Pupuk hayati mengandung bakteri dari bintil akar alfalfa meningkatkan produksi padi.

Dr. Nugroho Widiasmadi. (Dok. Trubus)
Trubus — Nugroho Widiasmadi semula hanya menuai 5 ton gabah per hektare. Petani di Kecamatan Tlatar, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, itu memberikan kompos hasil fermentasi yang mendongkrak produksi menjadi 7 ton. Pada penanaman berikutnya, produksi menanjak lagi sampai 10 ton dan terus membubung 12—14 ton gabah kering panen per musim tanam. Di sawahnya Nugroho memberikan 5 ton per ha kompos kambing untuk pupuk dasar.
Ia lalu menyemprotkan pupuk cair berbahan urine kambing sepekan sekali sejak tanaman berumur 2—13 pekan. “Penyemprotan sampai menjelang panen untuk menghalau wereng,” kata Nugroho. Peningkatan produksi itu, “Tidak ada rahasia di dalamnya,” ungkap pegiat pertanian organik, di Kabupaten Boyolali itu.
Berkat alfalfa
Lonjakan produksi itu karena Nugroho Widiasmadi memanfaatkan bakteri Sinorhizobium meliloti yang hidup menumpang di akar tanaman alfalfa Medicago sativa. Ia megisolasi bakteri itu menjadi larutan pupuk hayati yang bisa ngebut merombak bahan organik. Menurut Nugroho, “Isinya pasukan mikrob lengkap yang memiliki fungsi berbeda. Fungsi “anggota pasukan” itu berbeda-beda, ada yang merombak protein, lignin, selulosa, urea, atau kandungan lain kotoran hewan.”
Kultur berisi beragam mikrob itu sejatinya standar dan biasa dijumpai di berbagai pupuk hayati. Keragaman itu wajib lantaran kotoran hewan mengandung berbagai zat yang harus dirombak sebelum menjadi hara. Mikrob rhizobium dari bintil akar alfalfa itu menjadi pembeda utama pupuk hayati racikannya. Rhizobium berfungsi mengikat nitrogen dari udara lalu mengubahnya menjadi nitrogen yang siap diserap tanaman.

juga dekomposer hebat. (Dok. Trubus)
Kemampuan itu membuat rhizobium dari alfalfa menjadi penyedia energi alias “seksi konsumsi” pasukan itu. Menurut doktor bidang Dinamika Fluida alumnus Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat itu parameter standar pupuk adalah daya hantar atau konduktivitas. Konduktivitas pupuk siap pakai minimal 4.000 mikro siemens (mS). Pengomposan dengan pupuk hayati buatannya menghasilkan pupuk dengan konduktivitas 4.000 mS hanya dalam sehari semalam.
“Pagi kita komposkan, besok pagi siap digunakan,” kata dosen di Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim, Kota Semarang, Jawa Tengah. Di Buton Utara, Bambang memilih menunggu sepekan agar kompos benar-benar matang. Larutan mikrob itu juga menjadi andalan petani untuk membuat pupuk cair. Sejatinya mereka mengulang hal yang Nugroho buktikan sebelumnya pada 2005 di sekitar tempat tinggalnya di Kecamatan Tlatar, Kabupaten Boyolali.
Berbeda prinsip
Nugroho menyatakan, untuk membuat pupuk sebenarnya hanya memerlukan kotoran hewan sebagai bahan pupuk padat dan urine untuk pupuk cair. Namun, “Kalau mau menambahkan pupuk cair berbahan air kelapa, gedebok atau batang pisang maupun sabut kelapa lebih baik lagi,” kata ayah 2 anak itu. Ia meneliti alfalfa sejak 2005 setelah melihat tanaman lain yang berjarak 30—50 cm dari alfalfa tumbuh lebih baik. Ternyata biangnya adalah rhizobium khas dalam alfalfa yang berkinerja fantastis.
Dengan bantuan rekan di Yogyakarta, Nugroho lantas mengisolasi mikrob penambat unsur N itu. Ia mengkulturkan isolat murni itu dan menambahkan berbagai mikrob lain yang berbeda fungsi tapi bisa saling bekerja sama. “Simbiosis bermacam bakteri itu bisa menjalankan 11 fungsi penguraian bahan organik,” tuturnya. Itu sebabnya anak sulung dari 2 bersaudara itu menamai pupuk hayati racikannya MA-11. Ia rutin menggunakan pupuk racikannya sejak 2008.
Pupuk hayati itu efektif mempercepat pengomposan semua jenis kotoran hewan ruminansia (sapi, kambing, kerbau, kuda), unggas (ayam, bebek, burung puyuh), sampai kotoran babi. Syaratnya, kotoran hewan harus kering alami. “Kotoran hewan yang sudah dijemur atau dihamparkan di tempat terbuka sehingga terpapar hujan dan panas kehilangan sebagian besar bahan organiknya,” ungkap Nugroho.

