Trubus.id—Meski musim kemarau, cuaca di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat akhir-akhir ini lebih dingin dari biasanya. Menurut Dosen dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., suhu dingin di pagi hari saat musim kemarau merupakan hal wajar.
Ketua Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung (ITB), itu menuturkan tiga faktor yang memengaruhi kondisi itu seperti sedikitnya awan saat kemarau, angin, dan kelembapan udara.
Menurut Rais awan berperan penting dalam mengatur suhu udara. Awan berfungsi sebagai ‘selimut’ yang memantulkan sinar matahari dan mencegah panas sinar matahari mencapai permukaan bumi. Ia menuturkan saat kemarau, jumlah awan di langit relatif berkurang.
Rais menuturkan pada siang hari saat awan sedikit, sinar matahari akan lebih banyak turun ke bumi, suhu udara terasa lebih panas. Sebaliknya saat malam hari, panas yang diserap bumi saat siang dilepaskan kembali ke luar angkasa dengan cepat melalui proses radiasi.
“Akibatnya, suhu udara saat malam hingga pagi turun drastis. Namun, proses pendinginan tersebut tergantung pula dari keberadaan awan di malam hari,” ujar Rais dilansir pada laman ITB.
Ia menuturkan pada malam hari input panas matahari sudah tidak ada. Menurut Rais jika tidak ada awan saat malam, panas dari bumi lepas ke luar angkasa. “Tapi kalau ada awan, panasnya dibalikkan lagi oleh awan sehingga permukaan bumi mendinginnya lambat,” ujarnya Rais.
Menurut Rais puncak panas saat musim kemarau paling tinggi karena terik matahari dan puncak dinginnya pun paling rendah. Musababnya jarak antara temperatur maksimum dan minimum harian cukup besar dibandingkan musim hujan yang relatif banyak awan.
Fakto kedua yakni angin. Menurut Rais suhu menjadi lebih dingin ketika angin tenang dibandingkan saat ada angin berembus. Ia menuturkan saat cuaca dingin, angin tenang atau tidak ada angin akan menyebabkan pendinginan lebih efetif. Harap mafhum angin akan ‘mengaduk’ udara malam hingga pagi hari.
“Saat malam, udara di bagian atas lebih hangat daripada bagian bawah. Dengan begitu, saat ada angin akan “mengaduk” udara yang hangat ke bawah, yang dingin ke atas,” ujar Rais.
Ia menuturkan faktor lain yakni kelembapan udara. Hal itu berkaitan dengan suhu dingin yang hampir serupa dengan banyak sedikitnya awan, namun efeknya lebih kecil.
Menurut Rais tinggi rendah kelembapan udara tidak secara langsung membuat suhu udara menjadi dingin. “Pada udara dengan kelembapan rendah, udara akan terasa lebih dingin,” katanya.
Terkait cuaca dan suhu dingin ke depannya, Rais menyarankan agar dapat melihat prakiraan cuaca resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
