Monday, August 15, 2022

Mempertaruhkan MutuLewat Mesin

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ketika berkunjung ke sentra kemiri di Flores, Nusa Tenggara Timur, Ir Rakhmadiono MSc tercenung. Pekebun di sana memisahkan kemiri dari tempurung dengan cara menjemur di bawah matahari selama 5—10 hari. Buah kemiri kemudian dijepit rotan bergagang 30 cm dan dipukulkan di batu. Aleurites moluccana itu memang bertempurung keras.

Sebagian pekebun memproses kemiri dengan dibenamkan di dalam pasir. Setelah kering, lalu dicelupkan ke air. Dengan cara itu persentase kemiri utuh ternyata lebih besar. Meski demikian dosen Mekanisasi Pertanian Universitas Brawijaya itu prihatin. “Itu teknologi zaman Pangeran Diponegoro. Sudah ratusan tahun dipakai, tapi tak ada pembaruan,” ujar Rakhmadiono.

Meningkat

Cara pemrosesan kedua—mencelupkan ke air—memberi inspirasi bagi Rakhmad—begitu sapaan Rakhmadiono. Setelah intens meneliti di laboratorium, ia akhirnya merancang mesin pemecah kemiri. Rancangan terbaru dibuat tahun lalu. Itu hasil penyempurnaan generasi sebelumnya yang juga lahir dari tangan Rakhmad.

Keunggulan mesin, meningkatnya kapasitas produksi menjadi 5.000 kg per hari. Kapasitas dapat disesuaikan minimal 1.500 kg. Bandingkan dengan cara konvensional yang menghasilkan 2,5 kg per orang per jam. Dengan mesin, pesentase utuh melonjak 75—85%, belah (8—14%), dan remuk (4—9%).

Hasil pengolahan tradisional: 40—60% utuh, 10—20% kernel belah, dan 20—40% kernel hancur. Pasar mengenal 3 jenis kemiri yakni, utuh, pecah, dan pasir. Kemiri utuh adalah yang benar-benar bulat tanpa cacat. Yang kernel atau daging buah terbelah 2 disebut kemiri pecah. Bila daging buah pecah lebih dari 4 bagian dikenal sebagai kemiri pasir.

Keutuhan biji menjadi dasar untuk menentukan kategori yang terdiri atas 3 kelas. Kelas A atau disebut kemiri prima bila 100% berbiji utuh, B, 70—80% utuh, dan C kurang dari 20%. Semakin tinggi persentase utuh, berarti meningkatkan omzet. Sebab, harga kernel utuh lebih tinggi ketimbang yang rusak.

Selain itu kualitas produksi meningkat sesuai permintaan pasar ekspor dan lokal. Pasar ekspor mencari kemiri utuh, toleransi kernel pecah maksimal 5%, bulat, dan putih. Syarat lain, tak bercendawan, berkadar minyak tinggi, dan tidak tengik.

Hentakan

Dengan mesin, penjemuran dapat ditiadakan dan kemiri dapat langsung dikupas. Proses pengolahan sejak pengeringan hingga pengupasan berjalan otomatis. “Rendahnya mutu akibat faktor manusia dapat dihindari,” ujar kelahiran Kebumen 63 tahun silam.

Prinsip kerjanya mengadopsi teknologi sederhana pekebun di Flores. Usai panen kemiri dimasukkan ke mesin untuk dipanaskan. Tempurung buah dimanfaatkan sebagai sumber panas. Suhu dipertahankan maksimal 70oC agar warna gelondongan tetap putih. Kandungan air total maksimum 2% sehingga ketika direndam beberapa saat, 20—30% pecah sendiri.

Perendaman menyebabkan terjadinya tegangan geser antara bagian luar dan bagian dalam kulit. Itu karena absorbsi air ke dalam tempurung kemiri. Bagian luar batok lantas mengalami pemuaian cepat, sehingga ikatan antarsel renggang. Dampaknya proses pengupasan kulit lebih mudah.

Mesin memang dilengkapi pompa air 150 watt untuk penyemprotan dan resirkulasi air. Di dalam mesin, kemiri terapung—tidak bernas—dibuang. Yang tenggelam dan belum terkupas, dihentakkan melalui pipa berdiameter 5 cm setinggi 2,1 m. Bagian dasar hentakan berupa cor-coran semen. Kemiri yang terbuka kemudian dibersihkan secara otomatis. Begitu keluar mesin, kemiri kupasan terbagi 3 kelas dan tinggal dikemas.

Menurut Rakhmad harga mesin berkapasitas 5.000 kg per hari Rp500-juta relatif murah. Saat ini harga 1 kg kemiri Rp2.000 di tingkat pekebun. Artinya, pengusaha mesti menyediakan dana Rp10-juta sehari. Musim kemiri hanya 3 bulan dalam setahun, sehingga pengusaha mempersiapkan bahan baku untuk masa kerja 200 hari. Dana yang diperlukan untuk pembelian bahan baku Rp2-miliar. Harga mesin yang “cuma” Rp500-juta menjadi relatif kecil. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img