Tuesday, November 29, 2022

Cabai: Cara Jitu Bebas Penyakit

Rekomendasi

 

Kebutuhan cabai merah di Indonesia meningkat 7,5% setiap tahun. Sayangnya hal itu tidak diimbangi laju produktivitas yang tinggi. Saat ini produksi per ha berkisar 6—7 ton dari semestinya 12–15 ton. Banyak sebab yang membuat produktivitas anjlok: pengolahan lahan yang tidak tepat, pemakaian benih rentan hama penyakit, serta perawatan yang kurang pas.

Di sisi lain penanaman cabai pada hamparan luas dan waktu tidak serempak rentan menuai masalah. Tanaman yang ditanam  terus-menerus membuat    keragam-an  komponen  biotik  pada  ekosistem  alami di lokasi budidaya, rendah. Walhasil organisme pengganggu cabai leluasa berkembang dan merugikan pekebun. Supaya pekebun terhindar dari beragam masalah, perlu melakukan berbagai tindakan mulai dari pemilihan benih, persemaian, pengolahan lahan, hingga panen.

Berawal dari benih

Untuk benih misalnya, pilih varietas yang cocok dengan lokasi setempat. Para  pekebun di Pantai Utara, Jawa Tengah sebagai contoh bisa menggunakan varietas tanjung. Varietas ini selain cocok tumbuh di dataran rendah juga tahan terhadap  penyakit virus kuning. Sementara di dataran tinggi, pilih cabai hibrida bersertifikat yang terjamin kualitasnya, sebagai contoh lembang-1.

Ketika benih disemai gunakan media campuran 1 bagian pupuk kandang matang dan 1 bagian tanah subsoil yang diambil dari tanah sedalam 20 cm. Sebelum biji disebar, tanah disiram air hingga rata terlebih dulu. Untuk menghindari penyakit yang  terbawa dalam benih, rendam dalam air panas bersuhu 500C hingga air dingin. Bisa pula merendam dalam fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida dosis 1 ml/1 liter air. Setelah direndam selama 1 jam, lalu benih ditiriskan.

Lahan persemaian sebaiknya diberi naungan plastik tembus cahaya atau naungan atap permanen dengan ketinggian 1,5 m agar sinar matahari bisa menerobos masuk. Untuk menghindari infeksi virus pada bibit di persemaian, tutup persemaian dengan kasa agar serangga vektor tidak  bisa masuk. Kasa berkerapatan 50 mesh dapat menahan kutu daun dan kutu kebul.

Lalu sebelum dipindahtanamkan, olah tanah dengan cara dicangkul sedalam  30—35 cm dan dibalik 2—3 kali. Setiap pembalikan tanah biarkan selama 1 minggu. Tujuannya  agar mikroba patogen tanah terbunuh oleh sinar matahari. Serasah dari pertanaman sebelumnya harus dikumpulkan dan dimusnahkan dengan jalan dibakar karena menjadi sarang ulat tanah.

Pemberian nematisida berbahan aktif karbofuran dosis 1—3 kg/ha mutlak jika ditemukan akar gulma membengkak akibat serangan nematoda atau ditemukan 300 ekor nematoda puru akar dalam 1 kg tanah.  Nematisida diberikan berbarengan dengan aplikasi pupuk kandang.

Induksi

Agar cabai tahan terhadap serangan virus gemini, bibit di persemaian disemprot ekstrak bunga pukul empat Mirabilis jalapa berkadar 25%. Lakukan 5 hari sebelum bibit dipindah ke lahan. Untuk virus mosaik dapat diinduksi vaksin carna-5 10% dengan jalan dioleskan pada daun saat umur 14 hari sebelum tanam. Tujuan induksi merangsang cabai untuk membentuk ketahanan   sistemik terhadap virus.

Setelah  cabai  ditanam di lahan,  gangguan hama dan penyakit tetap mengancam, contohnya hama pengisap daun. Untuk mengatasinya gunakan perangkap berupa kertas kuning—berukuran 20 cm x 30 cm—dibungkus  kantung plastik bening. Bagian terbuka menghadap ke bawah. Olesi bagian luar kantung plastik dengan minyak atau oli bekas agar hama pengisap daun menempel. Perangkap ini diganti setiap 10—14 hari.

Sementara untuk menahan atau mengurangi serangan organisme peng-ganggu tanaman (OPT) dari luar kebun bisa dimanfaatkan tanaman jagung. Tanam jagung di sekeliling kebun 3—4 minggu sebelum bibit cabai dipindahtanamkan. Jagung ditanam 6 baris dengan jarak rapat 30 cm x 15 cm. Masukkan benih jagung 1 butir per lubang tanam. Jika jarak tanam 30 cm x 20 cm, setiap lubang diisi 2 butir benih jagung. Alangkah baiknya pilih jagung manis yang bernilai ekonomi tinggi supaya bisa menambah pendapatan.

Selain jagung, tanaman sela lain yang bisa dimanfaatkan mengurangi serangan OPT adalah tomat dan kubis.  Kedua tanam-an itu bisa ditanam di antara cabai atau di pinggir bedengan. Tomat ditanam 2 minggu setelah cabai, kubis sebulan pascatanam  cabai. (Dr Ahsol Hasyim, Ir Neni Gunaeni,  dan Dr Yusdar Hilman, ketiganya periset di Kementerian Pertanian RI)

 

Ambang Kendali Hama Penyakit

Pengamatan organisme pengganggu tanaman perlu terus dilakukan sejak bibit ditanam hingga panen terakhir. Mafhum OPT menyerang tak kenal waktu dan jenis berbeda-beda tergantung fase tanaman. Namun, pemanfaatan pestisida kimia sebaiknya dilakukan secara bijaksana dengan memperhatikan ambang batas kendali. Berikut panduannya:

Tindakan:

  • Tanaman terserang layu cendawan atau bakteri dicabut, masukkan ke kantung plastik kemudian dimusnahkan.
  • Jika populasi tanaman muda (di bawah 30 hari) yang terserang virus di bawah 10% serta populasi kutu daun dan kutu kebul di bawah ambang batas, tanaman dicabut, musnahkan dan ganti tanaman baru. Lebih dari 10% sebaiknya dibiarkan saja karena tindakan apa pun tidak akan mengurangi intensitas serangan.
  • Semprotkan insektisida berbahan aktif profenofos, deltamethrin, atau abamectin jika populasi kutu daun lebih dari ambang kendali (7 ekor/10 daun sampel)
  • Pengendalian serupa dilakukan jika populasi thrips lebih dari ambang kendali. Caranya, semprot dengan pestisida berbahan aktif diafentiuron, merkaptodimetur, profenofos, dan abamectin secara bergantian.
  • Sementara jika buah cabai terserang antraknosa (1 buah/tanaman) maka dilakukan pengendalian dengan beberapa tahap. Pertama, semprot dengan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil, atau metil tionfanat. Bila bercak aktif masih ada, semprot kembali dengan fungisida kontak berbahan aktif propineb, klorotalonil, mankozeb, atau  maneb.
  • Cara pemakaiannya dilakukan bergilir antara fungsida sistemik (S) dan kontak (K). Polanya, S-K-K-K-S-K-K-K. Pemakaian fungisida sistemik tidak boleh lebih dari 3—  kali/musim tanam.
Previous articleSi Pedas dari Teras
Next articlePOHON PUSAKA
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img