Trubus.id — Gianto Wijaya kerap mengekspor mangga ke Singapura, Malaysia, dan Hongkong. Volume ekspor total 1,5 ton mangga per musim. Musim panen mangga jatuh pada Juni—Juli dan September—November.
Gianto memanfaatkan mangga dari kebun sendiri. Petani itu menanam arum manis di Pasuruan, Jawa Timur, seluas 10 hektare. Jarak tanam 8 m × 7 m sehingga populasi 150 tanaman per hektare.
Selain itu Ia juga bermitra dengan puluhan petani di Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto, dan Kabupaten Madiun—semua di Jawa Timur. Menurut Gianto total luas lahan petani mitra 250 ha.
Itulah sebabnya ia mampu memasok pasar ekspor dan domestik berkelanjutan. Menurut Gianto teknik pengemasan berperan penting. Gianto menerapkan penanganan pascapanen sejak mangga di kebun.
Petani mangga sejak 1990 itu memetik mangga dengan tingkat kematangan 95% pada sore hari ketika suhu tidak terlalu tinggi. Negara tujuan ekspor relatif dekat sehingga kematangan pun bisa 95%.
Ia langsung menyeleksi menjadi 3 kelas sesuai bobot yakni A berbobot 500—1.000 gram per buah, kelas B (400—500 gram), dan kelas C (300—400 gram). Ketiganya untuk ekspor dengan selisih harga Rp2.000—Rp 3.000 per kg pada kelas A—B dan Rp3.000—Rp4.000 (B—C).
Harga mangga berubah-ubah. Pada awal musim panen, Gianto membanderol kelas A Rp25.000 per kg. Gianto juga menyeleksi mangga berkulit mulus dan mangga berkulit lecet. “Biasanya sekitar 50% produk tidak lolos kelas ekspor,” ujarnya.
Sebagai contoh dalam volume panen 10 kuintal maka 5 kuintal masuk ke kelas ekspor. Sisanya masuk dalam peti untuk memasok pasar tradisional. Secara umum konsumen mancanegara menyukai kemanisan 18—20°briks.
Daging buah kuning agak jingga merata dan bobot 300—1.000 gram per buah. Gianto mencuci mangga dengan air bening dan mengelapnya hingga kering. Petani sejak 1990 itu mengemas mangga dengan kardus berisi 24 buah. Mangga siap mengisi pasar ekspor.
Menurut dosen Agribisnis, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., CSCM., kulit mangga sensitif sehingga membutuhkan penanganan khusus. Tujuannya supaya buah dalam kondisi mulus saat tiba di tangan konsumen.
Oleh karena itu, pekebun maupun pebisnis mangga harus menguasai teknik pengemasan yang baik dan benar. Selain untuk mempertahankan kualiatas, pengemasan juga berfungsi menaikkan nilai jual. Begini cara kemas mangga untuk ekspor. Panen mangga dengan tingkat kematangan 95%.
Lalu, sortir mangga berdasarakan bobot dan kemulusan kulit buah. Bersihkan permukaan kulit buah agar mulus. Lekatkan merek dagang di bagian buah. Kemudian, masukkan mangga dalam kardus. Setelah itu, tutup kardus dan beri label. Kardus berisi mangga itu siap dikirim.
