Sunday, July 14, 2024

Cuma 14 Hari Cangkok si Jumbo

Rekomendasi
- Advertisement -

Sukses mencangkok mamey sapote hanya dalam 14 hari, lazimnya 60 hari.

Para pehobi sulit memperbanyak mamey sapote dengan cangkok. Wiwik Wijayahadi sukses mencangkok mamey sapote Pouteria sapota. Dalam dua pekan akar tanaman bermunculan sehingga hasil cangkokan siap tanam. Pehobi buah di Kota Yogyakarta itu mencangkok dengan trik khusus. Kuncinya ada pada pembiaran kambium hingga mengering. Barulah luka sayatan dibalut dengan media.

Lorito, jenis mamey sapote yang relatif mudah dicangkok.

Lazimnya, mencangkok tanaman dengan mengerat batang sepanjang 3—5 cm. Kemudian pehobi mengerik kambium lalu membalut luka dengan tanah maupun sabut kelapa. Wiwik memilih cabang muda sebagai bahan cangkok. Ia mengerat cabang sepanjang 3 cm menggunakan pisau tajam dan steril, mengupas kulit cabang, tanpa mengerik kambiumnya.

Bawang merah

Wiwik menuturkan, “Biarkan sampai kambium mengering.” Sembari menunggu kambium kering ia meletakkan tumbukan bawang merah pada luka sayatan untuk merangsang pertumbuhan akar. Umbi bawang merah mengandung hormon tumbuh auksin yang mampu memicu kemunculan akar. Usai kambium kering, ia lantas menutup luka sayatan itu dengan sekepal moss basah kemudian membungkusnya dengan plastik.

Wiwik semringah melihat hasil cangkokan berakar dalam waktu singkat. Lazimnya, akar cangkok mamey sapote muncul paling cepat 2 bulan. Cara itu cukup memuaskan karena Wiwik mencangkok mamey sapote berjenis keywest. Menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Ir. Edhi Sandra M.Si, perbanyakan tanaman keluarga sawo secara vegetif sulit dilakukan.

Tanaman bergetah dan lambat tumbuh. Jika tanaman dicangkok maka akar baru sulit terbentuk, sedangkan bila disambung pembentukan kalus gagal. Penangkar buah di Bogor, Jawa Barat, Ricky Hadimulya, menuturkan sejatinya tingkat keberhasilan cangkok mamey sapote relatif baik, kecuali jenis keywest. Tingkat keberhasilan cangkok keywest hanya 20—30%, bahkan dengan teknik sambung susu sekalipun.

Ricky berpendapat keywest memiliki getah lebih banyak dibandingkan dengan jenis lain sehingga agak sulit diperbanyak dengan cangkok. Mamey sapote jenis lain seperti lorito, havana, dan magana cenderung mudah dicangkok. Pengalaman Ricky mencangkok mamey sapote lorito butuh waktu 1,5—2 bulan untuk turun cangkok. Ricky menuturkan lorito lebih mudah dicangkok dibandingkan dengan mamey sapote jenis lain.

Semua bibit tumbuh tanpa ada tambahan perangsang akar. Ia memilih cabang berukuran dan berumur sedang. Artinya cabang terpilih tidak terlalu muda, juga tidak terlalu tua. Jika cabang yang dicangkok terlalu tua maka akar sulit muncul. Sementara jika cabang terlalu muda maka akar jutsru mudah busuk. Untuk memudahkan pilih saja titik yang berada 50—70 cm dari ujung cabang yang akan dicangkok.

Ricky mengerat cabang terpilih sepanjang 3—5 cm. Berikutnya, ia mengerik area sayatan hingga getah berkurang. Ia membiarkan luka sayatan itu terbuka selama 5—7 hari. Pada hari ketujuh barulah ia menutup luka dengan tanah lalu membalutnya dengan plastik. Dengan cara itu akar muncul sekitar 1 bulan kemudian. Ricky menuturkan perbanyakan mamey sapote dengan cangkok merupakan cara paling ekonomis saat ini. Perbanyakan dengan sambung susu bisa dilakukan, hanya saja sedikit sulit diterapkan.

Batang bawah

Perbanyakan sambung harus menemukan bahan untuk batang bawah yang tepat. Batang bawah yang cocok digunakan harus jenis mamey sapote juga. Penangkar di Demak, Jawa Tengah, Prakoso Heryono, pernah menyambung susu dengan batang bawah alkesa Pouteria campechiana. Alih-alih tanaman idaman yang didapat, ia justru gagal. Pertumbuhan batang bawah kalah cepat dengan batang atas. Selain itu, batang mamey sapote agak getas sehingga rawan patah kalau disambung terlalu banyak.

Akar lebih cepat muncul hanya 14 hari

Sulitnya perbanyakan salah satu faktor masih jarangnya pekebun mengembangkan mamey sapote. Sementara itu perbanyakan dengan biji tidak ekonomis karena perlu waktu lama. Penangkar di Parung, Bogor, Jawa Barat, Eddy Soesanto, pernah menerapkan perbanyakan teknik ganda yakni memadukan cangkok dan sambung susu untuk perbanyakan sawo jumbo itu.

Tahapannya sama persis dengan mencangkok biasa. Namun, Eddy menyayat lagi batang di atas cangkokan. Panjang sayatan menyesuaikan ukuran batang bawah. Eddy menggunakan batang bawah dari alkesa hasil perbanyakan biji yang ditanam dalam polibag. Ia memangkas miring batang bawah pada ketinggian 15—20 cm dari pangkal batang sepanjang 3 cm.

Ia lantas menempelkan batang bawah pada bekas sayatan batang atas dan mengikatnya menggunakan plastik bening. Ia memastikan ikatan erat sebab bila bergeser sambungan bisa gagal. Eddy mengikat polibag batang bawah dengan cangkokan supaya ajek. Selang 5 bulan calon bibit itu pun siap diturunkan. Eddy memotong di bawah cangkokan. Keuntungan menggunakan teknik ganda adalah meski batang bawah yang digunakan tidak cocok, bibit masih bertahan hidup karena batang cangkokan sudah berakar. (Andari Titisari)

Previous article
Next article
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Presiden dan Mentan Kunjungi Kebun Kopi di Lampung Barat, Pacu Produksi Demi Kesejahteraan Petani

Trubus.id—Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau perkebunan kopi di Desa Kambahang, Kecamatan Batubrak,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img