Pasar Terbuka di Bisnis Kemiri

Rekomendasi

Siang itu satu kontainer penuh berisi kemiri kupasan asal Medan memang sedang dibongkar. Kalau bukan karena peluang pasarnya, tak mungkin PT Indo Kemiri memilih kemiri sebagai andalan bisnisnya. “Permintaan pasarnya tinggi,” papar Lina, sekretaris cabang Jakarta.

Setiap bulan minimal 5 kontainer, setara 80 ton, didatangkan PT Indo Kemiri dari Medan. Bobot satu kontainer 16 ton. “Itu hanya untuk memenuhi permintaan pasar lokal,” tutur Lina. Belum lagi permintaan ekspor ke Singapura, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Paling tidak 16 ton per bulan dikirim perusahaan itu ke pasar mancanegara. Bila permintaan ramai, pengiriman bisa berlangsung setiap pekan masing-masing sebanyak 3 kontainer.

Multiguna

Menurut Edwar Canto, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan, manfaat kemiri sangat besar. “Tanamannya dapat menjadi tanaman penghijauan untuk rehabilitasilahan kritis,” paparnya. Biji untuk berbagai keperluan industri seperti bumbu masak, bahan baku cat, vernis, tinta cetak, sabun, pengawet kayu, minyak rambut, dan batik.

Produk olahannya juga memiliki pasar yang baik. Lihat saja minyak kemiri, tak hanya dibutuhkan industri sebagai bahan baku kosmetik. Ia juga dicari konsumen perorangan sebagai minyak penyubur rambut dan baby oil.

Ambil contoh PT Jasobun yang baru setahun berbisnis minyak kemiri. Menurut Alhamdi Zuhri, pimpinan, saat ini permintaan pasokan mencapai 150—200 kg per bulan. “Kami memang baru memasok ke kalangan home industry saja,” tuturnya. Itu lantaran kemampuan pasokan terbatas. Namun, pemasok minyak asiri dan oleoresin itu optimis, pasar minyak kemiri sangat baik. Ia dibutuhkan sebagai bahan dasar industri cat dan minyak rambut.

Saat ini Alhamdi menawarkan produknya ke beberapa industri dan eksportir besar. Promosinya lewat dunia maya mulai mendapat tanggapan.

Hanya saja harga dan volume pasokan menjadi kendala. Padahal, “Bila kesepakatan harga sudah tercapai, kami sanggup memasok berapa pun yang diminta,”paparnya. Toh, potensi bahan bakunya juga besar.

 

Banyak dicari

Tingginya permintaan kemiri diendus PT Kamilah Indo Pratama (KIP). Sejak 3 bulan lalu, pemasok dan eksportir lidah buaya itu mulai memasukkan kemiri dalam daftar item produknya. Saat ini permintaan 1—2 ton per bulan. Namun, menurut Dianasari dari KIP permintaan bakal terus meningkat, terutama pada Agustus—Desember saat permintaan tinggi.

Lexi Karundeng di Manado malah kewalahan memenuhi permintaan. Ia memang hanya memasok ke pedagang di beberapa pasar di sana. Namun, “Setiap minggu saya harus menyiapkan 5—10 ton untuk para pelanggan,” tutur pedagang grosir di Pasar Calaca, Manado.

Yang juga tertarik bermain di bisnis kemiri adalah Ringo, pebisnis di Denpasar. Kemiri bukan satu-satunya komoditas yang ditekuni sejak 3 tahun lalu. Namun, “Ia menjadi salah satu andalan usaha kami,” papar pemilik CV Blessing House itu.

Meski hanya ke pasar lokal, setiap bulan tak kurang dari 1 kontainer yang dipasok perusahaan itu. Menurut Ringo, permintaan terbanyak datang dari Lampung, Surabaya,dan Jakarta.

Berbagai sentra

Untuk memenuhi permintaan, Ringo tidak hanya mengandalkan pasokan dari satu tempat. Alasannya, musim panen tidak berlangsung setiap saat. “Antara satu tempat dan tempat lain berbeda musim panennya,” paparnya. Padahal, setiap bulan ia harus menyiapkan minimal 1 kontainer untuk para pelanggan. Karena itu ia memasang “kaki” di beberapa daerah sentra seperti Medan, Bengkulu, Makassar, Palu, Kupang, hingga Ambon.

Hal serupa juga dilakukan Lexi Karundeng. Ia mendatangkan Aleurites moluccana dari Bolaangmongondow, Minahasa, Palu, hingga Maluku.

Menurut Ringo, cara itu dirasakan efektif untuk mendukung bisnis. Selain permintaan rutin terpenuhi, ia pun dapat memilih harga dan kualitas terbaik. Dengan demikian, “Harga jual bisa lebih kompetitif,” ujarnya.

Fluktuatif

Harga kemiri memang berbedabeda di berbagai daerah. Indo Kemiri membeli Rp6.000—Rp7.000/kg dari para pengumpulnya. CV Blessing House juga mendapatkan pasokan dengan harga beragam. Dari Bengkulu Rp5.000—Rp6.000/kg kemiri kupasan; Maluku, Rp4.000—Rp5.000. Kemiri gelondongan—masih bertempurung—malah paling mahal Rp1.000/kg. Sedangkan Mochtar Sanusi di Soppeng, Sulawesi Selatan, menjual Rp7.000—Rp8.000/kg. Alasannya, kualitas kemirinya layak ekspor.

Daniel di Medan menawarkan kemiri ke pasar ekspor dengan harga US$3/kg. Di Los Angeles, Amerika Serikat, Simpang Asia Groceries menjual kemiri seharga US$3,15 per pak berbobot 180 g. Menurut Leni Kumalasari, pengelolanya, setiap bulan ia mendatangkan 100—200 kg kemiri kupasan dari Indonesia. “Selain dari Indonesia, kami pun mendapatkan dari distributor makanan Indonesia di sini,” paparnya menjawab surat elektronik Trubus.

Harga jual pun makin tinggi setelah diolah menjadi produk jadi berupa minyak kemiri. Seorang produsen di Malang, Jawa Timur, menjual minyak kasar hasil kempaan seharga Rp15.000—Rp20.000/kg. Padahal, “Sekilo minyak dihasilkan hanya dari 1,25—1,5 kg biji,” jelasnya. Minyak yang dipasarkan Alhamdi malah dijual Rp70.000—Rp80.000/kg. Alasannya, minyak diproses dengan cara lebih modern sehingga berkualitas baik.

Meski prospek pasarnya baik, harga kemiri tak pernah stabil. Blessing House sempat merugi lantaran harga fl uktuatif. “Ketika itu pasokan kami hanya terjual Rp5.500/kg. Padahal, harga beli kami Rp6.000—Rp7.000/kg waktu itu,” keluh Ringo.

Fluktuasi harga itu sering mematahkan hukum ekonomi. “Di bisnis ini hukum penawaran dan permintaan tak berlaku,” tuturnya. Artinya, saat tak ada panen di pekebun pun belum tentu harga membaik. Sebaliknya, saat banjir pasokan di manamana, harga malah bisa lebih baik. Itu karena kalangan industri baru meminta pasokan bila stok menipis di gudang. Menurut Ringo, pemakai terbesar produk itu adalah industri. Harga pun tergantung kebutuhan mereka. (Fendy R. Paimin)



Artikel Terbaru

Potensi Kunyit dan Kayu Manis untuk Atasi PCOS

YOGYAKARTA, Trubus.id — Kombinasi kurkumin dari kunyit dan ekstrak kayu manis berpotensi menjadi bahan penelitian untuk mengkaji sindrom ovarium...

More Articles Like This