Trubus.id – Pada Forum Pertemuan Ilmiah Riset dan Inovasi ORNAMAT #71 yang digelar secara daring pada Selasa (9/9), dua peneliti BRIN memaparkan hasil riset terkini mengenai potensi material zeolit dalam sektor energi terbarukan dan mitigasi perubahan iklim.
Muhammad Al Muttaqii, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Katalisis BRIN, mempresentasikan pemanfaatan zeolit jenis HZSM-5 untuk mengonversi minyak nabati menjadi biofuel ramah lingkungan.
Zeolit HZSM-5 dikenal sebagai material berpori mikro dengan stabilitas termal tinggi, sehingga efektif digunakan dalam proses hydrocracking. Selain itu, material ini juga memiliki potensi dalam aplikasi air pollution remediation, wastewater treatment, serta penyimpanan hidrogen dan karbon dioksida (CO₂).
“Untuk meningkatkan performanya, HZSM-5 dapat dimodifikasi dengan logam transisi seperti nikel, kobalt, atau molibdenum. Modifikasi ini terbukti mampu mengarahkan produk akhir menjadi bahan bakar berkelanjutan, seperti biodiesel, biokerosin, dan biojet fuel,” jelas Muttaqii.
Ia juga menambahkan bahwa penelitian menggunakan minyak nabati non-edible, seperti kemiri sunan, jarak, nyamplung, dan kapuk, guna menghindari kompetisi dengan kebutuhan pangan. Salah satu hasil riset menunjukkan bahwa fraksi bahan bakar transportasi berkualitas tinggi dapat dihasilkan pada suhu reaksi 350°C dengan kondisi katalis tertentu.
Sementara itu, Sudiyarmanto, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, memaparkan riset mengenai Zeolitic Imidazolate Frameworks (ZIFs), material multifungsi yang dikembangkan untuk penangkapan dan konversi karbon dioksida.
“ZIF memiliki keunggulan berupa luas permukaan mencapai 1.500 m²/g serta stabilitas kimia dan struktur yang tinggi. Ini menjadikannya kandidat kuat sebagai adsorben CO₂ maupun penopang katalis untuk mengubah CO₂ menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya dilansir pada laman BRIN.
Peningkatan emisi CO₂ secara global, yang diperkirakan telah mencapai 419 ppm pada 2025, menjadi tantangan serius bagi upaya mitigasi perubahan iklim. Indonesia sendiri berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 30% pada 2030 dan mencapai net zero emission pada 2060.
Namun, meskipun hasil awal riset ZIF menjanjikan, Sudiyarmanto menyoroti beberapa tantangan implementasi di Indonesia, seperti tingginya biaya investasi serta kerentanan material terhadap kelembapan. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dan regulasi dinilai krusial, sebagaimana telah terbukti dalam keberhasilan program biofuel sebelumnya.
Forum ORNAMAT menjadi ruang strategis untuk mendorong sinergi riset dan inovasi, guna mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
