Friday, January 16, 2026

Wamentan Soroti Harga Gabah, Tegaskan HPP Gabah Rp6.500 per Kilogram

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyoroti harga gabah yang hanya mencapai Rp5.000 per kilogram. 

Ia menegaskan bahwa harga tersebut sangat merugikan petani, mengingat pemerintah telah menetapkan Harga Pokok Pembelian (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Menurut Mas Dar, sapaan akrab Wamentan Sudaryono, harga gabah yang rendah itu bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak menjual gabah di bawah HPP yang telah ditetapkan.

“Saya ingin menekankan, memberi tahu pada masyarakat jangan sampai gabah dibeli murah. Ini penting ya. Peran Bulog diperkuat, Instruksi Presiden jelas, HPP Rp6.500 per kilogram. Tapi kalau kurang-kurangnya ya jangan Rp5.000, saya kira itu menyengsarakan petani kita,” ujar Wamentan Sudaryono usai meninjau panen raya di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Senin (13/1/2025) dilansir melalui laman resmi Kementan.

Pemerintah, melalui Bulog, akan mulai menjalankan kebijakan penyerapan gabah sesuai HPP mulai 15 Januari 2025. Wamentan meminta seluruh daerah untuk mematuhi Instruksi Presiden guna menjaga stabilitas harga gabah.

“Semua daerah seluruh Indonesia serentak harus mematuhi Instruksi Presiden. Jangan ada lagi harga gabah Rp5.000 apalagi dibawah Rp5.000,”  lanjutnya.

Ia menuturkan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, pemerintah terus mendorong produksi pertanian dengan berbagai langkah strategis, seperti meningkatkan alokasi pupuk subsidi dari 4,5 juta ton menjadi 9,5 juta ton. 

Selain itu, pemerintah juga menyediakan benih, alat mesin pertanian (alsintan), serta membangun infrastruktur irigasi dan pompanisasi untuk mendukung petani.

Pemerintah berharap upaya itu dapat mendorong Indonesia mencapai target swasembada pangan dalam waktu dekat sekaligus memastikan ketersediaan bahan pangan yang cukup dan terjangkau bagi masyarakat.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img