Trubus.id — Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Peduli Limbah Pangan di Ibnu Hajar Boarding School (IHBS) dengan melibatkan 50 siswi SMA IHBS. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap pengelolaan limbah pangan serta pelestarian lingkungan sekolah.
Sebelum kegiatan dimulai, Kepala Sekolah IHBS, Bapak Taufik Hidayat, Lc., S.Pd, memberikan sambutan saat menerima kehadiran tim dari Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia. Dalam arahannya, beliau menyampaikan apresiasi atas inisiatif UI yang telah hadir untuk berbagi pengetahuan dan praktik pengelolaan limbah pangan di lingkungan sekolah.
“Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian siswi terhadap lingkungan, serta menjadi langkah awal bagi pihak IHBS untuk menerapkan budaya pengelolaan limbah pangan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Kegiatan resmi dibuka dengan penyampaian sambutan oleh Ustadz Hendra, yang menekankan pentingnya peran manusia sebagai pemimpin di bumi untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Apa yang kita lakukan terhadap lingkungan, dampaknya akan kembali kepada diri kita sendiri,” ujarnya dalam sambutannya yang penuh semangat.
Dari pihak Universitas Indonesia, Ibu Dr. Ir. Sri Setiawati Tumuyu, M.A. mewakili Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan menyampaikan apresiasi atas kondisi lingkungan IHBS yang sudah asri, rindang, dan nyaman. Ia berharap IHBS dapat terus berkembang menjadi sekolah berwawasan lingkungan (Adiwiyata) dan memiliki branding sebagai “green school”.

“Budaya memilah sampah dan pengelolaan limbah yang baik harus ditanamkan sejak dini agar lingkungan sekolah tetap terjaga dan tidak mengalami degradasi,” tuturnya.
Edukasi dan Praktik: Mengenal Limbah dan Penerapan Konsep 6R
Sesi pertama kegiatan diisi dengan pengenalan jenis-jenis limbah berdasarkan karakteristiknya, yaitu limbah organik, anorganik, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Melalui penjelasan visual dan diskusi interaktif, para siswi mempelajari bahwa:
- Limbah organik adalah limbah yang mudah terurai, seperti sisa makanan, daun, atau ranting, dan dapat diolah menjadi pupuk kompos.
- Limbah anorganik seperti plastik, logam, dan kaca sulit terurai dan perlu didaur ulang.
- Limbah B3 mengandung zat beracun dan berbahaya yang harus dikelola secara khusus agar tidak mencemari lingkungan.
Setelah sesi teori, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan konsep 6R, yaitu:
Refuse (menolak kebiasaan yang tidak perlu), Reduce (mengurangi penggunaan berlebihan), Reuse (menggunakan kembali barang yang masih layak), Repurpose (memanfaatkan ulang untuk tujuan baru), Recycle (mendaur ulang limbah), dan Rot (mengomposkan limbah organik). Melalui konsep ini, siswi diharapkan dapat menerapkan kebiasaan ramah lingkungan mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekolah.
Praktik Langsung: Penanaman Lodong Sesa Dapur (Loseda)
Kegiatan berlanjut dengan praktek langsung penanaman Loseda (Lodong Sesa Dapur), yaitu media pengelolaan sampah organik rumah tangga berupa lubang atau wadah yang ditanam di tanah khususnya yang digunakan untuk menampung dan mengomposkan sisa makanan serta limbah organik rumah tangga agar bisa diurai secara alami menjadi pupuk organik.
Dalam kegiatan ini, siswi diajak menyiapkan media tanam, pupuk organik, dan sekam, serta belajar mengenai komposisi media, teknik perawatan, dan penyiraman tanaman menggunakan pupuk hasil penguraian limbah organik di lingkungan sekolah.
Salah satu siswi, Chandra, menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan ini.
“Kegiatannya menyenangkan karena kami tidak hanya mendengar penjelasan, tapi juga langsung mempraktikkan cara mengelola limbah organik. Jadi kami lebih paham bagaimana menjaga lingkungan mulai dari hal kecil,” ujarnya.
Harapan dan Tindak Lanjut
Menurut Risska Septiana, Koordinator Kurikulum dan Guru Bahasa Indonesia IHBS, kegiatan yang dilakukan oleh UI sangat menarik karena tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi juga disertai dengan berbagai games edukatif yang membuat siswi lebih aktif dan antusias.
“Sekolah kami saat ini belum menerapkan sistem pemilahan sampah. Dengan adanya kegiatan ini, kami terdorong untuk mulai menyediakan tong sampah dengan kategori organik, anorganik, dan limbah B3, sehingga siswi bisa langsung menerapkannya setiap hari di lingkungan sekolah,” jelasnya.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Peduli Limbah Pangan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar, sekaligus mendukung terciptanya sekolah yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.
Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan upaya menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan sejak dini untuk mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Pengelolaan limbah pangan bukan hanya tentang mengurangi sampah, tetapi juga langkah konkret menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan sumber daya. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, generasi muda diajak memahami bahwa setiap sisa makanan yang dikelola dengan bijak dapat menjadi sumber kehidupan baru bagi tanah dan tanaman. Dengan membangun budaya sadar limbah, baik di sekolah maupun di rumah, maka cita-cita menuju lingkungan yang lestari dan berkelanjutan dapat benar-benar terwujud.
