Masyarakat Bali memanfaatkan hingga 13 jenis kelapa untuk keperluan sehari-hari.

Trubus — Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem mendata ke-13 jenis kelapa itu adalah gadang, gading bali, bulan, udang, sudamala, bingin, surya, bojog, bejulit, ancak, rangda, mulung, dan kresna. Namun, “Menurut para pandita (pendeta, red.) sebenarnya ada lebih dari 30 jenis,” kata kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, Wayan Supandhi.
Pemanfaatan utamanya justru sebagai komponen upakara (upacara). Pascaupakara, barulah buah kelapa itu dijadikan bahan pangan. Buah kelapa mempunyai nama berbeda sesuai tingkat kematangan. Kelapa tua disebut nyuh, yang muda disebut kuwud. Masyarakat Bali juga memanfaatkan daun kelapa untuk berbagai keperluan. Daun muda disebut busung, selepan (daun tua), atau danyuh untuk menyebut daun kering.
Daun busung—disebut janur di Jawa—menjadi bahan membuat sampian maupun ketupat. Penjor atau umbul-umbul berbahan janur bahkan menjadi salah satu ikon Bali. Dalam laporan “Kelapa dalam Budaya Bali serta Upaya Pelestariannya” yang dimuat dalam jurnal Bumi Lestari, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, M.O.H., PFK menyatakan bahwa dalam upakara, buah kelapa melambangkan isi alam.
Sembilan penjuru

Festival Kelapa Internasional September 2019 berbahan
tempurung dan serabut kelapa.
Kepala bidang Perkebunan Dinas Pertanian Karangasem, Komang Cenik, menyatakan bahwa kelapa bagi umat Hindu melambangkan buana agung atau dunia dan isinya. “Serabut kelapa melambangkan sifat manusia yaitu nafsu, tempurung menggambarkan kekayaan, sedangkan daging dan air adalah simbol kebijaksanaan,” kata Cenik. Dalam upakara Yadnya, nyuh (kelapa) gadang atau mulung ditempatkan di utara sebagai lambang kegelapan, yang identik dengan hitam.
Di dekatnya, sisi timur laut, ditempatkan nyuh bojog yang warnanya abu-abu. Sisi timur ada nyuh bulan mewakili warna putih yang melambangkan kesucian. Di sisi tenggara, ditempatkan nyuh rangda yang mewakili warna merah muda. Sisi selatan ditempati nyuh udang dengan serabut kemerahan. Nyuh surya di penjuru barat daya melambangkan warna jingga, sementara di sisi barat ditempatkan nyuh gading yang serabutnya kuning.
Adapun nyuh bejulit yang serabut luarnya hijau di arah barat laut. Melengkapi delapan penjuru menjadi sembilan, kelapa sudamala diletakkan di tengah-tengah. Buah kelapa juga menjadi bahan berbagai macam sajian kuliner khas Bali, antara lain lawar, sesate, maupun pesan. Menjelang hari raya pedagang mendatangkan kelapa dari berbagai daerah, antara lain Banyuwangi (Jawa Timur) atau Lombok (Nusatenggara Barat).
Tanpa itu, warga Bali kesulitan memenuhi kebutuhan kelapa untuk upakara. Kesulitan itu terasa sejak lama karena, “Setiap kepala keluarga memerlukan minimal 2 buah kelapa setiap bulan untuk upakara karena ada acara purnama dan tilam, belum untuk upakara lain,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Mataram itu. Efeknya harga menjadi tinggi.
Taman Mini Kelapa
Di berbagai daerah di Provinsi Bali terjadi alih fungsi lahan kelapa. Pada masa mendatang Supandhi khawatir kebutuhan itu tidak terpenuhi sehingga mengganggu pelaksanaan upakara. Luas Kabupaten Karangasem 83.954 hektare atau 14% luas provinsi Bali. Namun, dari luasan itu, 92% adalah lahan kering yang lebih cocok untuk tanaman keras. Luas lahan sawah hanya sekitar 7.000 ha. Luas penanaman kelapa di Karangasem 18.000 ha, menjadikan kabupaten itu pemilik lahan kelapa terluas se-Bali.

menanam kelapa. (Dok. Wayan Supandhi)
Masalahnya, pemeliharaan kelapa tidak intensif. Setelah dilantik pada 2016, bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri memprogramkan penanaman sejuta kelapa genjah sejak 2017. Pada 2017 ditanam 80.000 bibit kelapa daksina ditambah 24.000 bibit pada 2018. Tidak kalah penting, penyadaran masyarakat bahwa penanaman memerlukan teknologi, baik berupa perawatan maupun pemilihan bibit yang baik.
Warga Karangasem antusias dan menanam swadaya menggunakan buah dari pohon kelapa di kebun mereka. Dinas mendatangkan bibit bersertifikat dari Balai Penelitian Tanaman Palma (Balitpalma). Penunjukan sebagai tuan rumah acara Festival Kelapa Internasional (FKI) pada September 2019 membuat Karangasem berkesempatan mengumpulkan berbagai jenis kelapa dari daerah lain.

kata Wayan Supandhi (kiri). (Dok. Wayan Supandhi)
Pada awal Juli 2019 ada 20 kabupaten mengirim bibit untuk dipamerkan. Karangasem punya obsesi membuat taman mini kelapa Indonesia. “Nantinya orang mencari kelapa tinggal datang ke Karangasem,” kata Supandhi. Masalahnya lahan kering yang mendominasi Karangasem membuat upaya pemeliharaan lebih berat. Penanaman tumpang sari dengan tanaman lain menguntungkan karena upaya merawat tanaman tumpang menjadikan kelapa ikut terawat.
Namun, tumpang sari bisa merugikan kalau pekebun tidak rajin merawat. Menurut Supandhi tanaman lain bisa menjadi inang bagi organisme pengganggu kelapa. Oleh karena itu, Supandhi mengingatkan pekebun agar menjaga sanitasi kebun. Maklum, selama ini pekebun hanya rajin memanen buah tanpa merawat.
“Membersihkan tajuk saja jarang,” kata pria 58 tahun itu. Akibatnya produktivitas rendah. Melalui pelaksanaan FKI pada September 2019, Supandhi berharap masyarakat Karangasem makin semangat menanam dan merawat kelapa. Ketua Koalisi Pemerintah Kabupaten Penghasil Kelapa (Kopek), Prof. Dr. Ir. Nelson Pomalingo, M.Pd, berharap pemilihan Karangasem sebagai lokasi menjadikan gaung FKI mendunia.
Nelson mengatakan, “Sebagai destinasi wisata kelas dunia, Bali, termasuk Karangsem menarik pelancong dari seluruh dunia.” Mantan rektor Universitas Negeri Gorontalo itu berharap, kelak di Karangasem tidak hanya sekadar taman mini kelapa, tapi juga ada sekolah menengah kejuruan (SMK) maupun politeknik khusus kelapa. (Mawardin Simpala, pegiat kelapa di Kota Depok, Jawa Barat, pendiri Sahabat Kelapa Indonesia)
