Sunday, January 25, 2026

Besar Karena Hawar

Rekomendasi
- Advertisement -

Penjualan bibit dan ikan gabus konsumsi menjadi sumber pendapatan baru Syakdillah. Nasibnya berubah bagus setelah membudidayakan gabus.

Semula Syakdillah bekerja sebagai petani padi. Dari pekerjaaannya itu pendapatan Syakdillah tidak menentu. Kini warga Kelurahan Alalak Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu, memiliki mata pencaharian baru sebagai peternak ikan gabus. Keputusan beralih matapencaharian itu tepat. Penghasilan Syakdillah lebih tinggi setelah membudidayakan ikan predator itu.

Syakdillah, peternak ikan gabus di Kelurahan Alalak Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin
Syakdillah, peternak ikan gabus di Kelurahan Alalak Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin

Ia mengantongi maksimal Rp8,25-juta per 7 bulan dari penjualan 150 kg gabus siap konsumsi. Syakdillah membanderol ikan hasil panen Rp50.000—Rp55.000 per kg. Harga itu masih bisa tinggi lagi yakni Rp80.000 per kg saat musim hujan. Pasokan gabus di Banjarmasin cenderung menurun saat hujan. Ketika itu banyak kolam peternak tegenang air dan gabus loncat keluar kolam sehingga ikan mati.

Jual bibit
Syakdillah membesarkan gabus di dalam keramba berukuran 3 meter x 4 meter. Kolam itu mampu menampung 1.000 gabus siap konsumsi. Pakan gabus di kolam pembesaran berupa ikan hidup berukuran kecil seperti sepat, teri, dan keong. Selain menjual gabus ukuran konsumsi, Syakdillah pun melego bibit satwa nokturnal itu. Dari perniagaan bibit gabus itulah pendapatan bulanan Syakdillah berasal.

Ia menjual rata-rata 1.000 bibit setiap bulan dengan dua ukuran yakni 5—6 cm dan 7—8 cm. Syakdillah mendagangkan bibit yag disebut pertama seharga Rp1.000 per ekor. Sementara harga bibit yang disebut terakhir Rp1.500—Rp2.000 per ekor. Jadi, Syakdillah minimal meraih omzet Rp1,5-juta sebulan dari perniagaan bibit gabus. Konsumen bibit berasal dari peternak pembesaran gabus di Banjarmasin dan sekitarnya.

Syakdillah mengenal Channa striata sejak kecil. “Masyarakat Banjarmasin menyebut gabus dengan nama hawar,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan warga Banjarmasin gemar mengonsumsi gabus. Mayoritas ikan berasal dari hasil tangkapan alam. Oleh karena itu kertersediaan gabus di alam semakin berkurang sehingga perlu dibudidayakan.

Syakdillah kali pertama membudidayakan gabus pada 2012. Saat itu ia mendapatkan 1.000 bibit gabus gratis dari Dinas Pertanian Kalimantan Selatan. Bibit gabus berukuran 7 cm itu ia masukkan ke kolam berukuran 5 m x 10 m beralas tanah. Selang 7 bulan ia memanen sekitar 700 ekor bagus siap konsumsi. “Gabus siap konsumsi berbobot sekitar 250 g per ekor atau 4—5 ekor per kg,” ujarnya.

Saat itu Syakdillah menjual gabus ke pengepul Rp27.000 per kg dan tetangga sekitar dengan harga Rp40.000 per kg. Ia tidak menjual semua gabus. “Saya menyisakan sekitar 25 pasang ikan untuk indukan,” kata ayah empat anak itu. Menurut Syakdillah untuk membedakan gabus jantan dan betina relatif mudah. Ciri gabus jantan memiliki kepala lebih tumpul, warna lebih gelap, dan ukuran lebih kecil. Sementara gabus betina sebaliknya. Gabus siap menjadi indukan saat berusia 1 tahun.

Pasang jaring
Ketika itu Syakdillah memindahkan satu pasang gabus siap bertelur ke dalam satu kolam berukuran 1 m x 1 m. Ciri betina siap bertelur antara lain perut bagian bawah terasa lembek dan tampak butiran menyerupai kumpulan telur jika diraba. “Dalam satu kolam hanya diisi satu pasang gabus siap bertelur,” ujarnya. Keramba khusus pasangan gabus itu berada di dalam setiap keramba berukuran 2 m x 2 m.

Keramba terbuat dari jaring berwarna hijau. Syakdillah mengikat setiap sisi jaring menggunakan tambang yang ditautkan ke patok kayu. Tujuannya agar jaring berdiri tegak dan berbentuk persegi empat. Sejatinya keramba itu berada di kolam tanah berukuran 12 m x 5 m. Di dalam kolam itu terdapat lima keramba berukuran 2 m x 2 m yang saling berhadapan. Total jenderal terdapat 10 keramba berukuran 2 m x 2 m.

Harga ikan gabus bisa mencapai Rp. 80.000 per kg.
Harga ikan gabus bisa mencapai Rp. 80.000 per kg.

Ketinggian air di kolam 50 cm. Ia memilih kolam berlantai tanah agar menyerupai habitat asli gabus. Tidak ketinggalan beberapa eceng gondok menggerombol di salah satu sisi kolam. Ia menutup bagian atas keramba pemijahan dengan jaring agar indukan gabus tidak loncat. “Induk gabus sering melompat terutama saat hujan,” ujar Syakdillah. Ukuran lubang jaring keramba pemijahan lebih lebar.

Tujuannya setelah telur menetas bibit gabus bisa keluar dengan sendirinya. Namun Syakdillah tetap memindahkan bibit saat berumur 1,5 bulan atau berukuran 1—2 cm karena ada bibit yang tidak bisa keluar. Bibit itu pindah tempat ke keramba luar berukuran 2 m x 2 m. Jika tidak dipindah, indukan bisa memangsa anakan gabus. Setiap pasang induk menghasilkan 2.000—5.000 telur gabus.

“Namun, ikan yang mampu bertahan hingga berukuran 7 cm atau 3 bulan hanya sekitar 500—1.000 benih,” ujarnya. Menurut Syakdillah kematian bibit gabus paling banyak akibat sifat kanibal atau memangsa sesamanya. Untuk itu ia memindahkan lagi gabus berukuran 2—3 cm ke kolam berukuran 1 m x 4 m. Kolam yang memanjang itu menyulitkan ikan besar memangsa ikan yang lebih kecil.

“Lazimnya gabus berukuran besar berkumpul di tengah dan yang kecil berada di tepi kolam,” ujarnya. Kolam itu juga memudahkan Syakdillah mengambil bibit berukuran 7—8 cm untuk dipindahkan ke kolam pembesaran atau dijual. Ia tidak perlu masuk ke kolam karena bibit berukuran kecil sudah berkumpul di tepi kolam. Bibit-bit itulah sumber pendpatan bulanan Syakdillah. Adapun pendapatan yang lebih besar diperoleh setelah tujuh bulan membesarkan ikan gabus. (Ian Purnama Sari)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img