60% titik percabangan setiap pohon lengkeng digelayuti buah-buah nan ranum. Kualitas buah persis seperti hasil panen lengkeng di lahan biasa: rasa manis, ukuran buah pingpong besar.

Sementara produksi jeruk lebih banyak lagi. Sebanyak 80% titik percabangan pohon-pohon jeruk manis dan jeruk nipis berisi buah. Pascaperlakuan dengan pupuk berkatalis itu tanaman pun terus-menerus menghasilkan bunga dan buah. Saat penulis berkunjung ke sana pada Juni 2011 pohon-pohon lengkeng di kebun Werdi tengah berbunga dan berbuah. Dengan begitu menuai lengkeng dan buah lain dari kebun di lahan gambut bukan sekadar impian. (Ir Kus Hendarto MS, dosen Fakultas Pertanian, Universitas Lampung)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img