Pekebun sekaligus pemasok buah naga asal Kabupaten Subang, Jawa Barat, Dedi Sumardi, fokus memproduksi buah naga lokal premium. Ia menilai perkembangan pasar buah naga saat ini menunjukkan tren yang positif.
Meski harga buah naga cenderung turun akibat panen raya Januari—Februari, permintaan tetap stabil. Menurut Dedi, konsumen tetap mencari buah naga berkualitas tinggi.
Salah satu varietas andalannya adalah buah naga golden isis. Ia mampu menjual 200 hingga 250 kilogram per pekan untuk memenuhi permintaan pasar.
Harga buah naga golden isis dari pekebun mencapai Rp45.000 per kilogram. Saat masuk ke pasar modern, harga bisa melonjak hingga Rp125.000 per kilogram.
“Sebenarnya konsumen juga mengincar buah naga ecuador,” kata Dedi. Namun, pasokan buah naga ecuador masih bergantung pada impor.
Buah naga ecuador belum dikembangkan secara luas di dalam negeri. Berkat kehadiran varietas lokal premium seperti golden isis, kebutuhan konsumen tetap bisa terpenuhi.
Kunci mempertahankan pasar, menurut Dedi, adalah menjaga mutu produk secara konsisten. Sistem grading berdasarkan ukuran dan mutu sangat penting dalam distribusi buah.
Penerapan grading tidak hanya berlaku pada buah naga. Pekebun belimbing di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sucipto, juga menerapkannya.
Terdapat selisih harga antara kelas super dan kelas B sebesar Rp3.000 hingga Rp6.000 per kilogram. Konsumen tetap lebih memilih buah kelas super meski harus membayar lebih mahal.
