

Lokasi Kasepuhan adat Ciptagelar di kaki Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 90 km dari pusat kota. Semula pusat lokasi kasepuhan di Ciptarasa, 5 km sebelah barat Ciptagelar. Namun, pada Juli 2001, pemimpin adat – saat itu Abah Anom – memindahkannya ke Ciptagelar. ‘Pindah karena Abah memperoleh wangsit dari karuhun (leluhur, red),’ kata sesepuh induk adat Ciptagelar, Umit Sumitra. Dalam kurun 62 tahun, kasepuhan 7 kali pindah lokasi. Menurut peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wardah dan rekan, meski berpindah-pindah mereka tetap memperhatikan kelestarian lahan.
Setiap kali berpindah, warga setempat menggotong ke-12 lumbung milik pemimpin adat terlebih dulu. Keruan saja, mereka mengeluarkan padi di dalamnya dan menggotong lumbung ke lokasi baru. Padahal, jalan tanah menuju Ciptagelar itu mendaki dan becek. Namun, perintah pemimpin adat pantang mereka tentang. Sebanyak 80 kepala keluarga di sana masing-masing memiliki rata-rata 2 lumbung. Umit Sumitra (65 tahun) mengatakan bahwa padi di lumbung milik pemimpin adat itulah yang mampu bertahan hingga seabad.
Sumitra menjelaskan bahwa padi awet hingga 100 tahun hanya terjadi di leuit alias lumbung milik pemimpin adat kasepuhan, Sugriana Rakasiwi. Masyarakat setempat memanggilnya Abah Ugi. Padi di dalam lumbung milik Abah alias pemimpin adat tak habis dalam tahun berjalan. Akibatnya, pada panen-panen berikutnya ia menumpuk padi di atasnya. Begitu seterusnya hingga pernah terjadi padi di lapisan terbawah mampu bertahan hingga 100 tahun. Periset padi di Balai Penelitian Tanaman Padi, Dr Satoto, mengatakan, ‘Sepanjang tak ada gangguan, mungkin saja padi bertahan hingga 100 tahun.’
Ia buru-buru menambahkan, ‘Itu dengan catatan untuk padi konsumsi. Namun, jika digunakan untuk benih, paling lama hanya 15 tahun.’ Memang padi yang bertahan hingga seabad, rasanya telah berubah. ‘Tak begitu enak,’ kata Sumitra. Keawetan padi itu dipengaruhi beberapa faktor, sejak budidaya hingga sistem penyimpanan. Budidaya organik, misalnya, cenderung menghasilkan padi yang awet. Menurut periset di Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wardah, Fransisca Murti Setyowati, dan Agus Sujadi, daun tanaman itu antara lain jawer kotok Coleus atropurpureus, pacing Costus specious, sulangkar Leea indica, ranediuk Selaginella plana, tulak tanggul Schefflera longifolia. Mereka menyelipkan daun-daun itu di sisi utara, selatan, timur, dan barat dinding lumbung. Nah, dengan begitu Nyi Pohaci alias padi dalam lumbung itu terbukti bertahan lama sebagai cadangan makanan bagi warga setempat. Sebutan Nyi Pohaci berasal dari legenda semacam Dewi Sri bagi masyarakat Jawa. Dari pusara Nyi Pohaci itulah antara lain tumbuh padi yang berguna bagi kehidupan. (Sardi Duryatmo)
Foto-foto: Dian AS
Lumbung berperan dalam ketahanan pangan
Dr Satoto, peneliti padi di Balai Penelitian Tanaman Padi
Rahasia Seabad
36.500 hari. Itu bukan waktu yang singkat. Bertahan hingga 1.200 purnama berlalu, sungguh bilangan panjang. Namun, padi Oryza sativa di dalam lumbung mampu bertahan selama itu. Paduan antara padi yang bagus dan lumbung bermutu menyebabkan padi tahan simpan hingga 100 tahun.
1. Atap runcing
Leuit alias lumbung di Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, beratap lancip dengan kemiringan 40o. Jika hujan, atap miring itu lebih cepat membuang air sehingga tak ada air yang tertahan yang pada akhirnya meningkatkan kelembapan. Ketika terik, ia juga ‘membuang’ pantulan sinar matahari.
2. Bentuk panggung
Hampir semua lumbung di tanahair berbentuk panggung. Menurut mantan periset di Balai Penelitian Tanaman Padi, Prof Dr Ir Agus Setyono, bentuk bangunan panggung menyebabkan sirkulasi udara lancar sekaligus menjaga kelembapan pada kisaran 60 – 70% sehingga padi lebih tahan lama. Bentuk panggung juga menghindari serangan tikus atau babi hutan.
3. Struktur mengerucut
Bangunan lumbung di Ciptagelar – demikian juga lumbung suku Naga di Tasikmalaya dan Baduy di Banten – khas: makin ke bawah ukuran mengecil atau mengerucut. Mantan periset di Balai Penelitian Tanaman Padi, Prof Dr Ir Agus Setyono, mengatakan mengecilnya bangunan di bagian bawah bertujuan melindungi dinding dari cucuran air hujan. Jarak antara dinding dan tempat jatuhan air dari atap
makin jauh.
4. Dinding berlubang
Lumbung di berbagai derah di Indonesia memanfaatkan anyaman bambu atau kayu. Menurut Prof Dr Ir Agus Setyono, dinding anyaman bambu memperlancar sirkulasi udara di dalam ruangan lumbung.
5. Daun antihama
Masyarakat adat Ciptagelar meletakkan berbagai daun yang berfungsi sebagai repelen alias penolak serangga hamaseperti jawer kotok, pacing, dan sulangkar
6. Budidaya organik
Ahli lumbung dari Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran, Prof Dr Johan Iskandar, mengatakan petani di berbagai daerah seperti suku Baduy masih mempertahankan budidaya organik. Keturunan puun atau pemuka kampung Baduy beranggapan padi sawah yang tercemar pestisida juga mencemari kemurnian darah. Secara empiris, padi organik lebih awet.
7. Kadar air
Periset di Pusat Penelitian Tanaman Padi, Dr Satoto, mengatakan jika petani menjemur padi hingga kering, kadar air maksimal 10%, padi cenderung tahan lama. Padi kering sangat khas ketika tangan kita menggengamnya muncul bungi krisik… krisik saat padi saling bersentuhan.
8. Ketebalan kulit & silika
Menurut periset di Pusat Penelitian Tanaman Padi, Dr Satoto, padi dengan kulit tebal cenderung lebih awet. Sedangkan Agus Setyono menuturkan kulit padi mengandung silika (senyawa antara silikon dan oksigen) untukmelindungi beras. ‘Kutu sulit mencerna gabah yang dilapisi silika,’ kata Agus, doktor alumnus Universitas Gadjah Mada.
9. Asap dapur
Di beberapa lokasi, lumbung padi berdekatan dengan dapur sehingga asap pembakaran kayu ketika memasak, juga mengalir ke ruangan di dalam lumbung melalui celah-celah dinding. Menurut ahli asap cair dari Universitas Gadjah Mada, Dr Purnama Dharmadji, asap pembakaran itu kaya fenol, asam, dan karbonil yang berfungsi sebagai antimikroba dan desinfektan pada padi. ***
3
5
6,7,8
4
2
1
Ilustras: Bahrudin
Budaya organik salah satu penentu padi awet hingga 100 tahun
Lumbung induk di Ciptagelar
