Tuesday, November 29, 2022

POHON PUSAKA

Rekomendasi

 

Maklum, setiap ada anggota keluarga baru, saya selalu menandai dengan menanam pohon kenangan. Untuk menanam lontar, saya sudah lama berusaha, antara lain membawa satu kotak siwalan tua dari pantai Glagah, Yogyakarta.  Beberapa tumbuh, tapi lalu mati.  Pernah juga saya membawa 6 kecambah dari pantai Takalar, Sulawesi Selatan.  Daunnya sudah bertunas. Namun, mati juga.

Yang selamat, justru biji-biji lontar dari Syah Kuala, Nanggroe Aceh Darussalam.  Dua di antaranya tumbuh subur. Apa khasiat lontar?  Lebih tegas dan lebih luas lagi: apa jasa siwalan? Pohon palem besar, bertubuh tinggi – hingga 30 meter dengan diameter 60 cm bahkan lebih, termasuk paling perkasa di dunia palem-paleman. Umurnya selalu dikatakan ringkas, jelas, dan terkesan takut salah: lebih dari seratus tahun!  Bahkan kalau sudah 5 abad pun, cukup dikatakan:  lebih dari 100 tahun.

Khasiat legen

Lontar pohon kebanggaan Sulawesi Selatan.  Jangan lupa, lontar juga kebanggaan bangsa Khmer.  Makanya ada istilah cambodian palm, selain toddy palm untuk pohon yang superkuat dan multiguna itu.  Pohon lontar sanggup menjadi jembatan, cukup tangguh untuk dipahat menjadi perahu kano, dan yang terpenting  berdiri sebagai saksi zaman.  Kita tidak usah heran kalau melihat jajaran lontar di daerah-daerah miskin, panas, dan kering. Mereka berjajar di daerah paling kumuh dan tua di India, Sri Lanka, Indochina, dan di pulau-pulau kecil Nusa Tenggara, terutama Timor dan Rote.

Adalah Prof John Fox yang membuat lontar menjadi sumber ilmu dan disertasinya The Lontar Economy. Seorang pembawa acara televisi swasta dalam acara Asal Usut Flora, mengatakan legen siwalan bisa mencegah batu ginjal.  Penjelasannya, seorang dokter dari Lamongan, Jawa Timur, mengatakan, legen mengandung mineral yang bisa melarutkan partikel kapur, penyebab batu ginjal.  Hebat sekali, bukan? Lebih hebat lagi, di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, ada legen ajaib dari pohon siwalan yang ajaib juga.

Biasanya, pohon siwalan tumbuh lurus – monokotil, dengan akar serabut, tanpa cabang terus ke langit. Tapi di desa Gedanggedang, Kecamatan Batuputih ada siwalan dengan lima cabang.  Karena bunganya banyak, maka pemilik pohon itu menyadap tangkai bunga untuk menghasilkan legen. Apa hasilnya?  Ternyata legen dari pohon siwalan yang bercabang-cabang, karena kelainan itu, dipercaya mempunyai khasiat khusus.  Ada yang mengaku disfungsi ereksi bisa sembuh berkat minum legen itu.  Seorang nenek yang kerap pusing, mengidap sesak napas yang kronis juga merasa menjadi lebih segar, sehat dan bertenaga berkat minum legen itu.

Benarkah begitu?  Dengan banyak minum legen, pasokan air dan energi dari gula alamiah yang dikandungnya sangat terjaga. Sebagai warga asli Lamongan, saya paham betapa pentingnya air minum.  Ibu melahirkan saya di daerah minus, pegunungan kapur, dengan hutan jati di selatan dan deretan lontar di utara.  Air minum kami bersumber pada embung-embung tahunan atau sendang.  Sejak kecil, saya diajar oleh ibu untuk mencintai buah tal dan daun tal, yang disebut ron tal dan diucapkan: lontar.

Saya pikir daun tal adalah daun paling kuat di antara berbagai jenis daun.  Ia bisa dipakai sebagai alat tulis, dan tahan sampai bertahun-tahun.  Negara Kertagama, Sutasoma, dan kitab-kitab klasik seperti Mahabharata serta Ramayana (dari abad ke-2) juga ditulis di atas daun siwalan itu. Di dusun-dusun miskin pantai utara Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Nusa Tenggara, daun lontar menjadi pusaka sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Daun yang kuat ini bisa jadi tikar pembungkus panen tembakau, drum kecil pengangkut air, dinding rumah, bahkan alat musik yang spektakuler, yaitu sasando. Sepanjang jalan di Tuban, juga di daerah yang terkenal panas, termasuk Tanjungpriok, Cilincing, Jakarta Kota, Bekasi maupun Cikarang, para penjual lontar membagi-bagi kapling untuk berjualan dengan kereta dorong mereka.  Model keretanya kurang lebih sama.

