
Cegah penyakit tular tanah dan Citrus Vein Phloem Degeneration pada jeruk.
Trubus — Semula daun tua layu. Lalu buah-buah jeruk yang masih kecil tiba-tiba rontok bersamaan. Itulah gejala khas serangan penyakit tular tanah akibat cendawan Phytophthora sp. (berasal dari bahasa Yunani, phyto berarti tanaman, dan phthora perusak). “Segera cek kondisi akar,” ujar peneliti di Balai Penelitian Tanman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Dr. Sri Widyaningsih, S.P., M.P.

Jika kondisi akar membusuk, itu tanda tanaman jeruk terserang penyakit tular tanah. Celakanya, penyakit itu membuat tanaman tak berdaya dan berujung pada kematian. Menurut Widyaningsih satu-satunya cara yang efektif menghadapi penyakit tular tanah dengan tindakan preventif atau pencegahan. “Gunakan agen hayati yang mampu membentengi tanaman dari pathogen dan ramah lingkungan,” ujar doktor Fitopatologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu.
Media dedak
Menurut Widyaningsih agen hayati yang efektif melawan phytophthora adalah Trichoderma sp. Trichoderma bekerja dengan melawan patogen penyebab penyakit tular tanah plus meningkatkan kesehatan tanaman. Widyaningsih menuturkan, Trichiderma juga sebagai Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), sehingga mampu menyehatkan kondisi tanaman. “Seperti manusia, jika tubuh sehat maka tidak mudah terserang penyakit,” ujar Widyaningsih.

Cendawan itu mudah diperbanyak dari biang atau isolat di berbagai laboratorium. Balitjestro menyediakan isolat Trichoderma yang bisa diperbanyak lagi menggunakan media dedak atau jagung. Menurut petugas di Laboratorium Fitopatologi Balitjestro, Dina Agustina, S.Si., pilihan lain menggunakan media perbanyakan Potato Dextrose Agar (PDA). Cara memperbanyak Trichoderma dalam bentuk padat melalui dua tahap yaitu penyiapan media dedak dan proses inokulasi (lihat ilustrasi).
Menurut ahli tanah dari Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, Trichoderma berguna untuk tanah dan tanaman secara umum. “Trichoderma mempunyai dua fungsi yaitu memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan agen hayati sebagai imun tanaman,” ujar alumnus Jurusan Ilmu Pertanian, Universitas Justus Leibig, Jerman, itu.

Penyakit lain yang tak kalah menyeramkan adalah Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD). Gejalanya daun mulai mengeras dan mengecil plus berwarna belang-belang kekuningan. Penyakit CVPD akibat bakteri Liberobacter asiaticum pada jaringan floem yang menghambat jaringan itu untuk menyerap nutrisi. Penyakit itu mampu menginfeksi tanaman jeruk sejak dari benih.
“Benih menjadi terinfeksi CVPD jika mata tempel berasal dari tanaman atau Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) yang sakit atau perbenihan di area pertanaman terinfeksi CVPD yang terdapat vector,” ujar Widyaningsih. Harap mafhum, tingkat infeksi melalui grafting mencapai 100% pada 120 hari setelah inokulasi menggunakan mata tempel terinfeksi. Penyebaran CVPD melalui serangga vector kutu loncat.
Tumbuh optimal
Serangga Diaphorina citri itu mulai menyerang tanaman saat fase pertunasan. “Kalau jeruk siem bisa berjenjang, karena fase pertunasannya selalu ada. Kalau pada jeruk keprok sekali setahun,” ujar perempuan kelahiran Sleman, Yogyakarta 17 November 1974 itu. Menurut Dina Agustina penggunaan agen hayati Beauveria bassiana efektif mencegah serangan CVPD sejak fase pertunasan.

“Beauveria berguna untuk mengendalikan vektor kutu loncat. Jika pengendaliannya saat serangga berada pada fase nimfa, pencegahannya bisa berhasil 100%. Kalau serangga sudah memasuki fase imago tingkat keberhasilannya menurun menjadi 60—70%,” ujar alumnus Jurusan Kimia, Universitas Brawijaya itu. Dosis penggunaan Beauveria per satu botol berisi 108 bisa diencerkan menjadi 10 liter.
Penyemprotan sekitar seliter per tanaman, sehingga satu botol bisa untuk 10 tanaman. “Penggunaan Beauviria dan agen hayati lainnya ada prinsipnya makin banyak semakin bagus. Hal itu karena agen hayati bersifat ramah lingkungan plus membantu tanaman agar tumbuh optimal,” ujar perempuan kelahiran 24 Agustus 1981 itu. (Bondan Setyawan)
