Monday, January 26, 2026

HIJAU TANGGUH

Rekomendasi
- Advertisement -
Eka Budianta

Bisnis hijau berkembang pesat luar-biasa. Pada September 2018 Konfrensi Kota Hijau diadakan di Warsawa, Polandia. Pesertanya datang dari seluruh dunia. Presenter dari Indonesia, Karen Tambayong, tampil dengan topik “Kota Hijau untuk Masyarakat Sejahtera”. “Industri hijau terdiri atas dua komponen: program dan konstruksi,” katanya. Untuk proram dia memberi contoh aneka kegiatan terapi hijau.

Ada terapi hortikultur, chemo garden, forest bathing, dan berbagai macam agrowisata. Intinya, masyarakat urban memerlukan komponen alam dalam hidupnya. Pendidikan berbasis lingkungan, asuransi berbasis lingkungan, bahkan rumah sakit biofilik juga mulai diminati. Garden hospital membuktikan bahwa pasien yang dirawat dengan sentuhan alam lebih cepat sembuh dan pulang.

Bangunan hijau

Jangan heran kalau makin banyak perusahaan asuransi, termasuk penjamin kesehatan seperti Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial (BPJS), bekerja sama dengan pegiat hortikultura. Di Singapura dan Jepang, berdiri konstruksi rumah sakit dengan tanaman di dinding, kebun, dan parit-parit ikan di atapnya. Sebuah gedung hijau dengan 9 lantai penuh tanaman di Singapura, bisa jadi contohnya.

Korea dan Amerika Serikat juga menghijaukan kembali bangunan-bangunan beton. Jalan layang kembali dibongkar dijadikan taman. Ternyata masyarakat lebih sehat, damai, makmur justru bila hidup menyatu dengan tumbuhan. Pada 2007, melalui Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Karen memperkenalkan taman dinding dengan sistem kantong. Teknologi membuat dinding hijau dengan memakai geotekstil didapatnya dari Perancis.

Hingga 2009 ia belajar beberapa kali di sana, dan menerapkannya untuk sejumlah bangunan, termasuk rumahnya sendiri. Sekarang, dinding hijau dan bangunan hijau sudah banyak peminatnya. Pada 2014, Surabaya mulai meluncurkan program green building untuk 59 bangunan. Jadi jangan heran kalau memasuki 2018, Surabaya muncul sebagai green city – kota hijau tingkat dunia. Pegiatnya bukan hanya gedung dan sarana mewah.

“Orang miskin pun bisa bikin hidroponik dari botol plastik bekas,” katanya. Indeks kebahagiaan menjadi indikator penting dalam pembangunan. “Ternyata 65 persen kebahagiaan manusia ditentukan oleh lingkungan alam. Terutama oleh pertanian dan peternakan.” Begitu ditegaskan oleh pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebuah fasilitas agrowisata seluas 70-an hektar dibuka untuk publik.
Pasar utamanya adalah anak sekolah yang rindu untuk bermain di alam. Memang, di dalam kebun ada juga kolam-kolam pemancingan, bermacam pohon buah-buahan. Namun, selain fasilitas, yang lebih penting adalah program-programnya. Ada festival duren, lomba burung berkicau, kompetisi anjing hias, ikan hias, kucing dan bermacam unggas. Semua mengundang peserta, pemirsa dan uang.

Aneka program pelatihan, lokakarya, seminar, dan ekshibisi lingkungan juga terus berpacu. Bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di pelosok dan di desa-desa. Kawasan Karawaci, Tangerang, tidak ketinggalan. Kampung-kampung yang semula gersang menjadi sejuk dan segar. Dahulu kumuh, kini menjadi asri, tertata rapi. Beberapa camat mendatangkan pelatih dan inspirator dari lain provinsi.

Indeks bahagia

Lomba kebersihan, membuat biopori, hidroponik, daur-ulang dan lain-lain pun menjadi hajat bersama. Gaya hidup hijau merebak ke seantero Nusantara. Kampung-kampung hijau pun bermunculan. Disiplin, rajin, bersemangat untuk belajar, perbaikan bersinambungan makin berkobar. Sukses di Malang, Surabaya, bahkan inspirasi dari luar-negeri pun menular. Maklum saja, indeks bahagia adalah parameter global.

