Meningkatkan produksi sarang walet dengan parfum khusus.
Pemilik rumah walet di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanahbumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, Daus Sudan, bagai mendapat durian runtuh. Daus memanen sarang walet 3 kali lipat atau meningkat 300% pada April 2018. Daus mengelola sebuah rumah walet berukuran 9 m x 12 m x 2 m yang terdiri atas 2 lantai itu. Menurut Daus semula hanya tersedia polesan atau tempat sarang burung walet sebanyak 418 buah.
Berselang 2,5 bulan menjadi 1.310 polesan. Enam bulan kemudian jumlah polesan mencapai 2.000 buah. Lantas apa rahasia Daus meningkatkan jumlah sarang walet? Daus mengatakan, polesan atau jumlah sarang burung meningkat setelah menggunakan parfum D11P4, kreasi Swifletshop. Di dunia perwaletan parfum berperan mengundang walet untuk bersarang. Daus menyemprotkan parfum aroma itu pada sirip yang tidak ada polesan.
Produksi meningkat

Lazimnya setelah 10 hari penyemprotan, banyak polesan baru. Ia menyemprotkan parfum pada sirip lain. Selang 5 hari banyak walet menginap di tempat yang semula tidak ditempati. Melihat peningkatan populasi, Daus bungah. Itulah sebabnya ia menggunakan parfum aroma itu rutin dengan dispenser. Tujuannya agar penyemprotan otomatis, sehingga aroma menyebar ke seluruh sirip dan seluruh ruangan.
Selama 6 bulan Daus menghabiskan 6 kaleng parfum masing-masing berbobot 300 gram. Harga sebuah kaleng hanya Rp148.000. Namun, biaya pengadaan parfum itu relatif kecil jika dibandingkan dengan lonjakan produksi. Semula Daus hanya memanen 418 sarang setara 2,79 kg per sekali panen. Bobot 1 kg sarang walet terdiri atas 150 buah sarang. Jika harga rata-rata sarang burung walet per kg Rp10 juta omzet Daus hanya Rp27,9-juta per sekali panen.
Setelah 2,5 bulan pemakaian parfum aroma, meningkat menjadi 1.310 sarang setara 8,7 kg per sekali panen. Omzet pun melambung hingga Rp87-juta per sekali panen. Menurut praktikus walet di Jakarta Barat, Pudiman, menerapkan wewangian seperti dupa lazim dilakukan para peternak. Pudiman mencontohkan di salah satu vihara Thailand burung walet kerap menetap. Biasanya para biksu di vihara membakar dupa.
Dupa ibarat simbol dari keharuman nama baik seseorang. “Filosofinya bau wangi dupa yang dibawa angin akan tercium di tempat yang jauh, tetapi tidak dapat tercium di tempat yang berlawanan dengan arah angin. Begitu juga dengan perbuatan manusia yang baik akan diketahui oleh banyak orang, tetapi perbuatan tidak baik di mana pun berada juga akan diketahui oleh orang lain,” kata pria yang mulai merenovasi rumah walet sejak 2011 itu.

Menurut Pudiman burung walet betah di suatu tempat kemungkinan besar karena menyukai aroma dupa walaupun sulit dibuktikan secara ilmiah. Pudiman mengatakan, seiring berjalannya waktu parfum pemikat walet marak di pasaran. Sebagian ada yang betul berhasil, ada pula sugesti semata. Menemukan formulasi tepat untuk parfum aroma memang relatif sulit. Banyak pengujian di rumah walet berbarengan dengan pengaktifan tweeter.

Oleh karena itu, hasilnya bias. Peningkatan produksi itu apakah karena pengaruh parfum atau suara tweeter. Pudiman pun mencoba aroma parfum racikannya. Ia bereksperimen di rumah walet tanpa mengaktifkan suara. Setelah pemantauan selama beberapa bulan, hasilnya positif. Walet ramai bermain di tempat bekas sarang yang biasa dipanen. Selama satu siklus dari awal panen sampai sarang terbetuk utuh kembali, burung nyaman tak terganggu dengan apliaksi parfum aroma.
“Burungnya adem ayem saja terus membuat sarang di sana,” kata Pudiman. Burung walet bahkan kerap mencium dan menempel di dispenser yang terpasang parfum. Akhirnya pada Januari 2018 ia merilis parfum itu dengan merek D11P4. Kelebihan parfum aroma kreasi Pudiman menghilangakan bau yang tidak diinginkan dan memikat burung agar betah tinggal serta memeperbesar peluang anak walet kembali ke rumah burung walet.
Pudiman mengatakan, penggunaan parfum aroma lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan dupa. Asumsinya pembakaran 1 batang dupa setara dengan 90 menit. Harga per batang dupa Rp900. Parfum aroma racikan Pudiman bisa untuk 15 menit per sekali semprot. Dalam satu kaleng bisa menyemprot hingga 3.000 kali, atau jika ditotal waktu 45.000 menit. Artinya aroma tercium di rumah walet setara dengan membakar 500 batang dupa.
Jika menggunakan dupa biaya yang dikeluarkan pemilik rumah walet mencapai Rp450.000. Adapun menggunakan parfum aroma kreasi Pudiman hanya Rp148.000. “Jika penggunaan selang 20 menit tentu akan lebih ekonomis lagi,” kata Pudiman. Ia mengatakan parfum racikannya sudah dipasarkan ke beberapa negara di Asia Tenggara, yakni Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Sayang, Pudiman enggan mengungkapkan bahan baku parfum baru itu. (Muhamad Fajar Ramadhan)
