Pekebun mangga dapat memanfaatkan serasah daun mangga untuk mengatasi gulma.

Trubus — Menurut dosen Jurusan Agronomi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Dody Kastono, kerugian pekebun mangga akibat gangguan gulma mencapai 40—60%. Artinya, bila potensi hasil panen sepohon mangga biasanya mencapai 300 kg per tahun, para pekebun hanya memanen 120 kg atau kehilangan hasil panen 180 kg. Jika harga jual pada saat musim mangga, misalnya Rp5.000 per kg, maka berarti pekebun kehilangan potensi pendapatan hingga Rp900.000 per pohon per tahun. Itu baru dari satu pohon. Bila sehektar terdiri atas 100 pohon, maka pekebun kehilangan potensi pendapatan setara Rp90 juta.
Menurut praktikus tanaman buah di Yogyakarta, Ir. Wiwik Wijayahadi, pada tanaman tahunan proses persaingan hara tanaman utama dengan gulma berjalan lambat dan tak kasat mata. “Tahu-tahu produktivitas melorot hingga 60%,” ujarnya. Pada tanaman semusim efek kehadiran gulma lebih nyata terlihat sehingga pekebun menanggulanginya dengan cepat.
Daun mangga

Wiwik menuturkan Kehadiran gulma juga mengundang serangan hama dan penyakit lantaran menjadi inang. Biji-biji gulma berpotensi mengotori hasil panen sehingga pekebun perlu biaya tambahan untuk membersihkannya.
Menurut Davina Nathania Prasetya dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Lampung, salah satu jenis gulma yang kerap menjadi ancaman adalah rumput teki Cyperus rotundus. Gulma tahunan itu banyak tumbuh di daerah yang tidak terlalu kering, seperti di area kebun, ladang, hingga pinggir jalan. Sebaran gulma yang tergolong sulit diberantas itu luas karena adaptif di dataran rendah hingga daerah berketinggian 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Rumput teki tumbuh subur di tempat berkelembapan 60—85% dan bercurah hujan lebih dari 1.000 mm per tahun.
Hingga saat ini penggunaan herbisida sintetis masih menjadi pilihan utama para pekebun karena dianggap lebih efektif. Namun, penggunaan herbisida sintetik terus-menerus dapat merusak lingkungan, meningkatkan resistensi gulma terhadap herbisida, dan mengganggu kesehatan manusia sehingga perlu pengendalian alternatif. Ternyata pemberantas gulma di kebun mangga bisa berasal dari daunnya. “Serasah daun mangga mengandung senyawa alelokimia yang dapat menghambat pertumbuhan gulma,” ujar Davina. Senyawa alelokimia merupakan senyawa yang dikeluarkan oleh tumbuhan berupa metabolit sekunder golongan terpenoid, fenol, alkaloid, asam lemak, steroid, dan poliasetilen.

Potensi kandungan senyawa itulah yang mendorong Davina meriset efek penggunaan ekstrak daun mangga untuk memberantas gulma rumput teki. Dalam penelitian itu ia menggunakan daun mangga arumanis yang telah dikeringanginkan dan ditumbuk sehingga menjadi bubuk. Ia lalu mengekstrak serbuk daun mangga kering itu menggunakan air dengan cara merendamnya dalam air selama 24 jam (lihat ilustrasi). Setelah itu saring larutan untuk memisahkan endapan serbuk daun mangga.
Jenis lain
Jumlah air yang digunakan untuk mengekstrak daun mangga berbeda-beda untuk memperoleh konsentrasi ekstrak yang akan digunakan untuk perlakuan. Dalam penelitian itu Davina menerapkan 5 perlakuan, yaitu kontrol (konsentrasi 0% atau tanpa disiram ekstrak daun mangga), 5%, 10%, 15%, dan 20%. Selanjutnya Davina menyiramkan 10 ml larutan ekstrak ke permukaan rimpang rumput teki yang ditanam dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Ia mulai mengamati efek ekstrak daun mangga terhadap pertumbuhan tunas rumput teki pada hari ke-7 setelah penanaman. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak daun mangga berkonsentrasi 20% terbukti efektif menghambat pertumbuhan rumput teki.

Ekstrak daun mangga tak hanya efektif untuk mengatasi rumput teki. Hasil penelitian yang dilakukan Elvrina Yulifrianti dari Jurusan Biologi Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, menunjukkan, ekstrak serasah daun mangga berkonsentrasi 35% dapat mencegah perkecambahan biji dan juga pertumbuhan rumput grinting Cynodon dactylon. Daun Mangifera indica itu juga ampuh untuk menghambat pertumbuhan gulma krokot Portulaca oleracea, seperti hasil penelitian Alivia Rachma dari Jurusan Budidaya Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Dalam penelitian itu krokot berumur 2 pekan setelah tanam terhambat pertumbuhannya setelah disiram ekstrak daun mangga segar berkonsentrasi 1.500 ppm. Dengan begitu pekebun mangga tak perlu resah atasi gulma, cukup gunakan serasah. (Imam Wiguna)
Daun Mangga Jadi Herbisida
- Kumpulkan daun mangga arumanis, lalu kering anginkan.
- Tumbuk daun mangga yang sudah kering sampai halus.
- Ekstraksi serbuk daun mangga menggunakan air. Untuk memperoleh konsentrasi 20%, rendam 200 g serbuk daun mangga dalam 1 liter air, lalu biarkan selama 24 jam pada suhu ruang. Aduk sesekali selama penyimpanan.
- Setelah 24 jam, saring larutan dengan kertas saring Whatman dan larutan ekstrak pun siap digunakan.***
