Tuesday, June 16, 2026

Merang Tanpa Kumbung

Rekomendasi

Memanen jamur merang dari dalam kotak plastik transparan.

Pemandangan tak biasa hadir di kebun Ito Sumitro, pekebun jamur merang di Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Pekebun itu membuat kotak plastik transparan berukuran 2 m x 1 m x 1 m untuk menanam Volvariella volvacea itu. Pekebun lain membangun kumbung jamur merang berupa rumah berdinding bilik atau stirofoam seluas 7 m x 5 m x 4,5 m.

Mula-mula ia membersihkan lahan sehingga bebas dari gulma, serangga, maupun cendawan parasit yang bisa mengancam pertumbuhan jamur. Lalu Ito menancapkan ke dalam tanah tongkat bambu sepanjang 1,2 m sedalam 20 cm. Bambu bisa diganti dengan kayu reng sehingga lebih awet. Ito mengatur jarak antarpatok 2 m x 1 m.

Setiap kotak transparan berukuran 1 m x 0,5 msetinggi 0,5 m mampu hasilkan 7 kg jamur merang
Setiap kotak transparan berukuran 1 m x 0,5 m
setinggi 0,5 m mampu hasilkan 7 kg jamur merang

“Ukuran fleksibel, bisa menyesuaikan dengan kebutuhan,” tutur Ito. Maksudnya, bisa saja ukuran 3 m x 1 m, 2 m x 2 m, dan seterusnya—menyesuaikan ketersediaan lahan. Pekebun tinggal mempertimbangkan aspek kemudahan dalam merawat dan memantau pertumbuhan jamur.

Yang pasti tempat itu harus bebas naungan agar sinar matahari bisa menembus dan memanaskan bagian dalam kotak plastik. Setelah itu Ito menyelimutkan plastik transparan setebal 0,8 mm ke sekeliling tonggak membentuk sungkup. Ia mengikat dengan karet gelang ataupun pelakban agar tidak mudah lepas.

Perangkap panas

Salah satu ujung plastik ia biarkan tidak terikat sebagai “pintu” masuk untuk merawat atau  panen jamur. Selanjutnya, pembudidaya jamur merang sejak 2011 silam itu menangkupkan lagi plastik dengan ketebalan sama ke atas sungkup untuk memastikan panas di dalamnya benar-benar terisolasi. Pekebun juga bisa menambahkan kain terpal agar iklim di dalam kotak semakin panas.

Setelah itu ia menyusun 2 tumpuk batu bata mengelilingi sungkup plastik sebagai wadah media tanam yang akan ditabur ke dalam kumbung. Cara lain, bisa menggunakan papan triplek setinggi 20—25 cm.

Fermentasi media
Fermentasi media

“Agar lebih rapat, bagian luar kumbung bisa ditumpuk batu bata agar hawa panas tidak cepat merembes keluar,” ungkap Ito. Pekebun juga bisa memanfaatkan peti kayu berukuran panjang 1 m, lebar 0,5 m

dan tinggi 0,5 m sebagai bahan rangka. Tutup bagian bawah setinggi lebih kurang 10—15 cm membentuk bak penampung media tanam. Selanjutnya, Ito membungkus peti kayu itu dengan plastik setebal 0,8 mm sampai menyerupai parsel hari raya berukuran superbesar. “Bagian atas bisa diikat dengan karet agar lebih erat,” tutur Ito.

Ito menggunakan media tanam 20 kg bagas alias ampas tebu, 5 kg dedak, 5 kg limbah kapas, serta 3 kg kapur terfermentasi. Sebelum memfermentasi, ia merendam bagas dalam air selama 12—24 jam. Gunanya membilas sisa zat gula yang dapat menyebabkan tekstur jamur merang yang dihasilkan benyek atau tidak padat. Pascaperendaman ia mencampur rata ampas tebu, dedak, dan 2 kg kapur lalu menutup rapat dengan terpal agar calon media itu terfermentasi. Dua hari sekali ia mengaduk agar fermentasi merata. Pada hari ke-5, media itu siap pakai.

Pada hari ke-4 ia merendam limbah kapas dengan sekilogram kapur di tempat terpisah. Tujuannya menaikkan kadar keasaman limbah kapas agar bisa ditumbuhi jamur merang. Selang 12 jam, limbah kapas siap pakai. Ito memasukkan campuran media terfermentasi ke dalam lokasi sungkup, lalu menaburkan limbah kapas pascaperendaman secara merata di atas media. Kapas menjadi media tumbuh jamur, sementara media terfermentasi menjadi sumber nutrisi.

Selanjutnya ia menutup rapat sungkup agar suhu ideal, 35—370C, tercapai. Setelah 2 hari, ia menabur rata 2 botol bibit jamur di permukaan kapas. Jika menggunakan peti kayu berukuran 1 m x 0,5 m setinggi 0,5 m, komposisi media terdiri atas 5 kg bagas atau limbah tebu, 3 kg dedak, 2 kg kapur, dan 2 kg limbah kapas. Proses fermentasi media sama.

