Arwana (Scleropages formosus) selama ini dikenal sebagai ikan hias bernilai tinggi. Namun sedikit yang menyadari bahwa spesies purba ini juga memiliki kemampuan kognitif yang cukup kompleks. Studi tentang perilaku ikan predator ini menunjukkan bahwa kemampuan mengenali pemilik sering kali berkaitan dengan memori jangka panjang dan respons visual yang berkembang baik. Prinsip ini diperkuat oleh penelitian Brown dalam Journal of Fish Biology. Brown menegaskan bahwa banyak spesies ikan memiliki kapasitas memori hingga beberapa bulan. Hal itu menunjukkan bahwa pengenalan manusia bukanlah hal mustahil bagi arwana.
Pengenalan pemilik pada arwana juga ditopang oleh kemampuan visualnya yang tajam. Struktur mata arwana yang menghadap ke depan memberikan sudut pandang luas sehingga memungkinkan deteksi detail halus pada gerakan manusia. Ini sejalan dengan kajian Parker dalam Environmental Biology of Fishes, yang memaparkan bahwa ikan predator permukaan memiliki akurasi pengenalan bentuk dan kontras warna lebih tinggi dibanding ikan air tawar pada umumnya. Arwana kemudian mengasosiasikan sosok pemilik dengan rutinitas pemberian pakan sehingga membentuk pola belajar yang stabil.
Kemampuan belajar asosiasi pada arwana semakin menguatkan penjelasan ilmiah mengapa ikan ini dianggap “mengerti” siapa yang merawatnya. Penelitian Yue dan rekan dalam Applied Animal Behaviour Science, mengungkapkan bahwa ikan memiliki kemampuan conditioning mirip mamalia sederhana. Artinya stimulus yang berulang dapat memicu perubahan perilaku jangka panjang. Pada arwana, kebiasaan pemilik mendekat ke akuarium pada waktu tertentu menyebabkan ikan mengingat pola tersebut sebagai sinyal positif. Tidak heran mereka lebih responsif pada orang yang sama dibanding orang lain.
Dari sisi neurobiologi, arwana termasuk kelompok ikan purba dengan otak yang proporsinya lebih besar dibanding banyak spesies ikan hias modern. Volume otak tersebut terutama mendukung area olfaktori dan optik, yang berperan dalam pengolahan memori dan pengenalan pola. Hal ini disinggung oleh Nieuwenhuys dalam The Central Nervous System of Vertebrates. Ia menjelaskan bahwa ikan dari ordo Osteoglossiformes memiliki struktur otak yang lebih kompleks pada bagian mesensefalon, wilayah yang berperan pada pemrosesan visual dan pembelajaran.
Keseluruhan fakta ini menunjukkan bahwa arwana bukan hanya ikan bernilai estetika. Ikan ini juga makhluk dengan kecerdasan yang kerap diremehkan. Kombinasi memori spasial, ketajaman visual, serta kemampuan belajar membuat arwana mampu mengenali manusia yang dekat dengannya. (Naya Maura Denisa)
