Wednesday, January 28, 2026

Pakan Fungsional Bungkil Inti Sawit, Murah dan Bernutrisi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Dosen di Fakultas Peternakan, IPB University Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc, berinovasi menciptakan pakan fungsional PalmOFeed. Produk pakan itu berbahan bungkil inti sawit (BIS) atau palm kernel meal.

Pakan untuk unggas, ikan, dan babi itu unggul karena dapat menjadi sumber energi sekaligus protein. Nahrowi menuturkan dengan menggunakan PalmOFeed dalam campuran ransum dapat  menggantikan sumber energi bahan pakan dengan ketersediaan terbatas misalnya jagung.

Selain itu dapat mengurangi penggunakan bahan pakan impor seperti bungkil kedelai dan meat bone meal (mbm). “Bisa menurun walaupun tidak besar,” katanya. Pakan itu juga mengandung prebiotik sehingga peternak mendapatkan feed additive secara ototmatis.

Petani dapat menghemat sekitar Rp25—Rp50 per kg untuk pembelian prebiotik. Kelebihan lain harga PalmOFeed terbilang murah sehingga menurut Nahrowi dapat mengemat minimal Rp100 per kg ransum.

Lebih lanjut ia menuturkan dengan pengolahan pakan menggunakan teknologi bisa meningkatkan pemakaian bungkil  inti sawit atau PalmOFeed  minimal 3 kali lipat. “Sebelumnya dipakai diunggas itu hanya 3—5%, sekarang itu saya bisa tingkatkan 10—15% di dalam campuran ransum unggass seperti ayam broiler, layer, dan juga ikan,” kata Guru besar Fapet IPB itu.

Menurut Nahrowi 3 kunci memproduksi pakan itu ketersediaan, kualitas, dan harga. Harga pakan menjadi berfluktuasi dan kualitas beragam karena ketersedian bahan pakan tidak kontinu. Padahal bahan dapat menggunakan pangan lokal yan melimpah seperti bungkil ini sawit.

Bahan pakan itu memiliki harga murah dan ketersedian yang cukup. Namun kualitas masih kurang bagus sehingga ada pengolahan pakan menjadi PalmOFeed. Ia memilih mengolah bungkil inti sawit itu dengan harapan dapat menggunakan bahan pakan lokal.

“Bungkil inti sawit yang diekspor, disana digunakan untuk pakan ternak. Sayang kita belum bisa mengambil alih. Di sana sebagai makanan ternak ruminansia. Ternak ruminansia udah biasa, gak usah diolah pun bisa. Saya ingin memanfaatkan bahan pakan ini untuk unggas, ikan, dan babi,” kata Nahrowi.

Jika pemakaian optimal misal 10% dari campuran ransum unggas dan ikan Nahrowi optimis kebutuhan hingga 2 juta ton per tahun. “Kalau 2 juta ton pertahun produksi bungkil sawit ini kita punya hampir 7 juta ton. Jadi kita masih berlebih sebetulnya,” ujar Nahrowi.

Ia menuturkan kini sudah diproduksi secara masal oleh PT Buana Karya Noveltindo. Harapannya dapat menjadi solusi ketersedian pakan berkualitas.  Nahrowi menjelaskan sejak mendapatkan pendanaan  Kedaireka, selanjutnya menyosialisasikan ke industri pengolahan sawit dan ada perusahaan  mau menindaklanjuti.

Kini produksi 1.500—2.000 ton per bulan. “Permintaan terus meningkat maka kita berupaya membuka perusahaan pengolah tempat lain seperti Sumatra dan Sulawesi,” katanya.

Ia berharap PalmOFeed menjadi bahan baku unggulan Indonesia. Semua pabrik pakan bisa mengenal PalmOFeed dan mengenal kelebihannya. Harapannya bisa ekspor ke luar karena saat ini yang diekspor itu berupa sawit mentah.

Nahrowi menuturkan kalau sudah diolah menjadi suatu kelebihan. Nahrowi juga berharap pabrikasi tidak hanya di Kalimantan Selatan. “Kalau cuma 2.000 ton hanya memenuhi 1% dari kebutuhan 2 juta ton per tahun. Sangat kecil sekali. Perlu pengembangan ke luar Kalimantan Selatan,” katanya.

Kendala saat ini mendistribusikan PalmOFeed ke luar  Kalsel. Musababnya biasa logistik masih sangat mahal. “Berharap pemerintah membuat kebijakan bisa memfasilitasi paling tidak biaya transportasi lebih murah agar bisa didistribusikan,” katanya pada siaran IPBTV.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img