Trubus.id—Bibit kakao menjadi salah satu faktor keberhasilan budidaya kakao. Maraknya penggunaan bibit unggul dengan produktivitas tinggi juga membuat bisnis benih dan bibit kakao menggiurkan.
Salah satunya penangkar bibit kakao di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, Sisilia Ni Wayan Wirasti. Penangkar bibit binaan PT Mars Symbioscience Indonesia itu memproduksi 115.000 bibit kakao per tahun. Dari jumlah itu bibit terjual 100%.
Dengan harga bibit Rp10.000 per polibag, Sisilia mengantongi omzet Rp1,15 miliar per tahun. Manisnya perniagaan benih kakao juga dirasakan Fikri Amir, penangkar benih di Payakumbuh, Provinsi Sumatra Barat. Fikri bahkan mengelola kebun khusus seluas 2 ha sebagai kebun induk.
Ia menanam lebih dari satu klon dalam satu area tanam. Populasi tanaman sebanyak 1.378 pohon. Fikri menanam kakao secara biklonal dengan komposisi TSH 858 (716 pohon) dan ICS 60 (662 pohon).
Kapasitas produksi untuk benih 150.000—200.000 biji per bulan. Fikri membanderol Rp1.000 per biji. Manisnya perniagaan benih kakao juga dirasakan Fikri Amir, penangkar benih di Payakumbuh, Provinsi Sumatra Barat, Fikri bahkan mengelola kebun khusus seluas 2 ha sebagai kebun induk.
Ia menanam lebih dari satu klon dalam satu area tanam. Populasi tanaman sebanyak 1.378 pohon. Fikri menanam kakao secara biklonal dengan komposisi TSH 858 (716 pohon) dan ICS 60 (662 pohon).
Kapasitas produksi untuk benih 150.000—200.000 biji per bulan. Fikri membanderol Rp1.000 per biji.
