Sunday, April 26, 2026

Strategi Mengatasi Kemarau bagi Peternak Walet

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Musim kemarau menjadi tantangan serius bagi pemilik gedung walet karena produksi sarang mengalami penurunan drastis. Menurut praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya, potensi penurunan panen saat kemarau bisa mencapai 60—70%.

Artinya, jika saban bulan peternak memanen 10 kg sarang, produksi berpotensi turun menjadi 3—4 kg saat kemarau. Beberapa faktor pemicu penurunan produksi adalah turunnya populasi serangga sebagai pakan dan kekurangan air minum walet.

“Kondisi bisa saja diperparah jika ada asap karena kebakaran hutan,” kata Harry. Menurut Harry, menggunakan pakan tambahan saja belum cukup sebagai solusi mengatasi kemarau.

Selain pakan, walet juga membutuhkan minum. Menyediakan penyemprot air atau pengabut bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan minum si liur emas.

Penyemprot air bisa diletakkan di ruang putar atau di luar area gedung walet. Harry menyarankan menyalakan penyemprot air empat kali sehari saat kemarau, yakni pada pukul 11.00, 15.00, 17.00, dan 18.00.

Penyemprot air menyala selama 15 menit. Tujuannya adalah memberi walet minum dan menurunkan suhu gedung.

Suhu ideal gedung walet lebih rendah sekitar 4℃ dibandingkan dengan suhu luar. Terlalu dingin atau terlalu panas membuat walet tidak betah.

Namun, Harry mengingatkan peternak tidak boleh menggunakan sembarang air. “Harus air bersih, air mengandung logam berat terlarang karena digunakan sebagai air minum walet,” katanya.

Peternak walet juga mengeluhkan kondisi saat kebakaran hutan. Asap membuat walet makin merana.

Kebakaran hutan kerap terjadi di sentra walet, yakni Sumatera dan Kalimantan. Bagaimana dengan asap?

Harry menyarankan peternak menggunakan sensor asap di gedung walet. Sensor asap akan terintegrasi dengan sprayer, sehingga jika ada asap masuk, air akan segera menyala.

Sprayer dipasang di langit-langit gedung walet untuk menyemburkan air ketika sensor asap menyala. Ibarat sistem sprinkel pemadam kebakaran di gedung.

“Asap bisa kalah dengan air,” kata alumnus Jurusan Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan itu. Kelebihan lainnya adalah menjaga suhu dan kelembapan ideal di gedung walet.

Kelembapan ideal 88—90%, jika di atas 90% disarankan menggunakan anticendawan agar makin optimal. Harry juga menyarankan menggunakan parfum sebagai tambahan.

Peletakan parfum di dekat lubang masuk dan pintu mengarah ke ruang inap. Tujuannya membuat si liur emas makin betah.

Pengalaman Harry, kombinasi sprayer, pakan, dan parfum bisa meningkatkan produksi 40% saat kemarau dibandingkan dengan tanpa perlakuan. Potensi peningkatan hasil bisa hingga 50%—60% saat musim hujan.


Artikel Terbaru

Kemegahan Macfrut 2026: Pameran Buah dan Sayur Internasional Resmi Dibuka, Soroti Daya Saing dan Kemitraan Global

Pameran internasional rantai pasok buah dan sayuran, Macfrut 2026, akhirnya resmi membuka pintu untuk edisi ke-43. Berlokasi di Rimini...

More Articles Like This