Thursday, January 22, 2026

UGM dan BRIN Kolaborasi Kembangkan Teknologi Nuklir untuk Kendalikan Lalat Buah

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Teknologi nuklir kini mulai dilirik sebagai solusi baru dalam bidang perlindungan tanaman. Tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia sepakat menjalin kolaborasi riset guna memanfaatkan teknologi tersebut dalam pengendalian hama lalat buah, salah satu musuh utama komoditas hortikultura Indonesia.

Pemanfaatan teknologi nuklir ini dinilai penting, mengingat pasar ekspor buah hortikultura Indonesia kerap terhambat akibat serangan hama. Lalat buah, yang kerap menyerang buah sejak masa pembentukan hingga pascapanen, menjadi ancaman serius bagi mutu produk, terutama dalam memenuhi standar ekspor negara tujuan.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman Faperta UGM, Dr. Suputa, S.P., M.P., menyampaikan bahwa fokus utama kolaborasi ini adalah meningkatkan daya saing komoditas hortikultura lokal, dengan perhatian khusus pada salak pondoh sebagai ikon buah khas Yogyakarta.

“Serangan lalat buah menjadi hambatan serius dalam ekspor buah Indonesia,” kata Suputa dilansir pada laman UGM.

Suputa juga menyinggung kasus ekspor salak dari Daerah Istimewa Yogyakarta ke Australia pada 2016 yang ditolak karena terdeteksi belatung lalat buah. Akibat insiden tersebut, ekspor salak ke Australia dihentikan sepenuhnya.

Suputa menyebutkan salah satu kasus di tahun 2016, salak yang diekspor ke Australia dimusnahkan karena ditemukan belatung lalat buah. Sejak itu, Australia tidak lagi menerima ekspor salak dari DIY. Padahal menurut Suputa, dengan dukungan teknologi nuklir, telur maupun larva lalat buah di dalam salak dapat dimatikan. “Kita harapkan produk buah kita diterima negara mitra dagang,” terangnya.

Tak hanya sebatas perbaikan mutu ekspor, kolaborasi ini diharapkan dapat berdampak luas terhadap perekonomian nasional.

Suputa menambahkan, harapan terbesar dari kolaborasi ini adalah meningkatkan devisa negara melalui sektor ekspor sekaligus menjaga keberlangsungan buah lokal. “Kolaborasi ini wujud interdisiplin dan multidisiplin, agar tidak ada ego sektoral. Tujuan utamanya adalah kemaslahatan bersama, terutama meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, kerja sama riset ini diarahkan untuk memperkuat sistem pengendalian hama secara berkelanjutan melalui pendekatan teknologi, salah satunya melalui Teknik Serangga Mandul (TSM) berbasis nuklir.

Foto: Dok. UGM

Menurut Suputa, kolaborasi riset ini bisa menjadi langkah awal yang produktif untuk membangun sinergi riset, khususnya dalam penerapan fitosanitari dan Teknik Serangga Mandul (TSM) berbasis teknologi nuklir, yang bermanfaat bagi peningkatan keamanan pangan dan daya saing komoditas hortikultura Indonesia.

Senada dengan hal itu, perwakilan BRIN, Murni Indarwatmi, menyebut potensi besar pemanfaatan teknologi nuklir di sektor perlindungan tanaman, khususnya dalam proses pascapanen buah-buahan. Menurutnya, teknologi iradiasi sangat efektif sebagai perlakuan fitosanitari dalam menekan populasi hama tersembunyi.

“Peluangnya itu besar sekali. Untuk bagian pascapanen, pemanfaatan iradiasi khususnya untuk buah-buahan adalah untuk perlakuan fitosanitari. Dengan iradiasi, radiasi bisa menembus hingga ke dalam buah dan membunuh telur maupun larva hama lalat buah yang tersembunyi,” tuturnya.

Namun demikian, ia mengakui tantangan terbesar bukanlah aspek teknis, melainkan persepsi publik terhadap istilah “nuklir” yang masih kerap disalahpahami.

Meski begitu, Murni mengakui masih ada tantangan berupa persepsi masyarakat terkait nuklir yang kerap diasosiasikan dengan bom atau kecelakaan reaktor. “Sebenarnya iradiasi ini tidak ada bahan radioaktif yang menempel sama sekali di produk. Dosisnya kecil dan aman, justru memastikan buah yang diekspor bebas dari hama,” pungkasnya.

Dengan kolaborasi ini, UGM dan BRIN berharap dapat membawa terobosan dalam pengelolaan hama tanaman berbasis teknologi nuklir yang aman, efektif, dan berkelanjutan. Di sisi lain, kerja sama ini juga diharapkan membuka peluang lebih luas untuk ekspor buah-buahan Indonesia ke pasar internasional.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img