Monday, January 26, 2026

Serbabambu di Selaawi

Rekomendasi
- Advertisement -
Di Kecamatan Selaawi banyak terdapat
kebun-kebun bambu.

Pusat kerajinan bambu terbesar di tanah air. Tersedia wisata edukasi dan mancakrida di tengah hutan bambu.

Trubus — Bambu dan Kecamatan Selaawi bagai sekeping mata uang yang tak terpisahkan. Masyarakat di Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengandalkan bambu untuk menunjang kehidupan. Di berbagai penjuru mata angin terdapat hutan bambu sekaligus perajin bambu. Menurut warga Desa Selaawi, Kecamatan Selaawi, Iwan Ridwan, sejak dahulu desanya sohor sebagai pusat perajin anyaman bambu.

Sentra bambu

Keterampilan menganyam bambu diturunkan secara turun-temurun selain bertani. “Dalam sehari seorang ibu rumah tangga biasanya mampu menyelesaikan rata-rata tiga boboko,” ujar Ridwan. Para perajin menjual kerajinan bambu kepada pengepul Rp150.000 per kodi (20 buah) atau Rp7.500 per buah. Pengepul lalu mendisitribusikan kerajinan itu ke toko-toko perabotan rumah tangga.

Camat Selaawi, Kabupaten Garut, Ridwan Effendi, S.S.T.P., M.Si., mengembangkan program Kawasan Perdesaan Industri Bambu Kreatif Selaawi.

“Ada juga yang memasok hotel-hotel atau restoran-restoran khas Sunda,” kata pria 41 tahun itu. Menurut Ridwan semula keterampilan menganyam bambu itu hanya untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan rumah tangga, bukan untuk diperjualbelikan.

Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan kerajinan bambu terus meningkat. Produk kerajinan berbahan bambu pun makin beragam. Kerajinan yang dibutuhkan bukan hanya anyaman. Ketika hobi burung berkicau tren pada 2010, permintaan sangkar burung berbahan bambu pun melonjak tajam.
Tren rumah makan tradisional juga turut mendongkrak permintaan aneka perabotan berbahan bambu, seperti boboko, piring, centong, dan gelas—semua berbahan baku bambu. Begitu juga dengan mebel dan bangunan bambu.

Potensi kerajinan bambu itulah yang mendorong Camat Selaawi, Kabupaten Garut, Ridwan Effendi, S.S.T.P., M.Si., mengembangkan program Kawasan Perdesaan Industri Bambu Kreatif Selaawi. Menurut Effendi bambu salah satu potensi sumber daya alam di Kecamatan Selaawi. Luas lahan bambu di kecamatan berpenduduk 41.187 jiwa itu mencapai 504,43 hektare. Tujuh desa di Kecamatan Selaawi, antara lain Desa Putrajawa berpotensi produk berbahan bambu.

Berbagai produk kerajinan bambu produksi Iwan Ridwan.

Effendi menetapkan desa itu sebagai sentra kerajinan anyaman dan alat musik bambu. Adapun Desa Mekarsari ditetapkan sebagai sentra kerajinan sangkar burung dan dekorasi rumah. Di sana banyak perajin sangkar burung sejak tren burung berkicau meningkat. Bagi yang membutuhkan mebel dan konstruksi bambu, konsumen dapat menyambangi Desa Selaawi. Di sana banyak warga yang ahli kontruksi bangunan berbahan bambu. Salah satunya Iwan Ridwan yang acap menghias dekorasi stan pameran.

Konservasi

Iwan Ridwan, memperoleh keterampilan membuat kerajinan bambu secara turun-temurun.

Effendi turut memperhatikan ketersediaan bahan baku bambu dengan menetapkan Desa Samida, Pelitaasih, dan Putrajawa sebagai kawasan konservasi dan pembibitan bambu. Berkembangnya industri kerajinan bambu menyebabkan tingkat kebutuhan bahan baku terus meningkat. Iwan Ridwan menuturkan, untuk membuat jeruji sangkar burung membutuhkan 3—4 batang bambu per hari atau minimal 60 batang bambu per bulan.

Padahal, untuk membuat kerajinan membutuhkan bambu minimal berumur 1 tahun. “Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku sebanyak itu, bambu dari lahan satu hektare saja tidak cukup,” ujar Iwan Ridwan. Itu baru kebutuhan bahan baku dari seorang perajin. Menurut Effendi hingga kini terdapat sekitar 1.600 perajin bambu di Kecamatan Selaawi. Mereka bernaung di bawah organisasi Gabungan Kelompok Perajin (Gapokjin).

Effendi juga bekerja sama dengan Sinergi Foundation membentuk Tim Unit Kerja Lumbung Benih Bambu untuk mengindentifikasi spesies bambu di Kecamatan Selaawi. Selain itu kerja sama juga berupaya menyediakan spesies bambu lain dari luar Selaawi yang berpotensi dikembangkan di daerahnya. Menurut anggota Tim Unit Kerja Lumbung Benih Bambu, Hasan Hasanudin, hingga kini terdapat 36 spesies bambu yang tumbuh di Selaawi.

Sarana bermain anak di dalam kawasan Lembur Asri.

Jenis yang paling banyak digunakan para perajin adalah jenis bambu tali Gigantochloa apus. Tanaman anggota famili Poaceae itu lebih lentur sehingga lebih mudah dianyam atau ditekuk menjadi berbagai bentuk tanpa menyebabkan patah. Jenis bambu lain yaitu gombong Gigantochloa pseudoarundinacea yang biasanya digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan, mebel, dan perkakas rumah tangga.

Wisata bambu

Warga Desa Selaawi mengandalkan bambu untuk menunjang kehidupan.

Effendi mengembangkan program Seba Kratu—akronim dari Selaawi Bamboo Craft Tourisme. Program itu bertujuan untuk mengembangkan Selaawi sebagai pusat industri kerajinan bambu sekaligus pusat pariwisata berbasis bambu. Pengembangan wisata kebun bambu antara lain di Desa Selaawi. Di desa itu terdapat kawasan hutan bambu bernama Lembur Asri. Di tengah hutan bambu itu terdapat saung-saung bambu.

Beragam sarana bermain anak seperti ayunan dan mancakrida atau outbound juga tersedia di tengah hutan bambu. Ia juga mendorong setiap desa mengembangkan potensi berupa satu desa satu wisata atau one village one tourisme. Camat menggelar Festival Selaawi pada 11 Desember 2016 untuk mengundang para wisatawan.
Pada ajang itu Kecamatan Selaawi sukses memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) dengan membangun sangkar burung raksasa setinggi 7 meter. “Dengan diselenggarakannya festival itu diharapkan mengangkat Kecamatan Selaawi menjadi salah satu pusat wisata kerajinan bambu terbesar di Asia,” tutur Effendi. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img