Thursday, June 4, 2026

Jutawan dari Kuping Gajah

Rekomendasi
- Advertisement -

Irvan mengekspor 30—50 tanaman kuping gajah setiap bulan. Dari penjualan itu, ia meraup omzet minimal Rp50 juta per bulan. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan berbagai jenis kuping gajah hasil penyilangan sendiri.

Kuping gajah hibrida produksinya kini telah merambah pasar Amerika Serikat, Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Australia. “Bahkan tahun ini ada pelanggan baru dari Mauritius, sebuah negara kepulauan di Samudra Hindia,” kata pengusaha asal Jakarta Timur, DKI Jakarta, itu.

Irvan tak menyangka kuping gajah hibridanya mampu menembus pasar mancanegara. Padahal, ia memulai usaha itu dari sebuah nurseri sederhana di teras rumah. Kesempatan menembus pasar ekspor datang pada akhir 2024 ketika seorang rekannya yang tinggal di Inggris membeli koleksi kuping gajah miliknya. Lambat laun tanaman itu populer di kalangan kolektor di sana.

Irvan belum memiliki izin ekspor sendiri. Oleh karena itu, ia bermitra dengan perusahaan penyedia jasa ekspor yang menangani proses sterilisasi dan pengemasan tanaman sesuai standar negara tujuan. “Jadi, saya hanya mengirim tanamannya,” ujar Irvan.

Menantang

Irvan mulai mengoleksi kuping gajah sejak 2021 dan mendirikan nurseri pada 2022. Ia tertarik mengoleksi tanaman itu karena pertumbuhannya relatif kompak.

“Tidak seperti monstera atau philodendron yang cepat membesar dan pertumbuhannya terlalu pesat,” ujar Irvan.

Menurut pria berusia 32 tahun itu, kuping gajah juga unik dan relatif mudah disilangkan untuk menghasilkan varietas baru dengan karakter menarik.

“Kuping gajah itu bagi saya terlihat sangat maskulin karena coraknya tampak berotot,” katanya.

Awalnya Irvan mengoleksi berbagai spesies kuping gajah. Koleksi pertamanya ialah Anthurium clarinervium. Ia juga mengoleksi Anthurium papillilaminum Fort Sherman, yakni varian A. papillilaminum yang berasal dari Fort Sherman, Panama.

Tanaman itu banyak diburu kolektor karena memiliki daun bertekstur unik, berbentuk hati, berwarna hijau gelap, dan dilengkapi urat daun yang menonjol. Pada fase muda, warna daunnya terkadang merah kecokelatan sebelum berubah menjadi hijau tua saat dewasa.

Selain itu, Irvan mengoleksi berbagai spesies asal Ekuador. Namun, beberapa di antaranya tergolong sulit dibudidayakan.

“Beberapa jenis dari Ekuador sulit ditumbuhkan,” ujar Irvan.

Ketika pertama kali mengoleksi tanaman tersebut, fasilitas budidayanya masih sangat terbatas. Apalagi ia menanamnya di teras rumah di Jakarta yang beriklim panas.

“Pokoknya menantang sekali karena temperatur dan kelembapannya tidak memadai,” kata Irvan.

Padahal, sebagian besar habitat asli kuping gajah berada di dataran tinggi yang beriklim sejuk.

Untuk mengatasinya, Irvan membangun greenhouse mini di teras rumah dengan menutup bagian atas menggunakan plastik ultraviolet. Ia juga memasang grow light atau lampu tanam yang dirancang untuk mensimulasikan spektrum cahaya matahari.

Lampu tersebut berfungsi merangsang fotosintesis dan mendukung pertumbuhan tanaman, terutama pada area yang minim cahaya. Grow light menyediakan panjang gelombang merah dan biru yang penting untuk perkembangan daun, batang, dan pembungaan.

Irvan juga memasang humidifier untuk meningkatkan kelembapan udara. Alat itu bekerja dengan menyemprotkan uap air atau kabut halus ke lingkungan sekitar tanaman. Selain itu, ia menambahkan kipas guna memperlancar sirkulasi udara.

Ia bahkan membuat rak-rak khusus untuk perawatan tanaman secara intensif. Pada rak tersebut dipasang grow light dan humidifier tambahan.

“Investasinya lumayan besar, tetapi hobinya menyenangkan,” ujar pria yang juga berbisnis di bidang garmen itu.