Lontar bergengsi

Legen di daerah hunian orang kaya, Bintaro, Pondokindah, Kapukmuara, misalnya, cenderung dijual dalam kemasan kecil, botol 600 ml, dengan harga Rp5.000 sekitar 3 atau 4 kali harga air minum botolan.  Sedangkan di daerah yang minus, dengan pembeli yang relatif miskin, botol yang dipakai besar, berukuran 1.500 ml.  Harganya Rp7.000 atau 2 kali harga air dengan ukuran yang sama. Sayangnya, memang belum ada pengemasan yang lebih formal, bertahan lama untuk nira hasil sadapan dari pohon siwalan.

Kita belum melihat legen siwalan menjadi minuman kotak seperti gula asem (gulas), susu kedelai, aneka jus (markisa, mangga, leci, atau sirsak). Legen dari pohon siwalan, maupun tuak dari pohon aren, belum dikenal sebagai minuman yang bergengsi karena bisa diawetkan. Padahal, siapa tahu legen bisa menjadi semacam anggur lokal, atau air tapai (ketan hitam) maupun tapai singkong dan arak beras seperti brem bali.

Rupanya dari abad ke abad, sejak raja-raja Mataram dan Syailendra menghuni istana-istana seindah Puri Ratu Baka, nira tetap diminum dekat dari pohonnya, dan untuk waktu yang tidak terlalu lama. Jadi, mestinya minuman itu bisa lebih bergengsi karena lebih alami.  Satu-satunya cara menaikkan gengsi minuman legen adalah meningkatkan mutunya.

Buah siwalan, dilepas dengan sangat murah di Tuban, Jawa Timur.  Namun, di Jakarta, terkesan bahwa buah siwalan lebih banyak dikonsumsi keluarga yang lebih berada, kuat secara ekonomi.  Mengapa?  Pertama karena harganya relatif mahal, minimal seribu rupiah sebiji. Tentu setelah dikupas dengan susah-payah karena sabutnya tebal, dan buahnya tidak simetris. Dalam satu bulatan biasanya terdapat 3 isi. Para penjual siwalan di Jakarta melengkapi gerobaknya dengan termos dan es batu.  Setelah dikupas, biasanya didinginkan.

Itulah yang disukai oleh mendiang ibu mertua saya.  Kalau ada penjual siwalan, hukumnya wajib dibeli.  Begitulah kewajiban tak tertulis yang kami warisi dari nenek moyang. Sekilas, para pedagang lontar terkesan susah, marginal, dan terpinggirkan secara tradisional.  Namun, sebenarnya tidak demikian.  Terbukti, pedagang lontar adalah pengecer buah tradisional yang selalu ada sepanjang tahun.  Mereka bertahan dari generasi ke generasi, dan menunaikan tugas setiap hari.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah variasi cenderamata, kerajinan dari produk sampingan pohon lontar semakin lama semakin populer.  Demikian juga pohon lontar sebagai tanaman hias.  Ketika saya melihat deretan lontar tumbuh subur di jalan-jalan wisata Ancol,  rasa bangga tumbuh dengan diam-diam. Ketika melihat deretan lontar ditanam kembali di depan mal terbaru, Gandaria City, rasa bangga berkembang menjadi bahagia dan penuh syukur.  Kalau kebanyakan hypermart mengedepankan kurma, kelapa sawit, dan palem raja, pusat paling anyar di Indonesia itu berbangga pada lontar.

Alangkah senangnya nenek-moyang dan anak-cucu kita. Kebajikan dan kebijakan yang diperoleh dari daun lontar, buah lontar, maupun tetesan air dari tangkai bunga yang dijadikan nira, terbukti berkelanjutan sampai sekarang.  Semoga peranan lontar semakin dihargai, pohonnya semakin banyak ditanam, karena telah terbukti bertahan lestari selama 2.000 tahun belakangan ini.  Dalam kesederhanaan, ternyata daun lontar bisa meneruskan filsafat dan ajaran untuk melestarikan bumi.

Memang ada juga lontar-lontar dengan gambar erotis, di museum terkemuka.  Namun, semua diabadikan untuk menghormati kehidupan, bertahan lebih lama. Jelas berbeda dengan sarana informasi canggih berikut ilmu tentang bom atom dan tenaga nuklir yang memanjakan manusia, padahal penuh dengan potensi bahaya. Semoga pohon lontar yang saya tanam untuk cucu, dapat memberikan inspirasi hidup sederhana, kukuh dan kuat, serta bermanfaat bagi siapa saja yang pandai menghargainya. ***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img