Air kelapa merangsang pertumbuhan tunas dan akar setekan tin.
Trubus — Sebagian besar pehobi memperbanyak tin dengan setek ketimbang cangkok. Dari panjang batang yang sama, setek tin mampu menghasilkan bibit lebih banyak daripada cangkok. Menurut penangkar tanaman buah di Kota Depok, Jawa Barat, Eddy Soesanto, dari satu tanaman tinggi 1 m dengan 10 cabang, hanya menghasilkan 4—7 bibit hasil perbanyakan dengan cangkok. Adapun dengan setek dapat menghasilkan 8—14 bibit.

Menurut pehobi tin di Yogyakarta, Khulub Satria Hadi, perbanyakan tin dengan setek juga lebih cepat ketimbang cangkok. Akar Ficus carica lebih cepat tumbuh sehingga lebih cepat sekaligus lebih banyak menghasilkan bibit. Batang hasil setek hanya memerlukan waktu 12—20 hari untuk menghasilkan akar, sedangkan cangkok sekitar 28 hari. Namun, untuk memperbanyak tin dengan cara setek banyak kendala.
Peran ZPT
Eddy mengatakan, risiko kegagalan setek lebih besar. Tanpa perlakuan khusus, batang setek akan mati kering dan tidak tumbuh. Khulub juga berpendapat serupa. “Saat pertama kali mencoba, tidak langsung berhasil. Saat itu tingkat keberhasilan hanya 10%,” ujarnya.
Setelah Khulub mencoba beberapa kali, keberhasilan meningkat hingga 70%—80%. Menurut Khulub salah satu penentu keberhasilan setek tin adalah pemilihan cabang. Ia memilih batang tua berwarna cokelat, dalam masa dormansi, dan berkambium.
Ahli fisiologi tumbuhan dari Institut Pertanian Bogor, Ir. Edhi Sandra, M.Si., mengatakan, batang bahan setek sebaiknya sudah berkayu dan tidak terlalu tua. “Jaringan pada batang yang terlalu tua sulit berakar, sedangkan jika batang muda, belum berkayu, dan berwarna hijau, lebih rawan rusak jika disetek,” ujar Edhi. Khulub menuturkan penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) juga turut meningkatkan tingkat keberhasilan setek.
Itulah sebabnya sebelum menanam setekan di media tanam, Khulub merendam batang di larutan ZPT sintetis selama 1—2 jam. Tujuannya untuk mempercepat pertumbuhan akar. Selain ZPT yang ada di pasaran, Khulub juga beberapa kali mengganti ZPT dengan air bawang merah. “Bawang merah dihancurkan lalu dimasukkan ke dalam 100 ml air. Air rendaman itu dapat digunakan untuk mengganti ZPT sintetis,” ujar Khulub.

Menurut peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Agustina. E. B.R. Marpaung, S.T.P., bahan alam lain yang dapat digunakan untuk merangsang pertumbuhan akar dan tunas adalah air kelapa. Bahan alami itu bahkan lebih baik daripada ZPT sintetis. Itu terbukti dalam penelitian Agustina dan rekannya, Rina Christina Hutabarat, S.P.. Dalam penelitian itu mereka membandingkan respons bibit tin hasil setek terhadap jenis perangsang tumbuh berbahan alami, yaitu air kelapa dan bawang merah.
Agustina membagi tanaman dalam 6 kelompok. Kelompok I sebagai kontrol, Agustina hanya merendam setekan batang tin sepanjang 20 cm dalam air sedalam 1 cm selama 12 jam. Adapun pada kelompok II ia merendam setekan dalam air kelapa murni (100%), kelompok III air kelapa berkonsentrasi 50%, kelompok IV larutan sari bawang merah 100%, kelompok V sari bawang 50%. Pada kelompok VI, Agustina merendam setekan dalam larutan ZPT sintetis berkonsentrasi 100 ppm sebagai pembanding.
Lebih baik
Hasil penelitian menunjukkan, setekan batang tin yang direndam dalam larutan air kelapa 50% paling cepat memunculkan tunas, yakni dalam waktu 30—60 hari setelah tanam (HST). Menurut Agustina hormon seperti sitokinin yang terkandung dalam air kelapa memacu pertumbuhan tunas dengan memacu pembelahan sel yang diperlukan untuk proses diferensiasi. Pembelahan sel dan morfogenesis merupakan proses yang sangat penting dalam pembentukan tunas.
Bibit yang direndam dalam air kelapa 50% juga pertumbuhan tunasnya lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain pada umur 2 bulan dan 4 bulan setelah tanam. Jumlah daunnya juga paling banyak. Adapun bibit yang direndam dalam sari bawang merah justru paling lambat dan jumlah daunnya paling sedikit. Agustina menuturkan, kandungan hormon sitokinin air kelapa dengan konsentrasi yang sesuai dapat meningkatkan pertumbuhan tunas.
Air kelapa juga mengandung protein, lemak, mineral, dan karbohidrat, yang berperan dalam proses metabolisme sehingga dapat memacu pertumbuhan tunas. Kandungan sitokinin dalam air kelapa juga dapat merangsang sel-sel untuk pembentukan daun. Bibit yang direndam dalam air kelapa 50% dapat tumbuh lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain karena perakarannya juga lebih lebat. Hasil pengukuran menunjukkan bobot basah akar bibit yang direndam dengan air kelapa 50% lebih tinggi daripada perlakuan lain.
Menurut Agustina pembentukan akar dipengaruhi oleh keseimbangan kandungan sitokinin dan auksin. Air kelapa mengandung beberapa hormon tumbuh, seperti sitokinin 5,8 mg/l dan auksin 0,07 mg/l. “Dengan komposisi hormon yang sesuai, maka pertumbuhan akar dari setek tidak terhambat,” ujar Agustina. (Imam Wiguna)
