
Tukik Babel menangkarkan dua jenis penyu yang kian langka.
Lonceng itu berdentang keras. Sekitar 50 penyu yang tengah berenang-renang mendekati penjaga di tepi kolam. Begitu petugas menabur pelet, penyu berebut menyantapnya. Saat itu pukul 16.30, waktunya penyu mendapat jatah makan ketiga setelah makan pagi pada pukul 07.30 dan siang pukul 12.30. Pantas penyu-penyu berumur 1—2 tahun dalam kolam 15 m x 7 m x 2 m itu tampak sehat dan lincah.
Sejak menetas, mereka rutin mendapat pakan 3 kali sehari berupa cacahan sawi, ikan kecil, atau pelet. Kerapasnya pun bersih dari lumut. “Seminggu sekali kerapasnya dibersihkan agar terhindar dari penyakit,” kata Suhartinah, pekerja di Tukik Babel—tempat penangkaran penyu di Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Menurut David, koordinator pengelola Tukik Babel, Bangka Belitung merupakan habitat penyu hijau dan penyu sisik.

Penangkaran
Dari tujuh jenis penyu di dunia, enam di antaranya berada di Indonesia yakni penyu belimbing Dermochelys coriacea, penyu lekang Lepidochelys olivacea, penyu sisik E. imbricata, penyu hijau C. mydas, penyu pipih Natator depressus, dan penyu tempayan Caretta caretta. Dua jenis yang banyak di Bangka Belitung penyu hijau Chelonia mydas dan penyu sisik Eretmochelys imbricata.
Kedua jenis itu pula yang ditangkarkan di Tukik Babel. Tukik Babel memperoleh telur di habitat asalnya di Bangka seperti Pantai Bedukang, Pantai Matras Ujung, dan Pantai Air Hantu. “Semua telur berasal dari wilayah Bangka,” kata David. Setiap tahun sekitar Maret—September, induk penyu memasuki masa bertelur. Petugas mengumpulkan telur dari penduduk pesisir pantai yang ikut peduli terhadap kelangsungan hidup penyu.
Telur-telur itu kemudian dipindahkan ke ruang penetasan di sudut Pantai Tongaci, Sungailiat, Bangka. Ruang penetasan dibuat terbuka dengan pembatas dinding kayu dan dasar pasir pantai. Menurut David penangkaran penyu hanya ada tiga tahap penting: penetasan, pemeliharaan, dan pelepasan. “Tetapi pada masing-masing tahapan ada beragam kegiatan,” kata David.
Masa penetasan memakan waktu 55 hari. Untuk penetasan, lubang untuk membenamkan telur berkedalaman 45—55 cm dengan diameter 25—35 cm. Satu lubang untuk semua telur yang ditemukan dalam satu lubang di habitat asalnya. Setiap lubang diberi kayu pancang sebagai penanda yang dituliskan tanggal pemendaman, jenis penyu, jumlah telur, dan petugas yang membenamkan telur itu.
Selama penetasan, pasir dijaga pada suhu ideal 29—30°C. Pasir juga harus bersih dari akar-akar rumput. Umumnya pada hari ke-53, tanda-tanda telur menetas mulai muncul. Sekeliling lubang ada “retakan” atau pasir yang amblas. Itu tanda ada pergerakan di bawah permukaan pasir. Bila demikian, pada hari ke-54, biasanya satu tukik akan muncul ke permukaan.

Kolam pendidikan
Kemunculan itu membuka jalan pula bagi tukik lainnya keluar ke permukaan. Tukik-tukik itu didiamkan sekitar 10 menit untuk bergerak bebas dan mengeringkan sisa lendirnya kemudian baru ditampung dalam bak penampungan. Selanjutnya pada masa pemeliharaan tukik, air laut pada bak penampungan diganti setiap hari. Tujuannya agar kotoran tukik tidak meracuni. Pakan mulai diberikan 3 kali sehari.
Dengan melakukan tahapan penangkaran secara tepat, tingkat keberhasilan hidup penyu diperkirakan lebih tinggi. “Tingkat keberhasilan untuk penangkaran semi alami seperti di Tukik Babel sekitar 75—80%. Pernah juga mencapai 95%,” kata David. Pada tahap awal, tukik dipisahkan satu per satu dalam besek plastik yang diapungkan di atas keramba. Tujuannya meminimalisir kanibalisme.
Sepekan kemudian, tukik dapat dilepas dalam keramba. Mereka mendapat perlakuan khusus berupa pembersihan karapas. Dalam masa pertumbuhan, jika terlihat ada penyu yang kurang lincah atau terindikasi sakit, pemberian vitamin dan antibiotik pun dilakukan dengan cara suntik. Penyu di kolam itu sengaja dipelihara hingga besar untuk edukasi kepada masyarakat dan pengunjung.

