Saturday, January 17, 2026

Upaya Penanggulangan Banjir dengan Penghijauan dan Sistem Resapan

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Daerah resapan air vital, tapi sering tergusur dengan alasan tidak punya nilai ekonomi. Padahal, menurut ahli perencanaan lansekap dari Departemen Arsitektur Fakultas Pertanian IPB, Dr. Nurhayati HS Arifin, tanpa tempat resapan, lokasi yang tanahnya telah mengalami pengerasan oleh semen, beton, dan aspal, air mengalir langsung menuju sungai.

Dampaknya sungai meluap dan banjir pun tak terhindarkan. Namun, jika sebagian air dapat diserap tanah, risiko banjir akan berkurang. Selain mencegah banjir, daerah resapan air berperan penting dalam konservasi air dan tanah.

Air yang diserap disimpan di dalam tanah atau akar-akar tanaman sehingga dapat dimanfaatkan lagi sebagai sumber air tawar. Sebaliknya jika hanya mengalir ke sungai dan laut, air menguap begitu saja dan menjadi hujan. Jadi air itu tidak pernah tersimpan sebagai cadangan air tanah.

Ruang terbuka yang dijadikan daerah resapan air sebenarnya punya fungsi lain, ruang hidup bagi hewan dan tumbuhan. Invertebrata tanah seperti cacing dan semut membuat lubang sebagai tempat tinggal dan mencari makan.

Tumbuhan mudah hidup karena kebutuhan air dapat tercukupi di musim kemarau. Nah, adanya hewan kecil dan tumbuhan itu menjadi daya tarik burung-burung untuk datang. Kondisi ini menjadikan lingkunngan semakin asri dan nyaman ditinggali. Salah satu cara untuk menciptakan daerah resapan air dengan penghijauan

Berbagai jenis pohon besar seperti kenari Canarium commune, trembesi Enterolobium saman, dan pinus Pinus merkusii dapat mencegah banjir. Tak hanya menjadi penangkis polusi udara, pohon-pohon itu mampu menahan air hujan yang jatuh ke tanah. Ketika mengenai dedaunan, air hujan itu tertahan dan jatuh secara perlahan-lahan untuk diserap tanah.

Pohon-pohon yang memiliki akar tunggang lebih cocok ditanam. Selain tidak mudah tumbang, akar tunggang memiliki kemampuan menyerap air lebih banyak karena dapat menembus lapisan tanah yang keras dan dalam. Pilih pula pohon yang rindang.

Tujuannya agar volume air hujan yang dapat tertahan lebih banyak. Cara lain dengan membuat sistem resapan. Menurut Nurhayati sistem resapan tergantung pada luas lahan. “Untuk lahan luas, sistem resapan air dengan penghijauan atau sumur resapan lebih cocok dipakai,” kata alumnus Ehime University, Jepang itu.

Contoh sumur yang dibuat di dalam tanah dengan pipa input yang berasal dari talang air di atap rumah. Air yang mengalir selanjutnya masuk bak kontrol yang berfungsi sebagai penampung dan penyaring air sementara. Air itu diteruskan lagi ke sumur berkedalaman 2—5 m dengan dinding berlubang.

Dasar sumur disusun batu-batu berdiameter 3 cm dan diberi ijuk untuk menyaring serta memudahkan air meresap ke dalam tanah. Tebal lapisan itu minimal 10 cm. Pipa output yang dialirkan ke saluran air atau sungai dibuat di bagian tepi atas dengan posisi sedikit lebih rendah dari pipa input.

Pipa output itu berfungsi untuk membuang kelebihan air. Bagian atas sumur ditutup cor beton, lalu ditimbun tanah sehingga dapat ditanami tanaman yang memiliki perakaran dangkal seperti pakupakuan dan aglaonema.

Untuk rumah dengan lahan terbuka sempit, sistem biopori dapat diterapkan. Prinsipnya, terdapat lubang-lubang silindris berdiameter 10—15 cm berkedalaman 1 m untuk sumber resapan. Jarak antarlubang sekitar 1 m. Lubang-lubang itu dapat diisi sampah organik sehingga mengundang dekomposer—pengurai—seperti cacing tanah untuk tinggal.

Dengan banyaknya lubang yang terbentuk, luas permukaan bidang serapan semakin besar. Dampaknya volume air yang diserap semakin tinggi. Selain berfungsi menyerap air, biopori juga bermanfaat sebagai dapur pembuatan kompos.

Kompos dapat diambil dan dimanfaatkan sebagai pupuk. Jika daerah resapan air yang menawarkan demikian banyak keuntungan dapat dibangun dan dirawat, ucapkan selamat tinggal pada banjir.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img