Friday, August 12, 2022

Jurus Urus Gabus

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padat tebar longgar dan memasang jaring kunci sukses budidaya gabus.

Harapan Eko Rudi Feriawan mendapat 1 ton gabus pupus. Jika harga gabus Rp45.000 per kg, maka Eko gagal meraih omzet Rp45-juta. Pada April 2016 peternak di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, itu hanya memanen 600 kg. Artinya Wawan—sapaan akrab Eko Rudi Feriawan—cuma mendulang omzet Rp27-juta. Penurunan omzet hingga 60% karena ia menebar 5.000 bibit seukuran 4—5 cm di kolam berukuran 5 m x 12 m.

Budidaya gabus tergolong mudah.
Budidaya gabus tergolong mudah.

Itu berarti populasi ikan di kolam milik Wawan 80 ekor per m². Kepadatan ikan itu terlalu tinggi. Idealnya padat tebar gabus 20 ekor per m². Dampaknya persentase kelulusan hidup bibit anjlok menjadi 60% dari semula 85%. Wawan membesarkan gabus selama 10 bulan. Saat itu ikan anggota famili Channidae itu berbobot 250 g. “Saya menggunakan pakan berupa pelet pabrikan,” kata pria berumur 30 tahun itu. Menurut Wawan sekilo pakan mampu menghasilkan 1,5 kg daging.

Pakai jaring

Peternak gabus lain di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, David Khunaisi, mengatakan populasi ikan salah satu kunci sukses membesarkan gabus. “Kepadatan tinggi membuat pertumbuhan ikan tidak seragam, merangsang kanibalisme, dan memperpanjang masa panen,” kata pria yang menekuni budidaya gabus sejak 2011 itu. Oleh karena itu David menerapkan padat tebar yang relatif longgar.

Ia memiliki 8 kolam pembesaran berukuran berbeda dari terpal. Kedalaman kolam seragam yakni 80 cm. Pada kolam berukuran 9 m x 10 m, David menebar 20 ekor per m². Sementara kolam berukuran 6 m x 4 m berpadat tebar 10—12 ekor per m². Adapun kolam seluas 8 m x 8 m berpadat tebar 15 ekor per m². David memilih bibit berukuran 5—7 cm. Lama masa pembesaran 7 bulan. Saat itu ia memanen 2—3 ekor per kg.

Selain padat tebar, pemasangan jaring pun menentukan keberhasilan membudidayakan gabus Channa striata. Pada Januari 2016 David gagal menjaring 1 ton gabus di kolam berukuran 9 m x 10 m. Ia hanya berhasil panen 500 kg ikan. Penyebabnya jaring pelindung roboh karena hujan deras. Akibatnya banyak ikan lompat keluar kolam dan mati. Oleh karena itu konstruksi jaring harus kuat agar tidak gampang jebol.

Pengepul membeli hasil panen itu seharga Rp35.000 per kg sehingga David hanya mendapat omzet Rp17,5-juta. Jika jaring berfungsi normal ia bepeluang memperoleh omzet Rp35-juta. Harga gabus itu tergolong rendah karena saat itu peternak tambak di Sidoarjo, Jawa Timur, juga memanen snakehead. “Mereka mendapat gabus liar yang terjebak di tambak-tambak bandeng,” ujar David.

Menurut David membesarkan ikan gabus mudah. Syaratnya peternak mesti melengkapi kolam dengan jaring. Harap mafhum gabus cukup agresif dan gemar melompat. Peternak bisa memanfaatkan kolam tanah, terpal, maupun beton sebagai tempat budidaya. Peternak di Kotamadya Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Farhan, punya cara unik membudidayakan gabus.

Prospek bagus

Eko Rudi Feriawan, peternak ikan gabus di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Eko Rudi Feriawan, peternak ikan gabus di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Farhan membesarkan gabus dan gurami di kolam sama. Ia menempatkan ikan gabus dalam jaring berbentuk persegi, sedangkan gurami dipelihara di luar jaring. Farhan memiliki 7 kolam tanah dengan ukuran bervariasi. Ia menancapkan jaring setinggi 1 m mengelilingi kolam. Ia menebar bibit berukuran 5—7 cm dengan populasi sebanyak 20 ekor per m². “Saya menghindari populasi yang terlalu sesak agar ikan tumbuh optimal,” ujar Farhan.

Pria berusia 55 tahun itu memberi pakan berupa pelet dan sisa-sisa organ tubuh ikan. Pembesaran selama 7 bulan itu menghasilkan ikan berbobot rata-rata 200 g. Farhan menjual gabus siap konsumsi itu ke pasar tradisional. seharga Rp35.000/kg. Harga gabus bisa tembus Rp100.000/kg bila pasokan sedikit.

“Oleh karena itu peluang budidaya gabus cukup menjanjikan,” ujar Farhan. Apalagi keberadaan gabus di alam mulai langka. Padahal pasar sangat membutuhkan haruan—sebutan gabus di Pulau Borneo. Buktinya hasil panen Farhan selalu ludes. Mayoritas pembeli yang datang adalah pengelola restoran dan ibu rumah tangga. (Andari Titisari)

Previous articlePasar Tunggu Gabus
Next articleBesar Karena Hawar
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img