
Perilaku gajah di Flying Squad TNTN beragam. Selain Ria, masih ada Indro yang berpenampilan gagah tapi bertemperamen kalem. Pantas Indro sering menjadi pemimpin pasukan saat patroli gajah. “Gajah-gajah di Flying Squad terus-menerus dilatih agar terampil dalam berpatroli,” kata Syamsuardi, koordinator Flying Squad WWF. Mereka terampil antara lain membantu aktivitas sang pawang saat penggiringan dan pengusiran gajah liar.
Sebagai satu-satunya mamalia yang tidak bisa meloncat, gajah liar sebetulnya memiliki cara untuk melindungi diri dari pengusiran. Kelompok gajah yang terdiri dari 7 – 12 anggota itu dapat membentuk 2 formasi. Pada kondisi normal, gajah membentuk formasi satu jalur. Betina dewasa memimpin barisan paling depan. Berikutnya berselang-seling, remaja atau anak dengan dewasa. Dalam satu kelompok atau grup biasanya terdapat 3 gajah dewasa.
Posisi dalam grup akan berubah saat muncul ancaman. Ancaman bisa terdeteksi dari jarak satu kilometer. Hal itu bisa dilakukan karena belalai gajah bisa berfungsi pula sebagai “penangkap” sinyal tanda bahaya. Kelompok gajah yang sebelumnya berjalan beriringan akan memecah diri untuk membentuk 3 – 4 jalur lain dengan posisi gerak sejajar. Mereka akan bergerak atau diam bergantung komando betina dewasa paling depan. Namun, begitu merasa aman gajah-gajah itu kembali memakai formasi normal dengan didahului betina dewasa berada paling belakang untuk mengecek anggotanya, sebelum memimpin kembali di depan. ”Betina perlu memastikan semua anggota selamat,” kata Syamsuardi.
Lalu di mana para gajah jantan? Saat menginjak remaja dan dewasa, para jantan memisahkan diri dari kelompok. “Jantan akan mencari betina dari kelompok lain untuk kawin,” kata Wishnu Sukmantoro MSi dari WWF Riau. Sayangnya tidak mudah bagi jantan untuk menemukan betina siap kawin alias birahi. Maklum dalam setahun masa birahi gajah hanya 2 kali. Malah pada beberapa kasus terdapat betina yang tidak birahi selama 3 tahun.
Ketika birahi betina akan mengeluarkan cairan dari lubang kecil di bawah kuping dan mata. Selain itu pangkal pahanya terlihat membengkak. Toh, secara kasat mata sulit mengetahui betina birahi kecuali melihat cairan yang menetes dekat kuping. Namun bagi jantan tanda itu belum menjamin betina siap dibuahi. Maka dari itu jantan akan merogoh bagian pangkal paha memakai belalai untuk memastikan betina siap dikawini. Bila tidak ada betina siap dikawini, ia akan berpindah mencari betina-betina lain di kelompok lain.
Jantan-jantan pencari betina birahi tidak hanya satu. Sesama jantan yang telah memisahkan diri dari kelompok akan bersaing. Umumnya jantan muda kalah berkompetisi dari jantan dewasa. Jantan-jantan muda tersisih itu dapat mengekor kelompok gajah lain atau benar-benar pergi dan kembali suatu saat setelah siap bersaing. Nah, jantan-jantan muda soliter itu kadangkala bertemu dengan rekan senasib seperjuangan. Mereka akan membentuk kelompok yang terdiri atas 3 – 4 ekor. Komposisi kelompok mirip kelompok yang ditinggalkan. Jantan muda yang kuat akan menjadi pemimpin kelompok, sisanya menjadi pengawal. (Dian Adijaya S)