Pemeliharaan dilakukan hingga tukik tumbuh menjadi penyu. “Sebelumnya tukik yang dilepas berumur sekitar 2 minggu. Sejak 2015 kami melepas penyu yang berumur minimal 1 tahun. Dengan alasan keberhasilan penyu bertahan hidup di alam bebas lebih tinggi,” kata David. Satwa purba itu dilepas sekitar 1 mil dari garis pantai agar mampu bertahan hidup.
Dengan demikian mereka tidak melewati wilayah penambangan timah lepas pantai yang banyak dilakukan di wilayah Bangka. Dalam setahun setidaknya ada 4.000—5.000 tukik dan penyu yang ditangkarkan kemudian dilepas. Biasanya pelepasan dilakukan sepekan hingga sebulan sekali. Jumlahnya bervariasi mulai puluhan hingga ratusan ekor sekali dilepas tergantung jumlah yang siap lepas.
Kolam khusus
Penangkaran penyu itu semula hanya menjadi hobi semata bagi Sian Soegito, pemilik dan pendiri Tukik Babel. Usai lama merantau ke Jakarta, pria yang berprofesi sebagai pengusaha itu mendapat kenyataan tidak ada lagi induk penyu yang naik ke pantai untuk bertelur. Lingkungan di sekitar pantai di wilayah Sungailiat yang kerap ia kunjungi memang sudah berubah.
Banyak aktivitas yang diduga mengganggu kehidupan penyu, antara lain penambangan timah lepas pantai yang menggunakan alat keruk. Kepeduliannya terhadap lingkungan khususnya penangkaran penyu dipicu perubahan lingkungan yang mengancam keberadaan penyu di perairan Bangka Belitung. Pria kelahiran Bangka itu mulai menangkarkan penyu di pinggiran pantai di Perumahan Batavia, Sungailiat, Bangka, pada Mei 2008.
Saat itu penangkaran tidak terbuka untuk umum. Pada Januari 2015, Sian membangun tempat display khusus bagi para pengunjung pantai untuk melihat penangkaran penyu dari dekat yang dinamakan Tukik Babel. Di lokasi yang berada tepat di ujung pantai Tongaci, Kampung Pasir, Sungailiat itu, ia membangun dermaga kecil yang dinamakan Dermaga Persaudaraan.

Itu sebabnya dibangun kolam khusus di atas permukaan tanah yang berdinding keramik sehingga penyu jelas terlihat. Kolam yang dibangun di atas lahan 5 m x 8 m itu dilengkapi dengan naungan sehingga pengunjung dapat nyaman berlama-lama melihat tingkah polah penyu tanpa kepanasan. Di sisi kolam terdapat empat buah bak yang menampung tukik yang baru ditetaskan.
Saat ini pengelolaan Tukik Babel dibantu oleh 5 orang tenaga kerja. Enam jenis penyu laut yang ada di Indonesia termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Semua bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya dilarang. Undang Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya juga melindungi keberadaan penyu dengan adanya sanksi bagi pelaku perdagangan—penjual maupun pembeli—satwa yang dilindungi dengan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100-juta.
Dengan dibangunnya dermaga dan kolam penangkaran Tukik Babel, Sian berharap masyarakat tidak hanya sekadar teredukasi untuk mengetahui informasi tentang penangkaran penyu melainkan ikut tergerak peduli terhadap kelestarian penyu di alam bebas. Ia berharap melihat induk penyu bertelur di pantai Bangka di musim bertelur pun tetap dapat terwujud. (Kiki Rizkika, kontributor Trubus)