Mahal

Sejak awal mengoleksi kuping gajah, harga tanaman itu memang tergolong tinggi. Harga bibit saat itu mencapai Rp1,2 juta per tanaman karena popularitas kuping gajah sedang meningkat.

Namun, tingginya harga tidak menyurutkan minat Irvan.

“Kebetulan koleksi saya memang kelas collector item. Jadi, tidak sembarang tanaman saya beli dan bukan tanaman pasaran,” ujarnya.

Sebagian besar koleksinya berasal dari Amerika Serikat. Ia mendapatkannya setelah aktif mengikuti akun media sosial para kolektor luar negeri.

Salah satu tanaman yang menarik perhatiannya ialah Anthurium carlablackiae. Tanaman itu memiliki daun berbentuk lanset panjang dengan tekstur beludru tebal. Daun mudanya berwarna tembaga atau kemerahan, lalu berubah menjadi hijau gelap hampir hitam saat dewasa. Urat daunnya menonjol dan kontras sehingga tampak sangat menarik.

Saat itu harga bibit Anthurium carlablackiae mencapai Rp8,5 juta per tanaman. Bahkan, Irvan harus menunggu sekitar dua bulan hingga tanaman tiba di Indonesia.

Sayangnya, bibit yang pertama kali ia beli tidak berhasil bertahan hidup. Meski demikian, ia kembali memberanikan diri untuk membeli tanaman yang sama.

Setelah berhasil mendatangkan tanaman dari Amerika Serikat, Irvan semakin rutin mengimpor berbagai jenis kuping gajah, seperti Anthurium Stripey X2, Anthurium Michelle Variegata, Anthurium Doc Block, dan Anthurium Circus Peanuts.

Bahkan, ada jenis tertentu yang harga bonggolnya mencapai Rp30 juta per bonggol.

Meski banyak koleksi berasal dari luar negeri, Irvan juga mengoleksi varietas lokal yang memiliki nilai tinggi di pasar internasional.

“Ada beberapa jenis kuping gajah lokal yang diminati pembeli luar negeri dan laku dengan harga tinggi karena keunikannya,” tutur Irvan.

Salah satu contohnya ialah Anthurium Muchlis yang sangat dihargai kolektor internasional. Tanaman berukuran kecil saja dapat dihargai hingga Rp200 juta dan diperebutkan para kolektor.

Pada periode 2021—2024, Irvan fokus mengumpulkan berbagai indukan kuping gajah dari dalam dan luar negeri. Setelah koleksinya dianggap lengkap, ia mulai memperbanyak dan menjual tanaman tersebut kepada kolektor lain.

Pada 2024, Irvan mulai melakukan persilangan untuk menghasilkan berbagai hibrida baru. Menurutnya, salah satu keunikan kuping gajah ialah tidak dapat dikloning secara identik melalui kultur jaringan.

Tanaman hasil kultur jaringan dari biji akan menghasilkan generasi F1 dengan karakter yang berbeda dari induknya. Karena itu peluang munculnya varietas baru menjadi sangat besar.

Terjaga

Kondisi tersebut membuat pasokan varietas identik dalam jumlah besar sulit terjadi. Akibatnya, harga tanaman relatif tetap terjaga.

Apabila ingin memperoleh tanaman dengan karakter sama, perbanyakan umumnya dilakukan melalui setek. Namun, pertumbuhan kuping gajah tergolong lambat. Rata-rata tanaman hanya menghasilkan satu daun baru setiap bulan.

Bagi pemilik nurseri, dibutuhkan waktu cukup lama untuk membesarkan tanaman induk hingga siap diperbanyak kembali.

“Butuh waktu hingga satu tahun,” ujar Irvan.

Saat ini permintaan tanaman masih tinggi sehingga produsen membutuhkan waktu cukup panjang untuk memenuhinya. Faktor itu turut menjaga stabilitas harga di pasar.

Hingga kini Irvan terus mengembangkan pemasaran ke berbagai negara. Salah satu caranya dengan mengikuti pameran tanaman hias di Thailand, Singapura, dan Tiongkok.


Artikel Terbaru

Waspadai El Niño pada Akhir 2026, Petani Perlu Siapkan Strategi Adaptasi

Petani dan pelaku usaha pertanian perlu mulai mencermati perkembangan iklim global. Berbagai hasil pemantauan laut dan atmosfer menunjukkan peluang...

More Articles Like This