Rini Nurulita tidak menyangka hobi menanam tanaman hias aglaonema saat pandemi Covid-19 pada 2020, menjadi ladang pendapatan baru. Sebelum pandemi Rini berprofesi sebagai penggiat pendidikan informal yang memberikan les pelajaran tambahan kepada anak-anak sekitar. Pandemi memaksa banyak orang beradaptasi termasuk Rini. Beruntung hobi yang ia tekuni kini menjelma menjadi Gallery Aglaonema, sebuah usaha yang salah satunya berkat dukungan konektivitas digital Indosat IM3, berhasil menjangkau kosumen dari berbagai daerah di Indonesia.
Kisah Rini menjadi bukti nyata bagaimana jaringan internet yang andal tidak hanya menghubungkan sinyal, tetapi juga mempertemukan semangat wirausaha dengan kesempatan tanpa batas. Awalnya ia tidak berniat menjual aglaonema. Seiring berjalannya waktu, aglaonema milik Rini bertambah banyak memenuhi halaman rumah. Suatu hari seorang tetangga bertanya apakah tanaman itu dijual.
Pemasaran meluas
Dari situ lah, penjualan kecil-kecilan dimulai dengan sistem rak. “Satu rak berisi 6—7 pot aglaonema, laku terjual sekitar dua rak sebulan. “Harga satu rak sekitar Rp1 juta,” kata perempuan asal Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, itu. Pelan tapi pasti, roda usaha mulai berputar. Keyakinan Rini pada aglaonema menguat pada awal 2021. Seorang pedagang tanaman dari Tangerang—yang datang tanpa rencana membeli—pulang membawa aglaonema senilai Rp5 juta. Momen itulah yang meyakinkan Rini bahwa aglaonema bukan lagi sekadar pengisi waktu, melainkan sebuah prospek bisnis yang nyata.
Menyadari potensi pasar yang lebih luas, Rini mulai beradaptasi. Ia belajar budi daya dan merawat aglaonema dengan baik secara otodidak melalui YouTube. Rini juga rajin berkunjung ke nurseri-nurseri aglaonema di berbagai daerah di tanah air serta mengikuti kontes tanaman hias untuk belajar, memperluas jejaring, dan memahami pasar. Dari semua usaha itu ia juga mengenal aglaonema lokal dan hibrida. Modal Rini bukan uang besar, melainkan ketekunan dan keberanian belajar mandiri.

Di balik pertumbuhan Gallery Aglaonema, ada peran penting konektivitas digital. Rini mengandalkan Indosat IM3 sejak awal menekuni usaha itu. Bukan sekadar pilihan paket yang ekonomis, tapi karena koneksi yang cukup stabil untuk kebutuhan harian usaha agribisnis seperti Rini. Misal membalas pesan pelanggan, mengirim foto dan video tanaman, serta melakukan penjualan langsung di media sosial. “Kalau sekarang, penjualan paling tinggi lewat status WhatsApp,” ujar Rini.
Satu unggahan WhatsApp bisa dilihat 60—100 kontak yang mayoritas merupakan pelanggan setia dan pedagang tanaman. Ia juga melakukan Facebook Live untuk memasarkan aglaonema hampir setiap pekan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Dari yang awalnya hanya melayani tetangga dan kerabat dekat, jaringan digital membuka pintu yang tak terduga. Melalui fitur live streaming yang bermodal ponsel dan koneksi IM3, Rini bisa menunjukkan koleksi dan perawatan tanamannya secara real-time kepada calon pembeli di berbagai penjuru Indonesia.
Yang mengejutkan, peminat terbesarnya justru datang dari luar Pulau Jawa. “Yang di live itu kebanyakan langganannya orang Sumatera dan Kalimantan,” kata Rini. Ia bergabung dalam grup jual-beli online yang bernaggotakan ribuan penjual dari seluruh Indonesia. Koneksi internet IM3 menjadi jembatan yang menghilangkan jarak sehingga mempertemukan kecintaan Rini pada aglaonema dengan semangat kolektor di daerah lain.
Konektivitas digital penting
Live streaming bukan hanya soal jualan, tapi membangun legitimasi. “Orang bisa lihat langsung kebun dan perawatan tanaman kita. Mereka jadi percaya, ini bukan sekadar calo atau jualan gambar,” kata Rini. Dari satu sesi live streaming, transaksi memang tidak selalu ramai, tetapi nilainya bisa mencapai jutaan rupiah. Yang terpenting kegiatan itu membuka pintu ke pasar baru. Keandalan jaringan IM3 tidak hanya menghubungkan sinyal, tetapi juga membangun kepercayaan yang menjadi modal utama dalam bisnis.

Dampaknya terukur dan signifikan. Dari yang awalnya hanya menjual sekitar 15 pot per bulan, kini Gallery Aglaonema bisa menjual lebih dari 50 pot dengan omzet mencapai Rp8 juta—Rp10 juta per bulan. Konektivitas juga memungkinkannya mengembangkan sayap dengan membuka kelas edukasi singkat (Aglo Class) dan menjual produk perawatan tanaman. “Dahulu saya gaptek banget. Karena kebutuhan ini, jadi belajar TikTok, edit video, live streaming, dan unggah (posting) sendiri,” kata Rini.
Proses adaptasi digital yang ia lakukan secara otodidak menjadi bukti nyata pemberdayaan. Layanan digital IM3 tidak hanya menjadi alat, tetapi juga katalisator untuk belajar dan berkembang. Mimpi Rini pun kini semakin membesar yaitu memiliki entitas bisnis lengkap yang memadai seperti showroom, pusat edukasi, dan pasar untuk aglaonema. Ia juga mulai melirik pasar ekspor, meski masih belajar dan berhitung matang.
Prinsipnya tetap sama yaitu bertumbuh bertahap, kolaboratif, dan berakar pada kualitas. Semua rencana itu dibangun di atas fondasi keyakinan bahwa dengan koneksi yang memberdayakan, tidak ada batas yang tak bisa dilewati. Dalam operasional bisnis yang sangat bergantung pada visual dan komunikasi instan, keberlangsungan sinyal yang stabil merupakan nadi utama. Rini mengakui bahwa segala aspek usahanya kini bergantung pada koneksi digital.
“Sangat membantu. Bisnis model seperti ini harus siap dihubungi kapan saja. Koneksi yang lancar itu mempengaruhi sekali,” kata Rini. Kisah Gallery Aglaonema menunjukkan bahwa konektivitas bukan sekadar soal sinyal. Dengan dukungan layanan digital seperti Indosat IM3, internet menjadi jembatan yang mempertemukan semangat belajar, kepercayaan pelanggan, dan kesempatan pasar lintas pulau. Dari rak kecil di depan rumah, aglaonema Bogor kini menyapa Nusantara dan terus bertumbuh. (Riefza Vebriansyah)