Taman dinding atau vertical garden kini makin marak di perkotaan. Di lahan sempit pun kita bisa membuat taman dinding.

Pada 2017 kemarin Indonesia menduduki peringkat ke-81 dari 155 negara. Memang ada 10 aspek kehidupan esensial yang diperhitungkan. Mulai dari kesehatan, penghasilan, harmonis keluarga, hubungan sosial, kondisi rumah dan lingkungan, bahkan ketersediaan waktu luang. “Tetapi satu akuarium dengan ikan warna-warni, atau bunga yang berseri di kamar-tamu, bisa membuat rileks dan bahagia,” tutur Sukarmin, pakar hortikultura dari Departemen Pertanian.

Dia mengampanyekan peningkatan produksi buah-buahan untuk mendongkrak indeks kebahagiaan. Konsumsi buah dan sayur yang cukup bisa memperbaiki kesehatan dan menjaga senangnya perasaan. Pernahkah anda mengunjungi Monkey Forest di Sangeh, Bali? Ada program forest bathing di sana. Segarnya udara di hutan pala menjadikan udara memiliki kandungan oksigen yang positif bagi tubuh manusia.

Namun, forest bathing sangat diminati oleh generasi milenial. Di Jepang, peserta program mandi hutan kebanyakan generasi muda. Shinrin-yoku, istilahnya. Ibu-ibu yang takut kena kanker juga ikut program “mandi hutan” dengan suka cita. Banyak pohon memproduksi senyawa organik yang diperlukan tubuh manusia. Senyawa itu menjadi daya tangkal untuk mendukung NK – pembunuh alami yang melindungi manusia dari sel kanker.

Itu sebabnya bermunculan program kesehatan berbasis alam, termasuk chemo garden – perawatan dalam rumah kaca yang dikembangkan di Belanda. Bermacam mikroorganisme yang dikeluarkan pohon, terbukti sangat membantu kita. Jadi sekarang lebih jelas, mengapa perlu lebih banyak pohon di sekitar kita. Pohon bukan saja produsen oksigen yang kita perlukan untuk bernapas, tapi juga obat alamiah.

Mandi hutan – melakukan aktivitas kesehatan di lingkungan pohon terbukti mengurangi stres, menurunkan tekanan darah, bahkan memperbaiki kemampuan untuk fokus bagi anak-anak penyandang kebutuhan khusus. Suasana hati bisa diperbaiki, pemulihan dari operasi dipercepat, tingkat energi pun diperbaiki. Secara ilmiah dan alamiah, ekosistem di hutan meningkatkan kapasitas komunikasi antara tanah dan spesies yang hidup di atasnya.

Oleh karena itulah, kita maklum pembangunan hutan kota perlu lebih gencar. Bahkan Singapura yang sudah bangga menjadi kota di dalam taman, ingin meningkat menjadi kota di dalam hutan. Sekarang kita mengerti, mengapa sebatang pohon di Jepang dinyatakan lebih mahal dari 200 pohon di tempat lain. Kita juga banyak orang merasa lebih sehat tinggal di seputar kebun raya. Dari sisi bisnis, kebun di puncak gedung (rooftop garden), taman dinding (green wall), dan jasa perawatan taman pun makin diminati.

Semua diarahkan untuk makin alami, meniru, dan mendekati fungsi alam yang hijau dan tangguh. Hutan memang memperbaiki aliran energi, meningkatkan kekuatan hidup. Emil Salim pernah berpesan bahwa tidak ada benda yang lebih mahal dan lebih penting daripada hutan. Dunia internasional pun kini mengakui, bahwa hutan mempererat persahabatan. Ia berkontribusi langsung dalam menjamin kesejahteraan hidup. Bukan hanya gudang obat, mineral, bahan makanan, sandang dan bangunan, tapi juga sumber kebahagiaan. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img