Durian memerlukan pupuk yang menyediakan pasokan hara lengkap dan berimbang.
Trubus — Kurang pupuk, produksi atau kualitas durian pasti terpuruk. Sekitar satu dekade lalu, pekebun durian montong Tanah Air mengeluhkan buah tidak matang sempurna. Ujung buah, hampir seperempat bagian buah, mentah dan keras tapi buah sudah jatuh. Keruan saja harga durian montong lokal itu merosot sampai tidak laku dijual. Pekebun yang semula bersemangat merawat kebun menjadi patah arang dan membiarkan kebun terbengkalai. Beberapa malah menjual kebun lantaran enggan menanggung biaya tinggi perawatan kebun durian.

Menurut praktisi pupuk di Jakarta, Catur Dian Mirzada, S.P. buah tidak matang sempurna menjadi salah satu masalah yang kerap terjadi di Indonesia. “Kalau dimakan mengkal tapi sudah jatuh,” katanya. Masalah lain, empulur basah sehingga kurang nikmat dimakan. Pemicunya banyak pekebun membiarkan pohon tanpa pemupukan, tidak cukup memupuk, ataupun tidak tepat memberikan pupuk.
“Pemupukan harus direncanakan dalam setahun, jangan secara parsial saja. Sebab durian menimbun nutrisi untuk dipakai saat pembungaan dan pembuahan. Kurangnya cadangan karbon saat berbunga dan berbuah mengakibatkan rontok buah, bila berhasil, pohon pun akan kering. Jangan bangga pohon berbunga dan berbuah lebat bila sejarah nutrisi kurang, peluang tanaman mati lebih besar lo!” jelas Catur. Biasanya pekebun durian sekadar memupuk dengan Urea. Padahal pohon juga memerlukan unsur lain seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan boron (B) untuk hasil panen yang maksimal.
Sel lebih kuat
Pada masa persiapan bunga, pembesaran, dan pematangan buah, durian memerlukan Ca dan B untuk kerja sel yang lebih kuat. Unsur hara yang bersifat immobile ini, jika kekurangan akan menyebabkan ujung buah rusak, buah mengkal, kulit buah mudah pecah dan daya simpan lebih singkat.

“Jangan lupa sertakan Ca yang siap saji dalam setiap aplikasi N, P, K, Mg, S, Fe, Mn, Zn, Mo, Cu untuk si tanaman raja ini. Ca bersifat immobile, sehingga tidak mudah direlokasi dari daun tua ke daun muda ataupun ke bagian buah,” kata lulusan jurusan Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor ini.
Menurut Catur, ada beberapa yang harus kita atur dari sisi unsur hara sebagai catatan untuk para pembudidaya durian. Masalah empulur basah, kita harus mengatur air, Ca dan kalium (K). Buah mengkal, maka kita harus mengatur Ca, B, dan K. Permasalahan lainnya, tergantung dari genetik dan lingkungan.
“Karate Plus Boroni adalah pupuk Kalsium terbaik di kelasnya yang saya rekomendasikan, ada NO3 dan B untuk kinerja sel tanaman yang lebih baik. Aplikasikan NPK: Karate Plus Boroni secara 4:1 (atau rasio tertentu sesuai kesuburan dan kebutuhan tanaman),” ucapnya.
Bunga menjadi menempel, buah tidak mengkal dan berkualitas adalah hasil yang didapat jika mengikuti saran dari Catur yang juga pecinta dengan durian. Rekomendasi pupuk lain dari Catur adalah SuburKali Butir untuk menambah legit buah. Pupuk itu mengandung kalium tinggi yang bebas khlor.

Agar pemberian unsur hara tepat dan berimbang, Catur membuat kalkulator hara untuk pemupukan durian sesuai dengan target produksi, berdasarkan literatur dari Yan Diczbalis dan Darren Westerhuis (2005). Contoh, jika target produksi durian sebanyak 100 kilogram/pohon/tahun, maka nutrient applied yang harus dikembalikan/diberikan adalah N 0,32 kg, P2O5 0,25 kg, K2O 0,85 kg, MgO 0,20 kg, CaO 0,39 kg, dan B 0,005 kg (perpohon/tahun).
Asumsi angka itu, ungkap Catur sudah mempertimbangkan nutrisi dari berat buah durian yang dipanen, bagian vegetatif, dan kemungkinan kehilangan nutrisi karena menguap, tercuci, erosi, dan lainnya berdasarkan literatur itu, sehingga bisa dihitung pupuk-pupuknya.
Catatan lain dari Catur, sebagai tanaman raja, durian ini bersifat tidak suka disaingi. Batang primernya pun tunggal, bunga dan buah bermunculan lebih banyak pada cabang sekunder yang horizontal. Menurut Catur pemangkasan menjadi penting untuk mengatur arsitektur tanaman ini.
“Pertimbangkan untuk memangkas pucuk dominan dan mengatur ketinggian pohon setelah 8—10 meter. Pohon durian tuh aneh, bisa mengundang petir,” paparnya.
Irama alam
Durian termasuk buah yang memerlukan suhu untuk perubahan fase dari vegetatif ke generatif. Bisa dibilang pertumbuhan durian mengikuti irama alam, tepatnya dipengaruhi oleh iklim. Keragaman iklim di Indonesia yang membuat kita dapat mencium aroma durian sepanjang tahun karena durian terus ‘berjatuhan’ mulai dari Aceh hingga Papua.
Di wilayah Indonesia bagian selatan atau di bawah garis khatulistiwa mengikuti irama iklim Monsun dengan satu ‘cekaman’ kering. Iklim yang dimulai dari bulan April hingga September ini membuat tanaman durian, umumnya terangsang untuk berbunga sekali dalam setahun.
Pada wilayah dengan iklim ekuatorial, memiliki dua kali ‘cekaman’ kering (Januari-Februari dan Juli—Agustus). Iklim itu memungkinkan dua kali tanaman terangsang untuk berbunga dan berbuah. Menghasilkan kualitas dan kuantitas buah yang lebih baik dan lebih produktif. Tentunya bila dikawal dengan perawatan dan teknik budidaya yang baik.
“Jika buah durian dipanen pada saat curah hujan tinggi, buah berpeluang ‘blenyek’, empulur basah, dan kadar air buah yang lebih tinggi. Menurunkan kualitas kan?” kata Catur.(Argohartono Arie Raharjo)