Saat para petani di desanya tertarik, Nugroho memberikan pupuk hayati karyanya secara gratis plus mengajarkan cara penggunaannya. Lama-kelamaan perbanyakan dan pengemasan pupuk itu memerlukan biaya sehingga mau tidak mau Nugroho memungut ganti kepada petani yang meminta. Sejak 2012, pupuk hayati berbahan alfalfa itu diadopsi untuk program corporate social responsibility (CSR) salah satu lembaga keuangan negara.
Melalui jaringan pegiat pertanian organik, petani yang menggunakan makin banyak, termasuk Bambang Purniawan dan rekan-rekannya di Buton Utara. Ketika Majalah Trubus mendatangi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Rejeki di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara. Di gudang Gapoktan nitu menghampar serbuk kotoran sapi kering. Lima hari sebelumnya, anggota Sumber Rejeki, Bambang Purniawan, menambahkan pupuk hayati untuk menguraikannya.
Pupuk hayati itu mencerna kandungan bahan organik dalam kotoran sapi menjadi hara yang siap diserap tanaman dalam waktu kurang dari sepekan. Jika penguraian dengan pupuk hayati lain, perlu waktu lebih lama. Pupuk hayati itu tidak hanya mampu mengurai bahan organik menjadi kompos. Anggota Sumber Rejeki rutin meracik pupuk nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), dan biofarm (pestisida nabati) bermodal pupuk hayati itu.
Kualitas tanah

Nugroho menyatakan di setiap provinsi di Indonesia ada petani yang menggunakan pupuknya. Apakah semuanya berhasil menikmati lonjakan hasil panen? Cepat dan tegas ia menjawab, “Tidak. Banyak yang gagal.” Menurut mantan wakil rektor Universitas Wahid Hasyim itu, sebab utamanya adalah petani yang telanjur terbiasa menerapkan sistem konvensional gagal mengubah pola pikir. Menurut Nugroho prinsip pertanian organik mengutamakan perbaikan kualitas tanah, sedangkan budidaya konvensional fokus semata kepada tanaman.
Secara konkret, caranya berbeda. Pupuk organik cair harus diaplikasikan rutin setiap pekan demi hasil terbaik, sementara budidaya konvensional menganjurkan pemupukan sela cukup 2 kali atau 3 kali dengan pupuk dasar. Padahal, “Pupuk cair berbahan urine terfermentasi itu sekaligus menangkal hama padi,” ungkap Nugroho. Jika aplikasinya mengikuti pola anjuran budidaya konvensional, hasilnya tidak maksimal. Di Buton Utara, petani menikmati lonjakan panen dari semula 1—2 ton per hektare menjadi 4—6 ton per hektare.
Angka itu fantastis lantaran keterbatasan air lantaran minimnya jaringan irigasi membuat petani di sana menanam dengan sistem ladang. Salah satu penyebab kenaikan itu lantaran pupuk hayati membuat padi lebih toleran kekurangan air. Bambang juga menerapkan sistem budidaya organik itu untuk menanam tanaman hortikultura. Pupuk hayati itu juga ia gunakan untuk memfermentasi jerami pakan sapi. Itu sebabnya padi organik menjadi salah satu komoditas andalan Buton Utara. (Argohartono Arie Raharjo)
