Saturday, January 17, 2026

Ragam Kreasi Olahan Wortel

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Mengolah wortel menjadi ragam produk dapat menjadi salah satu alternatif untuk memberikan nilai tambah. Masyarakat dapat membuat penganan yang sehat. Selain itu, untuk meningkatkan minat makan sayur.

Mateus Kristiyanto, S.T., dari PT Lingkar Organik Indonesia misalnya mengolah wortel menjadi mi.  Wortel menjadi salah satu dari 10 varian mi sayuran kreasi PT Lingkar Organik Indonesia itu.

Sayuran lain yang menjadi bahan campuran mi yakni bit, buah naga, dan sawi. Saban bulan kebutuhan wortel segar organik 100—200 kg per bulan. Pasokan famili Apiaceae itu dari Kelompok Tani Bumi Lestari.

mi wortel
Produk mi berbahan wortel organik. (Dok. Lingkar Organik)

Produksi mi hingga 1.000 bungkus per hari. Masa simpan mi wortel hingga 10 bulan. Olahan lainnya berupa tepung wortel besutan CV Be Organik International.

Kepala Penjualan dan Penawaran  CV Be Organik Internasional, Aditia Warman, S.I.Kom., menuturkan bahwa produksi wortel mencapai 60—80 kaleng perpekan. Tujuan awal pembuatan bubuk wortel untuk mengajak anak-anak agar suka makan sayuran.

tepung bubuk wortel
Bubuk wortel (carrot powder). (Dok. Be Organik)

Kelebihan sayuran dalam bentuk bubuk yaitu tidak berbau tetapi tidak memengaruhi rasa apabila dicampur dengan masakan. CV Be Organik Internasional Sudah memiliki sertifikat pertanian organik sebagai produsen pangan olahan organik sejak Agustus 2022.

Panen raya membuat pasokan tinggi tetapi permintaan tetap sehingga hasil panen sulit terjual. Membuat produk olahan merupakan salah satu teknologi untuk mengurangi food loss and food waste dari sayuran segar.

“Olahan produk pertanian merupakan upaya menurunkan tingkat kehilangan dan pemborosan makanan (food loss and food waste),” ujar  Ahli Peneliti Madya di Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia (BRIN), Nurdi Setyawan, S.T.P., M.Agr.

Ia menuturkan  saat ini ada teknologi pengolahan yang menekan penurunan nilai gizi yaitu vacuum frying. Teknologi itu menekan tekanan panas sehingga titik didih turun.

“Suhu dengan titik didih 60—80°C membuat kandungan gizi penganan tidak banyak rusak dan terdegradasi akibat suhu panas ketika pengolahan,” ujarnya.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img