Lahan terbatas

Kotak Parsel
Kotak Parsel

Selang 10 hari, Ito mulai memanen jamur.  Dari luasan 2 m x 1 m x 1 m, dengan 8—10 kali panen, ia bisa menuai 20—25 kg jamur gendos. Sebutan gendos dilekatkan lantaran media tanam bukan lagi memanfaatkan merang atau jerami sehingga hasilnya menjadi jamur merang. “Nama gendos dipilih lantaran bentuk jamur menyerupai buah kelapa yang gagal tumbuh,” tutur Ito. Sementara metode parsel menghasilkan 7 kg jamur. Harga setara dengan jamur merang hasil panen dari kumbung konvensional. Grade A dihargai Rp18.000/kg dan grade B Rp12.000/kg. Untuk mempertahankan kelembapan sungkup pascapanen, Ito menyemprotkan air.

Menurut Dr I Nyoman Aryantha dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Ilmu Hayati (SITH), Institut Teknologi Bandung, budidaya jamur merang tanpa kumbung konvensional sejatinya bukan barang baru. Toh, cara Ito dapat menjadi terobosan untuk mengusahakan budidaya jamur merang di tengah keterbatasan lahan. “Pembuatan mudah dan relatif murah,” ungkap Nyoman. Namun, ia mewanti-wanti untuk memperhatikan produktivitas jamur merang yang dihasilkan.

Produktivitas jamur dari sistem kotak plastik transparan mencapai 7 kg per kotak ukuran 1 m x 0,5 m setinggi 0,5 m; pada sistem kumbung konvensional ukuran 7 m x 5 m x 4,5 m menghasilkan 375 kg jamur merang. Menurut hitungan Ito sistem itu masih menguntungkan sebab ia tidak perlu membangun kumbung yang harganya relatif mahal. “Biaya pembuatan kumbung berukuran 5 m x 7 m bisa mencapai Rp10-juta,” ungkap Ito. Itu baru kumbung bambu berlapis anyaman bambu. Jika memanfaatkan stirofoam yang lebih awet, angka itu menjadi Rp11-juta.

Sungkup di Tanah
Sungkup di Tanah

Lagipula membangun kumbung butuh ketersediaan lahan luas. Menurut hitungan Sahim, pembudidaya jamur merang di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, luasan minimal kumbung jamur merang 5 m x 5 m. Itu skala ekonomis dengan mempertimbangkan pengeluaran biaya dibanding pendapatan dari hasil panen. “Luasan kecil, produktivitas pun kecil. Padahal biaya membuat kumbung segitu-segitu juga,” kata Sahim. Dengan cara Ito, budidaya bisa terpencar-pencar sesuai ketersediaan tempat dan lebih murah.

Bagaimana tidak, Ito cukup memanfaatkan batang bambu bekas ajir sebagai bahan rangka. Batu bata pun menggunakan “limbah” pembongkaran bangunan. Namun, untuk kualitas plastik tidak bisa ditawar. “Harus menggunakan plastik dengan ketebalan 0,8 mm,” kata Ito. Bila terlalu tipis panas menerobos keluar sehingga perkembangan jamur tidak optimal. Terlalu tebal, mempersulit pemantauan pertumbuhan jamur di dalamnya. Menurut Dr Iwan Saskiawan, peneliti jamur di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Bogor, jamur merang memerlukan suhu 35—370C agar pertumbuhan optimal. Fluktuasi suhu akan menyebabkan tubuh buah kerdil, kehitaman, dan membuka seperti payung. Jamur seperti itu tergolong kelas apkir yang harga jualnya rendah.

Ito menghitung biaya pembuatan kotak plastik transparan maksimal Rp30.000 per 2 m2, sementara sungkup peti kayu Rp15.000—Rp20.000 per buah. Demi menekan biaya, pria kelahiran 4 Mei 1956 itu tidak mempasteurisasi sungkup dan media dengan uap panas yang lazim dilakukan di sistem kumbung. “Panas masih bisa didapatkan dari dedak,” tuturnya. Namun, menurut Carmin, pekebun jamur merang di Indramayu, cara itu sebenarnya riskan karena media tanam rentan serangan hama dan penyakit.

Carmin menyarankan pembudidaya tetap memanaskan sungkup dan media sampai suhunya 70—800C untuk mematikan telur serangga parasit, spora cendawan patogen, maupun bakteri. Dengan begitu jamur merang tanpa kumbung konvensional itu tetap tumbuh optimal. (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)


Artikel Terbaru

Kementan Mulai Salurkan Benih Tebu Unggul untuk Pengembangan Kebun Rakyat

Kementerian Pertanian mulai menyalurkan benih tebu unggul asal Kebun Benih Datar (KBD) secara berjenjang melalui mitra penangkar. Program itu...

More Articles Like This