Friday, January 16, 2026

Unhas dan Taiwan ICDF Sukses Tingkatkan Produksi Benih Padi Bersertifikat, Pendapatan Petani Naik 20%

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Anas Tika menuai panen benih padi 120 ton pada 2023.  Hasil panen itu dari lahan 50 hektare (ha) yang ia kelola bersama petani lain. Petani  di Kecamatan Cempa, Kabupaten  Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan itu menanam benih seperti Inpari 32, Inpari 36, dan Ciherang.

Sejak 2018 Anas memeroleh 400 ton per tahun (2 musim) benih padi tersertifikat. Hal itu berkat pembinaan dari program mandiri benih. Selama enam tahun Centre of Excellence (CoE) Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Taiwan International Cooperation and Development Fund (Taiwan ICDF)  mengembangkan program  perbenihan padi yang berkualitas di Sulawesi Selatan.

Benih Padi Bersertifikat

Chief of Thaiwan Techical Mission  of Thaiwan ICDF, Mr. Kao Hsiang Tai dalam acara seminar “Expanding High-Quality Rice Seed Production in South Sulawesi” menyampaikan bahwa program ini  dalam rangka menghadapi perubahan iklim. Proyek itu telah membangun stasiun cuaca sederhana di daerah-daerah penting penghasil beras di Provinsi Sulawesi Selatan.     

Coodinator of Centre of Excellence Agriculture Faculty Hasanuddin University, Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc., menuturkan, kegiatan ini sudah berlangsung di 10 kabupaten di Sulawesi Selatan seperti di Kabupaten Gowa, Kabupaten Pinrang, dan Kabupaten Sidrap. 

Pada periode 2018—2020 telah menghasilkan total 6.634,48 ton gabah sebagai calon benih. Benih yang memenuhi standar mencapai 5.159,78 ton. Nilai produksi mencapai Rp61.917.360.000 atau sekitar USD4.360.000.

Yunus menjelaskan bahwa persentase benih tersertifikasi yang memenuhi standar meningkat. Terjadi kenaikan harga bell gabah (pre-seed) dari Rp4.250 per kg menjadi Rp5.250 per kg. “Telah membantu produsen benih padi meningkat pendapatannya sebesar 24%,” kata Yunus pada presentasinya.

Selain itu produksi rata-rata benih padi  kian meningkat. Semula 5 ton per ha menjadi 6,5 ton per ha.“Setelah melakukan sertifikasi benih padi dari produsen umumnya dengan tingkat kelulusan sekitar 70%, akhirnya mencapai kelulusan uji mutu ini mencapai 100%,” tutur dosen pertanian Unhas itu.

Pada 2023 proyek tersebut menghasilkan 4.000 ton benih padi (2 musim) di lahan seluas 400 hektar. Setelah identifikasi akan diperoleh 3.600 ton benih padi berkualitas. Pada akhir proyek produksi tahunan perolehan benih padi bersertifikat mencapai 11% dari permintaan aktual di Provinsi Sulawesi Selatan.

Teknologi Automatic Weather Station (AWS) membantu petani dalam memprediksi cuaca dan pergerakan hama. (Trubus/Widi Tria Erliana)

Proses budidaya benih padi di Sulawesi Selatan juga didukung berbagai teknologi seperti Automatic Weather Station (AWU)—pemantau cuaca dan migrasi hama di beberapa daerah. Teknologi lainnya yakni penggunaan drone untuk pemupukan dan penyebaran benih. Anas Tika juga sudah menggunakan teknologi seperti mesin transplanter untuk  proses tapin—sistem tanam pindah.

Surplus 2 juta ton

“Bukan lagi bicara riset dan pengembangan tapi skala yang sangat besar yaitu sepertiga dari kebutuhan benih padi di  Sulawesi Selatan itu diproduksi oleh kerjasama antara CoE Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin dan Taiwan ICDF,’’ tutur Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc.

Staff ahli gubernur bidang ekonomi, Pembangunan dan Keuangan, Sub- Keuangan Pemprov Dr. Since Erna Lamba, S.P., M.P., ketika menyampaikan pidato gubernur menghaturkan apreasiasi atas  kerjasama  tersebut. Benih unggul sehat bermutu dan bersertifikat berdampak terhadap peningkatan produksi petani.

Since memaparkan program mandiri benih andalan di Sulawesi Selatan terbukti dengan keberhasilan produksi beras pada 2022 surplus lebih dari 2 juta ton. Hasil itu juga mensuplai 27 provinsi. “Benih yang ditanam oleh petani harus berkualitas dan bersertifikat dan diproduksi sendiri di lahan petani penangkar di Sulawesi Selatan”.

Menteri Pertanian Indonesia, Prof. Dr. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si., M.H., menuturkan “Kegiatan ini dalam rangka meningkatkan pertanian kita, khususnya soal perpadian”. Keberhasilan Unhas bersama Taiwan ICDF untuk meningkatkan produktivitas padi yang tinggi, padi tahan hama, dan tahan kekeringan itu menjadi satu bahan riset bersama internasional melalui Taiwan ICDF dan Unhas,

Harapannya Unhas bersama Taiwan ICDF juga dapat mengembangkan benih berkualitas untuk komoditas lain seperti jagung, kacang-kacangan, dan cabai.  Unhas juga telah berkolaborasi dengan International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina dalam menghadapi ketahanan iklim dan smart agriculture. Pendapatan petani meningkat hingga 20%. (Widi Tria Erliana).

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img