Buah mangga kini tak lagi sekadar buah eksotis yang dinikmati saat musimnya tiba. Di pasar global, “raja buah” asal daerah tropis ini telah berevolusi menjadi kebutuhan diet harian bernilai ekonomi sangat tinggi. Fakta ini terungkap jelas dalam pameran agrikultur internasional Macfrut 2026 di Rimini, Italia.
Dalam forum khusus yang membedah potensi buah tropis, pasar mangga dunia terbukti makin menggiurkan. Direktur Jenderal Freshfel Europe, Philippe Binard, mengungkapkan bahwa produksi mangga global saat ini menembus 60 juta ton, melonjak 50% dalam kurun 15 tahun terakhir. “Eropa sendiri mencatat kenaikan impor mangga hingga 110%, mencapai 444.500 ton pada tahun 2025,” ujar Binard.
Merespons tingginya permintaan itu, negara-negara produsen saling berpacu. Kolombia secara agresif menargetkan ekspor mangga hingga 500.000 ton pada 2030, bersaing ketat dengan negara raksasa eksportir lainnya seperti India, Meksiko, dan Brasil.
Kunci Nutrisi dan Inovasi Olahan
Tingginya minat konsumen Eropa terhadap mangga ternyata tidak lepas dari faktor tren kesehatan. Profesor Arrigo Cicero dari Universitas Bologna memaparkan bukti klinis bahwa nutrisi dalam mangga memberikan dampak positif bagi metabolisme lipid dan karbohidrat serta menekan risiko penyakit kardiovaskular.
Tantangan terbesar bagi negara pengekspor yakni menjaga keawetan dan nutrisi asli buah saat dikirim melintasi benua. Menjawab kendala ini, peneliti teknologi pangan, Junior Bernardo Molina Hernandez, mengenalkan metode pengawetan canggih tanpa efek perebusan panas (thermal impact).
Teknologi mutakhir seperti plasma dingin, ultrasound, hingga air terelektrolisis terbukti sangat ampuh mengawetkan produk olahan seperti nektar mangga. Cara ini mempertahankan rasa, warna, dan gizi asli buah yang biasanya rusak akibat proses pasteurisasi konvensional.
Penerapan skala industrinya makin sempurna dengan inovasi mesin High-Pressure Homogenization (HPH) yang dipresentasikan oleh Silvia Grasselli dari GEA Group. Lewat tekanan mekanis yang ekstrem, sari buah mangga bisa bertekstur sangat lembut, tahan lama, dan higienis.
Dinamika pasar mangga di Macfrut 2026 ini sejatinya membawa pesan penting bagi Indonesia. Seperti ditegaskan CEO Fruitmarket Agribusiness, Eryvan Pires, mangga tak lagi dijual sebagai barang curah, melainkan produk yang menawarkan mutu dan pengalaman rasa bagi konsumen. Jika pekebun di tanah air berani mengadopsi teknologi olahan modern ini, langkah mangga lokal kita untuk merajai pasar ekspor premium dunia akan semakin terbuka lebar. (Riefza Vebriansyah)
