Thursday, August 18, 2022

Ujang Margana: Berkah Bawang Merah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Ujang Margana membentuk Kelompok Tani Tricipta
yang memiliki lahan seluas 50 ha.

Mengembangkan komoditas sensitif inflasi dan beromzet ratusan juta rupiah per bulan.

Trubus — “Setiap tahun keuntungannya makin meningkat. Sekarang omzet per bulan sudah mencapai Rp600 juta,” kata Ujang Margana. Petani di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu mengelola 30 hektare lahan. Menurut Ujang jenis komoditas yang dibudidayakan mempengaruhi keuntungan. Pemuda 27 tahun itu membudidayakan komoditas utama bawang merah.

Pemuda Tani Teladan Tingkat Nasional pada 2018 itu memilih bawang merah karena merupakan komoditas yang selalu dicari pasar. Permintaan yang datang ke Ujang dan Kelompok Tani Tri Cipta mencapai 14 ton kering setiap hari. Namun, Ujang belum mampu memenuhinya. Satu kilogram kering berasal dari 1,2 kg umbi segar. Ujang menanam bawang merah Allium cepa di lahan 50 hektare—sebagian lahan milik petani.

Petani muda sukses dari Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ujang Margana.

Stabilkan harga

Masa budidaya tanaman anggota famili Liliaceae itu mencapai 70 hari. Ujang menuai sekitar 13 ton umbi segar per hektare. Menurut Ujang umbi bawang merah kering mampu bertahan hingga 4 bulan. Saat ini biaya produksi bawang merah di lahan 1 hektare mencapai Rp95 juta. Ia bekerja sama dengan anggota Kelompok Tani Tri Cipta untuk memasok 1—5 ton bawang per hari. Oleh karena itu, Ujang mengatur sekali penanaman bawang mencapai 25 hektare. Adapun interval penanaman mencapai 2 bulan.

Ujang bukan sekadar mencari laba setinggi-tingginya dengan budidaya bawang merah. Ia ingat persis pada pada 2016 harga bawang merah melambung hingga Rp29.000 per kg di tingkat petani atau Rp80.000 di konsumen. Melihat kondisi itu, Ujang berembuk dengan para anggota kelompok tani. “Kami memutuskan menjual bawang merah Rp20.000 di tingkat konsumen demi menekan harga,” kata Ujang yang mengirimkan 150 ton bawang merah hasil panen ke Kelapagading, Jakarta Utara.

Setelah pengiriman itu harga bawang merah nasional kembali normal, sekitar Rp22.000 per kg di tingkat konsumen. Kejadian itu membuat nama Ujang dan Kelompok Tani Tricipta muncul ke permukaan. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universita Al-Ghifari Bandung itu mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo dengan mengundangnya ke Istana Negara.

Kecamatan Cimenyan menjadi salah satu penghasil bawang merah terbesar kedua di Jawa Barat setelah Cirebon. “Padahal dulunya dari kabupaten dan provinsi tidak tahu bahwa di Kecamatan Cimenyan ada bawang merah,” kata ayah 1 anak itu. Ujang dan anggota kelompok tani menjadi pionir budidaya bawang merah di Cimenyan. Lokasi itu berketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Lazimnya bawang merah tumbuh di dataran rendah.

Selain memasok ke pasar-pasar induk di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, Ujang juga memasok Toko Tani Indonesia Center yang dikelola oleh Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, dan Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian. Sebagai ketua kelompok tani, Ujang mengkoordinir penanaman agar produksi kontinu. Ia juga mengkoordinir pengiriman agar lebih ekonomis.

Membentuk kelompok

Ujang dan Kelompok Tani Tricipta mampu menstabilkan harga bawang merah nasional ketika terjadi inflasi.

Selain bawang merah, Ujang juga membudidayakan cabai. Ujang mengalokasikan lahan 2 hektare untuk budidaya Capsicum annuum. Ia membudidayakan cabai secara intensif antara lain menggunakan mulsa plastik hitam perak, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Menurut Ujang biaya produksi cabai mencapai Rp90 juta per hekatre. Adapun populasi mencapai 7.000 tanaman per hektare.

Ujang memanen rata-rata 1,7 kg cabai keriting per tanaman. Ia mengirim cabai ke berbagai pasar di Jakarta dan sekitarnya hingga 500 kg per hari. Cabai dan bawang merah komdoitas yang mudah memicu inflasi. Oleh karena itu, Ujang menjadikan keduanya sebagai komoditas utama. Selain itu Ujang dan Kelompok Tani Tricipta juga menanam bawang putih lokal, cabai rawit, cabai keriting, sayur-mayur, jeruk keprok batu 55, dan dekopon.

Ujang melihat besarnya permintaan jeruk setelah survei ke pasar-pasar dan mitra-mitra petani. “Ternyata jeruk merupakan salah satu komoditas yang paling besar permintaannya sekarang,” kata Ujang. Permintaan jeruk di Bandung saja 2 ton per hari. Menurut Ujang sekarang banyak pemuda pergi ke kota untuk mengadu nasib tanpa tahu di kampungnya berpotensi lebih besar.

“Kalau tahu potensi, tidak perlu ke kota untuk mencari pekerjaan. Saya lebih menikmati dunia pertanian,” kata Ujang. Pria kelahiran 9 Maret 1993 itu berinisiatif membentuk kelompok tani di desanya. Semula Ujang prihatin melihat petani-petani di desanya yang acap mengalami kesulitan berbudidaya dan tidak mampu menyelesaikan permasalahan. Ia membentuk kelompok tani pada 2016. (Tamara Yunike)

Previous articleSadar Transgedik
Next articleBukan Cendera Mata Biasa
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img