Trubus.id—Mocaf (Modified Cassava Flour) merupakan tepung singkong yang termodifikasi. Untuk mempermudah proses produksi, sejumlah produsen menggunakan mesin untuk mempoduksi mocaf itu.
Menurut produsen tepung mocaf di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Warti Sonto, menggunakan mesin memiliki sejumlah keuntungan. Misalnya ia menggunakan mesin pemotong singkong menjadi bentuk cip berkapasitas 2,5 ton per jam.
Mesin itu hanya memerlukan luasan sekitar 1,5 m2 dan tinggi sekitar 1 m. Menurut ketua kelompok wanita tani (KWT) Ngudisari itu, mengoperasikan mesin pembuat cip hanya butuh bahan bakar solar sebanyak 0,5 liter selama 1 jam.

Ia cukup memasukkan singkong yang sudah dikupas dan dicuci bersih ke dalam mesin, hasilnya cip singkong dengan ketebalan merata. Sementara pengupasan kulit singkong masih manual menggunaan pisau. Hal itu karena bentuk dan ukuran umbi umumnya tidak seragam.
Ia menuturkan jika harga solar Rp13.000 per liter, untuk mengolah singkong menjadi 2,5 ton cip ongkos produksi untuk bahan bakar hanya Rp7.500.
Menurut Warti jika konvensional, ia butuh 1 hari kerja oleh 1 tenaga kerja untuk membuat cip dari 100 kg singkong. Artinya butuh 2—3 tenaga kerja per hari untuk mengolah 2,5 ton cip. Keruan saja biaya produksi tanpa mesin pun lebih mahal.
Jika upah membuat cip Rp40.000 per hari maka Warti mesti mengeluarkan ongkos produksi hingga Rp120.000 untuk memproduksi cip singkong. Selain itu, ketebalan cip pasti tidak konsisten dengan pemotongan manual.
Ketebalan cip ideal yaitu 2—3 mm yang berpengaruh pada optimalisasi fermentasi dan mempercepat pengeringan. Jika ketebalan cip tidak sesuai tentu kualitas tepung pun tidak optimal.
Proses membuat cip salah satu fase krusial dalam produksi mocaf. Menurut Warti harga mesin pembuat cip itu Rp35 juta.
Meskipun relatif mahal sebenarnya investasi itu layak mengingat umur pakai mesin 5—10 tahun. “Selama dua tahun pemakaian tidak ada kendala,” kata pengolah tepung mocaf sejak 2013 itu.
Proses selanjutnya mencuci cip dan memfermentasi pada bak selama 72 jam. Warti memerlukan tiga hari penjemuran dengan matahari penuh hingga cip berkadar air maksimal 11%. Indikator mudah kadar air sudah sesuai, cip patah jika ditekuk.
Setelah cip kering barulah dilanjutkan dengan penepungan. Dimensi mesin penepung di tempat Warti hampir sama dengan mesin pembuat cip. Harganya pun sama sekitar Rp35 juta. Menurut Warti kapasitas penepung 300 kg selama 3 jam.
Mengoperasikan mesin butuh bahan bakar solar 1 liter selama 3 jam. Sayangnya, saringan tepung pada mesin masih 90 mesh. Solusinya Warti kerap menyaring ulang tepung sebelum mengemas.
