Trubus.id—Tampilan mangga dengan kulit mulus dan berbentuk lonjong sempurna merupakan salah satu syarat untuk memasuki pasar ekspor. Saat dibuka daging buah terlihat oranye merata. Ketika mulut mencecapnya muncul rasa manis manis dan teksturnya kering alias tidak benyek.
Menteri Perdagangan, Dr. (H.C.) H. Zulkifli Hasan, S.E., M.M., menuturkan “nilai ekspor mangga di Indonesia sebesar US$ 4,56 juta.” Nominal itu diperoleh dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik 2021, yakni sebesar 3.112 ton mangga Indonesia di ekspor ke seluruh dunia.
Hal itu menunjukkan produksi mangga di Indonesia mampu bersaing dengan negara lain. Negara tujuan ekspor mangga seperti Singapura, Amerika Serikat, Cina, Hongkong, dan Vietnam.
Sebenarnya produksi mangga oleh pekebun di Indonesia sudah mendekati bahkan sudah sesuai dengan standar mutu ekspor. “Permasalahannya sekarang adalah tantangan setelah panen,” ujar Dosen Agribisnis, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., MM.,CSCM.
Tantangan setelah panen menurut Tomy adalah bagaimana cara mempertahankan kualitas produk tetap baik hingga tangan konsumen. Ditambah mangga merupakan buah klimaterik yang sangat rentan busuk perjalanan.
Kulit buah yang cukup sensitif juga membutuhkan penanganan lebih supaya buah dalam kondisi mulus saat mendarat di tangan konsumen. Salah satu cara untuk menjawab tantangan pasca panen yaitu melakukan teknik pengemasan yang baik.
Hasil panen buah mangga akan didistribusikan ke konsumen, baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri. Sangat disayangkan jika kualitas buah yang bagus tetapi mengalami kerusakan akibat penanganan pascapanen yang kurang tepat.
Menurut Tomy pengemasan juga dapat menaikkan nilai jual dari mangga itu sendiri. Mangga yang dikemas dalam kardus nilai jualnya jauh lebih tinggi dibandingkan mangga timbunan dalam peti.
Dari segi pasarnya juga berbeda. Selain tujuan ke luar negeri, mangga kemasan kardus juga bisa masuk ke toko buah dan pasar modern ternama. Bandingkan dengan mangga dalam peti masuknya ke pasar induk atau tradisional.
Untuk mengemas mangga, pekebun hanya perlu memberikan perlakuan sederhana. Gianto Wijaya, pekebun mangga dari Surabaya, Jawa Timur itu memetik buah sebelum 100% masak. Tujuannya supaya buah tidak busuk dalam perjalanan.
Selanjutnya ia menyortir dan membersihkan kulit buah menggunakan kain basah. tahap terakhir ia mengemas buah ke dalam kardus yang sudah dilengkapi dengan sekat supaya kulit buah tidak tergesek.
