Lima budikdamber memungkinkan Wahyu Octavianto panen berkelanjutan. Ia mengunggah video budikdamber di media sosial.

Trubus — Wahyu Octavianto menyisihkan sebagian pendapatan untuk membeli lima unit budikdamber—budidaya ikan dan sayuran di ember. Wirausahawan itu menempatkan kelima unit budidakber di halaman seluas 6 m² di Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Pria 26 tahun itu menempati rumah di atas tanah 400 m2. Jadi, hanya perlu ruangan seluas 2,5 m2 untuk menempatkan lima unit budikdamber itu.
Di bagian atas ia meletakkan 10 netpot untuk budidaya kangkung. Sementara di dalam ember berkapasitas masing-masing 80 liter, Wahyu memelihara 100 bibit lele ukuran 7—10 cm. Artinya di lima ember, Wahyu memelihara 500 ikan lele. Pria kelahiran Oktober 1994 itu memanen kangkung pada umur 14 hari sejak tanam. Jumlahnya mencapai tiga ikat. Adapun interval panen kangkung 14 hari.
Panen melimpah

Wahyu memanen dengan cara memotong bagian atas batang kangkung dan membiarkan batang bawah tetap di netpot. Setelah lima kali panen, Wahyu mengganti tanaman. Panen 3 ikat kangkung cukup untuk konsumsi keluarga. Wahyu dan istri tinggal bersama tiga anggota keluarga lainnya. Bahkan, kerap kali ia menjual hasil panen kangkung kepada tetangga Rp3.000 per ikat.
Alumnus Politeknik Negeri Lampung (Polinela) itu memanen lele pada umur 75 hari setelah tebar. Wahyu yang memulai berbudikdamber pada 2018, memanen rata-rata 7—8 kg lele varietas sangkuriang 2 atau mutiara setiap ember. Bila ada 5 ember maka total panen sekitar 35 kg. Sembari menunggu panen lele, Wahyu dapat memanen 5—6 kali kangkung. Ia juga mengonsumsi lele untuk kebutuhan rumah tangganya.

dapur. (Dok. Wahyu Octavianto)
Namun, jumlah sekitar 35 kg itu terlampau banyak untuk keluarganya. Oleh karena itu, Wahyu menjual lele hasil panen budikdamber kepada tetangganya Rp20.000 per kg. Ia memperoleh tambahan pendapatan dari budikdamber. Agar panen berkesinambungan, Wahyu menebar bibit ikan dengan interval 14 hari. Wahyu menjual hasil panen secara tidak sengaja. Semula ada orang yang menanyakan apakah kangkung budikdamber berbau amis.
Akhirnya ia memberikan kangkung hasil panen agar mencobanya sendiri. Setelah itu ada yang menanyakan ketersediaan kangkung dan ikan hasil panen. Menurut Wahyu mengelola budikdamber berfaedah untuk ketahanan pangan keluarga. Selain itu, memiliki budikdamber juga menjadi hiburan keluarga dan menambah aktivitas di rumah. “Orang-orang yang semula enggan mengosumsi lele, akhirnya bisa makan karena proses budidaya lele higienis,” kata Wahyu.
Unggahan video
Wahyu memulai menggeluti budikdamber pada 2018. Semula ia fokus pada penyebaran informasi budikdamber melalui media sosial dengan mengunggah video. “Masak saya yang suka mengunggah video-video budikdamber tidak punya budikdamber,” ahli madya Budidaya Perikanan alumnus Polinela itu. Oleh karena itu, ia mengelola 2 budikdamber pada November 2018.

Selain itu, memiliki budikdamber sendiri menjadi sarana bagi Wahyu menyebarluaskan informasi kepada masyarakat sekitar rumah dan pelanggan kolam pembenihan miliknya di Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran. Sesuai prediksi Wahyu, tetangga-tetangga yang kebetulan lewat depan rumah atau pelanggan benih ikan Wahyu penasaran dengan budikdamber.
Dari dua ember, ember budikdamber berkapasitas 80 liter bertambah menjadi lima unit pada tahun yang sama, 2018. Makin banyak warganet yang menonton video. Mereka meminta Wahyu mengupas tuntas budikdamber. Penonton video-video Wahyu hingga ratusan ribu hanya dalam hitungan bulan. Ada penonton yang penasaran sehingga Wahyu pernah mencoba budikdamber skala kolam 3 m x 3 m.
Di kolam itu ia memelihara gurami. Padat tebar gurami 10 ekor berukuran 3—4 jari. Ia menggunakan aerator untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut. Instalasi penempatan kangkung dipasang menggunakan rangkaian talang air dan besi yang dipasang pada satu sisi dinding kolam. Hasilnya 9 bulan panen dengan ukuran variatif antara 1—5 ekor per kilogram. (Tamara Yunike)
