Thursday, December 8, 2022

10 Biasa, 17 Luar Biasa

Rekomendasi

Waktu terbaik penanaman pada akhir kemarauProduktivitas kubis 17,4 ton per ha. Itu lebih banyak ketimbang produktivitas nasional, 10—15 ton per ha.

Itulah hasil panen kubis di lahan Budi Pangestu di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Menurut Musikan Karya Pranoto, kepala kebun, populasi Brassica oleraceae itu 12.000  tanaman per ha. Pekerja kebun menanam kubis pada Desember 2012. Mereka menyiapkan bedengan semai berukuran 300 cm x 80 cm setinggi 20 cm. Selanjutnya pekerja menyemai 6 kantung benih atau 15.000 biji berjarak 1 cm x 1 cm.

Untuk melindungi benih dari paparan sinar matahari dan terpaan hujan, pekerja menutup bedengan dengan dedaunan kering. Setiap 2 hari, mereka mengalirkan air ke parit antarbedengan. Pada hari ke-25, benih tumbuh menjadi bibit dengan 5—6  daun dan siap pindah ke lahan. Dari 15.000 benih, hanya 12.000 yang menjadi bibit siap tanam. Sisanya gagal tumbuh, kuntet, dan mengering.

Tanah baru

Sebelum menanam, pekerja mengolah tanah dan membuat  bedengan selebar 80 cm, tinggi 30 cm, dan jarak antarbedengan 40 cm. Panjang bedengan menyesuaikan kondisi lahan. Jarak antarbibit dalam bedengan 20 cm x 40 cm. Musikan dan pekerja tidak menambahkan pupuk dasar lantaran ketiadaan jalan yang bisa dilalui kendaraan pengangkut pupuk. Selain itu, kebun itu baru pertama kali ditanami sehingga kesuburan tanah masih cukup.

Menurut Ir Budi Jaya, periset di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat, tanah yang  belum pernah dimanfaatkan untuk budidaya masih mengandung humus dari  sisa semak dan tanaman hutan. Humus itu menjadikan lapisan teratas (top soil) tanah vulkanik mampu mendukung pertumbuhan tanaman meski tanpa pupuk dasar. Lahan milik Budi di kawasan pegunungan dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (dpl).

Lahan dengan luas total 105 ha itu terletak di sebelah barat Gunung Semeru. Musikan memberikan tambahan pupuk pada 25 hari setelah tanam (hst) berupa campuran 4 bagian pupuk ZA dan 1 bagian pupuk TSP. Sehektar lahan memerlukan 1 ton pupuk campuran, atau terdiri dari 800 kg ZA dan 200 kg TSP. Musikan memasukkan sekilogram pupuk campuran dalam tabung semprot berkapasitas 15 liter, menambahkan air sampai penuh, lalu mengocorkan ke tanah di dekat batang kubis pada sore hari.

Selang 25 hari, ketika tanaman berumur 50 hst, pekerja mengulang pengocoran pupuk. Menurut Juang Gema Kartika SP MSi, dosen Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, pupuk ZA mengandung unsur nitrogen yang mempercepat perkembangan sel tanaman. Adapun kandungan fosfor pupuk TSP merangsang pertumbuhan akar. Lazimnya, tanaman anggota famili Brassicaceae menjadi incaran ulat Plutella  sp. Meski begitu, Musikan tidak melakukan pencegahan khusus.

Ayah 2 anak itu mengutamakan penanganan dini dengan mengidentifikasi gejala serangan dan penanganan mekanis dengan cara mengambil ulat yang terlihat. Kalau terjadi serangan massal, Musikan sudah siaga. “Semprotkan 120 ml insektisida berbahan aktif profenofos dicampur dengan 120 ml perekat dalam 15 liter air pada campuran itu. Lakukan ketika umur tanaman 35—40 hst,” ujar Musikan.

Lahan lama

Menurut Juang, lahan baru biasanya minim serangan hama dan penyakit. Musababnya koloni serangga maupun konsentrasi cendawan pengganggu belum terbentuk. “Kalau pun muncul serangan, penanganannya cukup dengan mengumpulkan ulat atau mencabut tanaman yang terserang penyakit sebelum menular ke tanaman sehat,” kata Juang.

Pada 82 hst, Februari 2013, Musikan dan para pekerja panen 17,4 ton. Sebanyak 57% kubis berbobot 3—3,5 kg. “Beberapa tanaman menghasilkan kubis berbobot 4 kg,” ujar Musikan. Ia menyortir hasil panen ke dalam 3 kelas berdasarkan bobot. Kelas I berukuran paling besar, bobot 2—4 kg sebanyak 14,5 ton; kubis kelas II (1—2 kg sebanyak 2,3 ton), da kelas III (kurang dari 1 kg sebanyak 0,6 ton). Musikan memasarkan kubis kelas I ke beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya dengan harga Rp1.600 per kg. Sementara kubis kelas II dan III dijual di pasar Malang dan sekitarnya, Rp1.000 per kg.

“Total penjualan waktu itu mencapai Rp26,1-juta, sedangkan biaya produksi hanya Rp10-juta sehingga keuntungan mencapai Rp16,1-juta,” ujar Musikan. Produksi menjulang itu memang terjadi di lahan bukaan baru. Namun, menurut Juang di lahan lama yang telah berulang-ulang ditanami pun, pekebun berpeluag meningkatkan produksi kubis. Kuncinya pemupukan dengan bahan organik seperti kompos atau kotoran hewan. Pupuk organik itu sebaiknya diberikan sebagai pupuk dasar di penanaman berikutnya.

Pasalnya bahan organik mengandung amelioran atau pembenah tanah sehingga kegemburan dan kesuburan tanah terjaga. Waktu penanaman pun mesti diperhatikan karena terkait dengan cuaca dan curah hujan. “Sebaiknya budidaya kubis dimulai di akhir musim kemarau atau di musim hujan. Jika curah hujan terlalu tinggi, tanaman akan membusuk,” kata Juang. Untuk mencegahnya, ia menyarankan pemasangan sungkup di bedengan di musim hujan. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

 

FOTO:

  1. Waktu terbaik penanaman pada akhir kemarau
  2. Budidaya di lahan baru hasilkan 17,4 ton per ha
  3. Budi Pangestu (jaket kulit hitam), Musikan Karyo Pranoto (kemeja loreng), bersama para pekerja
  4. Pemupukan rutin dan penanganan hama dan penyakit tanaman kunci dapatkan kubis kelas I

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img