Sunday, January 25, 2026

Tanam Rapat Panen Berlipat

Rekomendasi
- Advertisement -

Beberapa pekebun membudidayakan vanili dengan kerapatan tinggi.

Kebun vanili milik Abraham Masengi di Kota Manado, Sulawesi Utara, hanya berukuran 10 m x 16 m. Namun, kebun itu mampu menampung hingga 500 tanaman vanili. Populasi itu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan vanili yang dibudidayakan secara konvensional. Para pekebun konvensional membudidayakan vanili berjarak tanam 2 m x 2 m. Dengan jarak tanam itu, maka luas lahan 160 m² hanya berpopulasi 40 tanaman.

Abraham menanam vanili berpopulasi padat dengan memodifikasi bentuk panjatan. Para pekebun konvensional merambatkan vanili pada pohon pelindung atau tajar seperti pohon gamal. Abraham mengganti tajar dengan palang baja ringan. Ia menggunakan kerangka baja ringan yang dibentuk menyerupai huruf A untuk menopang palang baja ringan yang dipasang horizontal. Tinggi palang sekitar 150 cm. Palang baja ringan itu untuk menopang sulur-sulur vanili.

Mulai berbunga

Made Dwi Wijaya menanam 50 tanaman vanili di lahan berukuran 1,2 m x 6 m.

Di lahan itu terdapat 5 jajar palang baja ringan. Abraham lalu menanam vanili di bawah palang baja ringan dengan jarak tanam yang sangat rapat, yakni hanya 10 cm. Pada setiap jajar sepanjang 10 m tumbuh 100 tanaman vanili sehingga total populasi 500 tanaman. Meski berjarak tanam rapat, pertumbuhan vanili berumur 2 tahun itu tampak prima. “Beberapa tanaman sudah mulai berbuah,” tuturnya.

Padahal, ia hanya mengandalkan pupuk kandang dan kompos sebagai sumber nutrisi. Menurut Abraham vanili di kebunnya lebih cepat berbuah karena menggunakan bibit yang sudah tua setinggi 2 meter pada saat tanam. Abraham langsung menjuntaikan sulur bibit ke permukaan palang. Pekebun lain yang menerapkan teknik budidaya padat populasi adalah Made Dwi Wijaya di Nusadua, Denpasar, Provinsi Bali.

Dwi menggunakan palang yang ditopang kerangka baja ringan untuk rambatan sulur tanaman kerabat anggrek itu. Di lahan berukuran 6 m x 1,2 m, Dwi menanam 60 tanaman anggota famili Orchidaceae itu. Padahal, pada budidaya konvensional, lahan seluas itu hanya cukup untuk 4 tanaman. Meski populasi tanaman sepadat itu, “Tanaman tetap tumbuh optimal,” tutur Dwi.

Eryc Max di kebun vanili berjarak tanam hanya 10—15 cm.

Di Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, ada Eryc Max yang juga menerapkan teknik budidaya populasi tinggi. Bedanya Eryc menggunakan palang dengan kerangka yang lebih sederhana. Ia menggunakan palang berbahan pipa polivinilklorida (PVC) yang ditopang tiang-tiang kayu berjarak antartiang 1 m. Ia juga membuat tiang lebih tinggi, yakni hingga mencapai 3 m.

Menurut Eryc cara itu untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman sehingga sulur bisa tumbuh leluasa memanjang. Dengan begitu potensi munculnya buah di setiap buku sulur juga menjadi lebih tinggi. Eryc menanam vanili di antara tiang kayu dengan jarak tanam hanya 10—15 cm. Menurut Eryc budidaya dengan tingkat kepadatan tinggi masih memungkinkan dilakukan selama nutrisinya terpenuhi.

Sebagai sumber nutrisi, ia memberikan larutan pupuk organik cair yang dicampur dengan zat pengatur tumbuh organik. Untuk tangki semprot berkapasitas 16 liter, ia mencampurkan 6 tutup botol pupuk organik cair dan 1 tutup botol zat pengatur tumbuh. Selanjutnya, Eryc menyemprotkan larutan ke seluruh bagian tanaman sepekan sekali setiap pukul 16.00.

Masa kering

Eryc juga memberikan pupuk kocor berupa campuran 1 kg pupuk organik khusus untuk merangsang buah, 1 kg pembenah tanah, dan 1 botol zat pengatur tumbuh ke dalam 5 liter air. Aduk larutan hingga merata. Sebelum menggunakan, ia mengencerkan larutan pupuk dengan konsentrasi 200 ml per 10 liter air. Selanjutnya kocorkan larutan di sekitar tanaman vanili sebanyak 2—3 liter larutan, tergantung tingkat kelebatan tanaman.

Penyemprotan tanaman menggunakan larutan pupuk organik cair.

Berikan setiap dua pekan hingga 4 kali aplikasi. “Saat ini masih fase pertumbuhan vegetatif dan perangsangan akar. Sekitar dua bulan lagi masuk fase perangsangan buah,” tuturnya. Menurut peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) di Kota Bogor, Jawa Barat, Dra. Endang Hadipoentyanti, M.S., hingga kini belum memperoleh informasi pekebun vanili yang menerapkan budidaya dengan tingkat kepadatan populasi tinggi yang berhasil berbunga atau berbuah.

Apalagi ditanam di dalam greenhouse. “Ya perlu dicoba,” tuturnya. Menurut Endang vanili sebetulnya menghendaki hidup bebas seperti di habitat aslinya di hutan-hutan. Jika dipindahkan ke dalam greenhouse, maka harus diatur kondisi lingkungannya seperti di habitat aslinya. Menurut Endang, yang tak kalah penting adalah kondisi iklim yang dapat memacu vanili berbuah.

“Agar vanili bisa berbunga, perlu masa 3 bulan kering atau panas, lalu diikuti musim hujan,” katanya. Meski demikian, budidaya vanili di dalam greenhouse memiliki beberapa keuntungan. “Hama dan penyakit lebih mudah dikendalikan. Kebutuhan nutrisi juga harus terpenuhi,” tuturnya. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img