Monday, January 26, 2026

Yang Lawas Masih Bertahan

Rekomendasi
- Advertisement -

Beberapa varietas durian lawas masih bertahan mengisi pasar di tengah gempuran musang king dan ochee.

Ang bak D164 juga masih dicari karena warna daging buahnya yang mentereng.

Trubus — Matahari hampir saja terbenam saat Majalah Trubus tiba di kedai durian Great Fruit Agriculture (GFA). Kedai durian di Balikpulau, Pulau Pinang, Malaysia, itu menjadi kedai terakhir yang dikunjungi para peserta tur Yayasan Durian Indonesia (YDI) pada tur hari pertama. Meski begitu, para peserta tampak masih antusias mencicipi si raja buah.

Menurut pengelola GFA, Kei Kor, di kedainya durian ochee alias duri hitam menjadi favorit para pengunjung. Namun, di sana juga tersedia berbagai jenis durian lawas yang hingga kini masih menjadi incaran para penggemar duian. Salah satunya jenis anghe alias udang merah yang sudah ia persiapkan untuk menjamu para peserta tur. Kei Kor pun membuka salah satu buah.

Masih favorit

Begitu terbelah tampak daging buah berwarna krem bersemburat jingga. Sebetulnya warna daging buah anghe seperti itu kurang optimal. “Biasanya warna daging buah bisa lebih jingga,” tutur Ketua Yayasan Durian Indonesia (YDI), Adi Gunadi, yang memimpin tur. Namun, rasa anghe tetap istimewa memanjakan lidah. Tekstur daging buahnya lembut dan sangat creamy. Kombinasi rasa manis dan pahitnya pas.

Pantas bila udang merah masih menjadi favorit di tengah gempuran musang king dan ochee yang kini merajalela. Anghe alias udang merah sejatinya merupakan durian jenis lawas. Durio zibethinus itu terdaftar sebagai varietas unggul di Departemen Pertanian Malaysia pada 1990 dengan nomor pendaftaran D175. Sebelum popularitas musang king dan ochee menanjak, anghe menjadi andalan para pemilik lapak durian di Pulau Pinang.

Horlor D163 atau labu, cocok untuk penggemar durian dengan cita rasa alkoholik.

Di GFA juga tersedia durian jenis lawas lain yang hingga kini masih menjadi favorit para pengunjung, yaitu ang bak (D164) alias daging merah. Sesuai namanya, daging buah tanaman anggota famili Malvaceae itu berwarna jingga pekat. Rasanya tak kalah istimewa dengan anghe. Ciri khas durian asal Pulau Pinang adalah daging buahnya yang lembut dan creamy. Meski begitu rasa ang bak dominan manis dengan rasa pahit yang tipis.

Jenis langka

Durian lawas lain yang tersedia di GFA adalah horlor alias labu (D163). Horlor tergolong jenis lawas yang masih diminati para penggemar durian. Selain bentuk buah yang mirip labu, ciri khas horlor dapat dikenali dari rasa pahit yang lebih dominan. Itulah sebabnya horlor menjadi favorit penggemar durian yang menyukai rasa daging buah alkoholik. Keunggulan lain tekstur daging buahnya juga lengket sehingga agak sulit saat ditelan. Namun, warna daging buah horlor kalah jingga ketimbang ang bak.

Beserah D145 asal Pahang, Malaysia.

Peserta tur yang berlangsung pada 27—30 Juli 2019 itu juga mencicipi jenis-jenis durian Malaysia yang buahnya tergolong langka seperti beserah. Durian bernomor pendaftaran D145 itu tumbuh di kebun milik Teik Hock Ooi di Perak, Malaysia. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian Malaysia, nama durian yang terdaftar atas nama Khidzir Engku Ali pada 1981 itu diambil dari daerah asalnya yaitu Beserah, Pahang.

Durian D145 itu sejatinya memiliki penampilan daging buah yang baik. Warna daging buahnya kuning dengan bentuk buah ideal, yakni cenderung membulat. Ukuran pongge juga gemuk-gemuk sehingga mengenyangkan saat disantap. Sayangnya tekstur daging buahnya kurang kental sehingga terasa lebih “encer” saat ditelan. Rasa daging buah cocok untuk penggemar durian pemula yang menyukai rasa daging buah dominan manis.

Seleksi pasar

Gabai D194 asal Sepang, Selangor, Malaysia.

Di kebun Teik Hock Ooi para peserta juga mencicip durian gabai yang terdaftar di Departemen Pertanian Malaysia dengan nomor D194. Durian asal Sepang, Selangor, Malaysia, itu ternyata terdaftar pada tahun yang sama dengan musang king D197, yakni pada 1993. Sayangnya pamor musangking lebih mencorong. Dari segi karakter buah musang king memang jauh lebih unggul dibandingkan dengan gabai.

Warna daging buah gabai kuning pucat, sedangkan musang king kuning mentereng. Tekstur daging buah juga kalah lengket ketimbang musang king. Rasa daging buah gabai lebih dominan manis dengan sedikit rasa pahit. Menurut ahli durian asal Malaysia, Dr. Abdul Aziz Zakaria, hingga saat ini varietas-varietas durian baru yang terdaftar di Departemen Pertanian Malaysia terus bermunculan.

Namun, dari ratusan varietas yang terdaftar tak seluruhnya berkembang baik di Malaysia. “Para pekebun hanya mempertahankan jenis yang disukai konsumen,” kata Aziz. Sejak melambungnya musang king, banyak pekebun yang menyambung pucuk pada pohon varietas-varietas yang kurang diminati pasar. Ibarat seleksi alam, hanya yang berkualitas prima yang bertahan mengisi pasar. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img